Current Issue

Sedekah dan Zakat

Kesehatan

Fakta

Sholat

Latest Comments

    , , , ,


    Sebagaimana diberitakan oleh TV Arab Saudi dan diberitakan kembali oleh RCTI, pada Ahad, 13 Januari 2002, di Arab Saudi yang merupakan daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari bersinar sepanjang hari, telah terjadi suatu fenomena alam yang ajaib, yaitu dengan turunnya salju dengan lebatnya. Tepatnya di daerah Tabuk, 1500 km dari Riyad (Ibukota Arab Saudi) ketebalan salju mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapi titik beku (0 derajat celcius).

    Ternyata tahun-tahun terakhir ini di Jazirah Arab yang notabenenya gurun pasir panas, turunnya salju ini telah sering terjadi, tetapi hal ini ditutup-tutupi atau tidak dipublikasikan secara luas.

    Ada apa gerangan dengan terjadinya fenomena alam tersebut? Bagi umat Islam yang telah memahami ajaran Islam, turunnya salju di arab saudi ini bukan merupakan hal yang aneh, karena hal ini telah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW 1400 tahun yang lalu.

    Ketika para sahabat menanyakan kepada Rasulallah SAW mengenai kapan datangnya hari kiamat, Rasulallah SAW menjawab, "bahwa pengetahuan mengenai datangnya hari kiamat hanya ada pada sisi Allah SWT".

    Tetapi Allah SWT telah memberitahukan tanda-tandanya kepada Rasulullah SAW, antara lain sebagaimana diterangkan dalam salah satu Hadist Rasulullah SAW:

    “Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai (HR Muslim) ”

    Dari Hadist Rasulullah SAW di atas ada beberapa informasi yang didapat:
    1. Informasi datangnya hari akhir / kiamat
    2. Dahulu kala dataran / jazirah Arab pernah menjadi padang rumpur yang subur dan dipenuhi dengan sungai-sungai dan
    3. Nanti, dataran Arab sekali lagi akan menjadi padang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai, sebagai salah satu tanda datangnya hari kiamat.



    Jauh-jauh hari sebelum terjadinya turun salju di Arab Saudi dewasa ini sebagaimana diberitakan di atas, para ilmuan dari King Abdul Aziz University (Arab Saudi) bekerja sama dengan para ilmuan barat dan manca negara telah melakukan penelitian ilmiah mengenai fenomena-fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Salah satunya mengkaji mengenai Hadist Rasulullah SAW di atas.

    Kajian ini antara lain dilakukan bersama dengan seorang orientalis, Profesor Alfred Kroner, seorang ahli ilmu bumi (geologi) terkemuka dunia, dari Department Ilmu Bumi Institut Geosciences, Johannes Gutenburg University, Mainz, Germany. Ketika ditanyakan kepada Prof. Korner oleh para Ilmuan King Abdul Aziz sebagaimana diterangkan dalam Islam dan Sains hal. 25-26 :

    ► Bagaimana Nabi Muhammad SAW bisa mengetahui bahwa dahulu kala jazirah/dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dan dipenuhi oleh sungai-sungai yang mengalir?

    Karena Prof Korner tidak beriman kepada Al-Quran dan Al-Hadist, ia menjawab dengan tuduhan bahwa bisa saja Nabi Muhammad SAW mengetahui hal tersebut dari kitab-kitab lama seperti Zabur, Taurat, dan Injil yang sering menceritakan bahwa dulu di dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dengan banyaknya cerita tentang para pengembala ternak, cerita-cerita tentang kebun anggur dan cerita-cerita tentang pemilik perkebunan yang subur yang sering diceritakan dalam kitab-kitab tersebut. Atau bisa jadi Nabi Muhammad SAW menconteknya dari ilmuan-ilmuan dari Roma pada saat itu.

    ► Menanggapi tuduhan Prof. Korner tersebut, ilmuwan King Abdul Aziz, menjawab OK, anda bisa saja menuduh seperti itu, tapi apakah keadaan dataran Arab yang subur dahulu kala itu bisa dibuktikan secara ilmiah pada masa Nabi Muhammad SAW hidup 1400 tahun yang lalu?

    Prof. Korner menjawab pada masa itu belum dapat dibuktikan, karena sains dan teknologinya tidak memungkinkan.

    ► Apakah hal itu benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan secara ilmiah dengan teknologi canggih dewasa ini? Prof. Korner menjawab ya!

    Dulu dataran Arab dipenuhi dengan kebun-kebun yang subur dan sunga-sungai yang mengalir, dan secara ilmiah keadaan tersebut dapat dibuktikan. Prof Korner menjelaskan bahwa dulu selama Era Salju (Snow Age), kemudian Kutub Utara icebergs perlahan-lahan bergerak ke arah selatan sehingga relatif berdekatan dengan Semenanjung Arab, pada saat itu iklim dataran Arab berubah dan menjadi salah satu daerah yang paling subur dan hijau di muka bumi. Ini merupakan fakta sains yang tidak bisa dibantah.

    ► Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui juga bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai sebagai tanda datangnya hari kiamat, padahal pada masa itu 1400 tahun yang lalu teknologinya belum memungkinkan untuk mengetahui hal tersebut dan informasi tersebut satupun tidak diterangkan baik dalam kitab-kitab terdahulu maupun dalam penelitian ilmuan-ilmuan Roma?

    Prof. Korner menjawab dengan malu-malu, bahwa Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui informasi itu pasti dari sesuatu yang mengetahui betul mengenai alam ini (cuma Prof. Korner mengelak untuk mengatakan secara terus terang bahwa sebenarnya informasi itu datangnya dari Tuhan, Allah SWT yang paling tahu tentang alam ini, karena Dia-lah yang telah menciptakan dan mengaturnya).

    ► Dan apakah informasi yang dikabarkan Nabi Muhammad SAW 1400 yang lalu bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai benar-benar akan terjadi?

    Prof Korner menjawab dengan tegas ya!… karena sebenarnya proses itu sekarang sedang terjadi. Era Salju Baru (New Snow Age) sebenarnya telah dimulai, sekali lagi sekarang salju di kutub Utara sedang merangkak/bergeser perlahan-lahan ke arah selatan mendekati Semenanjung Arab. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta dan sains, dimana tanda-tanda itu tampak dengan jelas di dalam badai salju yang menghujani bagian utara Eropa dan Amerika setiap musim salju tiba. Dan sekarang terbukti bahwa salju telah beberapa kali turun di dataran Arab sebagaimana diberitakan TV Arab Saudi dan RCTI di atas.



    Kejadian di atas merupakan salah satu bukti yang telah dijanjikan Allah SWT bahwa firman-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW dalam Al-Quran dan Al-Hadist adalah benar datang dari Tuhan pencipta alam semesta ini, yaitu Alloh SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :

    “Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi” (QS. Shad :87-88)

    Masih banyak lagi kebenaran tentang fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist yang dikabarkan 1400 tahun yang lalu yang baru terbukti secara ilmiah melalui penelitian sains dan teknologi canggih selama bertahuan-tahun sampai sekarang ini. Seperti kejadian manusia yang diterangkan secara rinci dalam Al-Quran yang baru terbukti secara ilmiah oleh ilmu kedokteran yang canggih dewasa ini, keterangan tentang tata surya kejadian gunung-gunung, kejadian laut dan keberadaan mata air tawar di dasar laut asin yang dalam, keterangan tentang saraf manusia, dan masih banyak lagi.

    Al-Quran merupakan mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan mu’jizat-mu’jizat lain yang diberikan Allah kepada para nabi Allah SWT yang lain. (dunia islam)

    Referensi
    1. United Arab Emirates Mountains Covered In Snow (http://www.huffingtonpost.com)
    2. Snow in Arab Emirates- Really is GW (http://centurean2.wordpress.com)
    3. Cold snap brings Gulf rare snow (http://news.bbc.co.uk)

    http://www.mail-archive.com/itb@itb.ac.id/msg28967.html

    http://tekinfom.wordpress.com/2010/09/03/tanda-datangnya-kiamat-padang-rumput-tumbuh-subur-di-jazirah-arab/


    ,

    Manfaat jahe sangat banyak sekali, terutama khasiatnya yang mampu menyembuhkan berbagai jenis pernyakit. Jahe sendiri adalah salah satu temulawak yang cukup populer hingga ke luar negeri, hal ini terjadi karena "manfaat jahe" yang sangat banyak sekali. Oleh kerena itulah banyak kita temukan berbagai macam obat yang dibuat dari ektrak jahe.

    Biasanya yang kita tahu  "manfaat jahe" adalah sekedar sebagai minuman penghangat tubuh saja. Akan tetapi sebenarnya ada banyak sekali khasiat jahe yang mengkin tidak kita duga. Berdasarkan penelitihan para ahli kesehatan, telah ditemukan beberapa manfaat jahe bagi kesehatan diantaranya.

    Mencegah Perut Buncit

    Dengan mengkonsumsi jahe sebelum makan mampu mencegah terjadinya perut buncit. Hal ini dikarenakan jahe sendiri mengandung metabolismedan memperlancar pencernaan. Dengan adanya peningkatan metabolisme tersebut, akan mempercepat pembakaran kalori dan meratakan perut buncit.<br />

    Membuat Tubuh Menjadi Perkasa

    Kandungan senyawa yang terdapat pada jahe memiliki sifat inklamasi yang sangat efektif membangun otot. Berdasarkan penelitian, mengkonsumsi jahe secara teratur membantu mengurangi rasa sakit pada otot yang disebabkan kaena latihan fisik.

    Sebagai Obat Jerawat

    Salah satu penelitian yang dilakukan di Universitas Maryland Midical Center, untuk membantu mecegah timbulnya jerawat dianjurkan untuk mengkonsumsi jahe maksimal 4 gram per hari. Karena jika mangkonsumsi jahe pada dosis yang tinggi mampu menyebabkan efek samping seperti iritasi, mules, dan diare.

    Menurunkan Berat Badan

    Jahe berfungsi melebarkan pembuluh darah membakar kalori menjadi panas tubuh. Selain itu jahe hanya mengandung sedikit kalori sehingga tidak berkontribusi menaikkan berat badan anda. Seduhan wedang jahe sangat baik bagi kesehatan dan metabolisme tubuh.

    Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

    Seperti yang telah di sebutkan di atas, jahe memiliki kemampuan melebarkan pembuluh darah dan merangsang pelepasan hormon adrenalin. Oleh karena itulah darah akan mengalir lebih cepat dan menurunkan tekanan darah tinggi anda.

    Membersihkan Kotoran di Dalam Tubuh

    Jika kita sering mengkonsumsi jahe dengan cara diseduh, biasanya kita akan berkeringat. Melalui keringat itulah dikeluarkan begagai kotoan jahat yang ada di dalam tubuh.

    Mencegah Penggumpalan Darah

    Di dalam jahe terkandung senyawa yang bernama gingerol. Gingerol ini merupakan salah satu senyawa yang mempu mencegah penggumpalan darah karena akan berubah menjadi antikoagulan.


    , , , , ,
    ”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.“ (Q.,s.58/al-Mujaadalah:22).

    Menurut beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.

    Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah

    Ibnul Jarrah adalah seoerang panglima yang cerita kemenangan dan suksesnya menjadi pembicaraan dunia. Ia adalah seorang yang mengesampingkan gemerlapnya dunia yang palsu dan menerjunkan dirinya ke dalam berabagai medan perang mencari mati syahid, tetapi selalu saja Allah memberinya hidup.

    Dia seorang yang kuat yang dapat dipercaya, yang pernah dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi guru di Najran dan salah seorang diantara sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

    Dia adalah soerang panglima yang pernah memohon kepada Allah supaya hari terakhirnya ditentukan di tengah-tengah tentaranya. Allah berkenan mengabulkan permohonannya itu.

    Itulah garis-garis besar kepribadian amiinul ummah “kepercayaan umat Islam”, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, penyebar kalimat “Allahu Akbar” di negeri Syam dan sekitarnya.

    Ada orang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar, “bagaimana dengan Ibnul Jarrah?”.

    “Rahimahullah! Dia seorang yang selalu berwajah cerah, baik akhlaknya dan seorang pemalu”, jawab Abdullah.

    Sejarah tidak mencatat masa-masa mudanya bersama dengan rekan-rekan sebayanya, tetapi sejarah merekam semua langkahnya ketika menuju ke Baitul Arqam, bergabung dengan kelompok orang-orang Mukmin yang telah memilih Islam sebagai agamanya, beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, dan menerima Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan rasulNya.

    Menurut sejarah, Ibnul Jarrah tergolong orang pertama y ang menyambut seruan Islam. Ia bersama beberapa orang rekannya; Utsman bin Mazh’un, ‘Ubaidah ibnul Harits bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Salamah bin Abdul Asad, pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau membukan sekolah dan dakwahnya di Darul Arqam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membentangkan apa-apa yang berkenaan dengan agama itu, lalu mereka menerima tawaran itu dengan puas dan ikhlas. Sejak saat itulah, ia dan rekan-rekannya itu menjadi manusia baru, seakan-akan terputus hubungannya dengan manusia lama yang bergelimang kejahiliahan dalam keyakinan dan penyembahan berhala.

    Pada waktu kaum Quraisy memaklumkan perang terhadap kelompok orang mukmin yang tiada berdaya dan berdosa, dengan melakukan pengejaran dan penyiksaan di luar abatas kemanusiaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan izin kepada kelompok itu berhijrah ke Habasyah. Diantara para Muhajirin yang menyelamatkan agamanya dari keganasan kaum Quraisy itu ialah Abu ‘U baidah ibnul Jarrah.

    Meskipun sambutan dan penerimaan raja Habasyah sangat baik terhadap mereka, mereka diterima dengan hormat dan didekatkan dari majelisnya, semua kebutuhan dan hajat keluarganya dipenuhi, baik moral maupun material, namun semua itu tidak berarti bagi mereka daripada kehidupan di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ; setiap hari mengikuti pelajaran dan bimbingannya, dalam upaya mempertebal keimanannya. Tidaklah heran, ketika mereka mendengar berita bahwa telah dicapai kesepakatan antara Muhammad dan kaum Quraisy, berita gembira itu membangkitkan semangat mereka untuk segera pulang kembali ke Mekkah tanpa mengecek kebenarannya lagi. Setibanya mereka disana, mereka malah mendapat penyiksaan yang lebih ganas dari kaum Quraisy, sampai ada diantaranya yang tewas oleh dendam hitam yang memenuhi lubuk hati musuh terhadap tunas dakwah yang baru merintis itu.

    Akibat teror ganas kaum Quraisy itu, penduduk kota Mekkah hidup dalam ketakutan dan kegelisahan yang tiada terperikan. Ibnul Jarrah tak lama tinggal di Mekkah, begitu pula rekan-rekannya yang lain. Kaum Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berhasil keluar menembus kepungannya dan pergi berhijrah ke Yatsrib, tempat yang dijadikan model dan landasan bertolak nya Islam dan kaum Muslimin, negara tempat menggembleng para pahlawan, negarawan, alim ulama yang akan dilepaskan ke seluruh penjuru dunia untuk membimbing dan memimpin umat manusia ke jalan Tuhan Yang Maha Satu, dengan rasa puas dan ikhlas.

    Jalan antara Mekkah dan Yatsrib menjadi saksi ketika Ibnul Jarrah melepaskan kendali kudanya menggulung bumi dan bersaing dengan angin, mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya ke Yatsrib. Ketika sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah, ia hampir tidak dikenal lagi karena debu padang pasir yang ditempuh tanpa henti hampir menutupi wajahnya. Setiba di sana, ia disambut baik oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az.

    Saad bin Mu’az adalah orang yang telah mempersembahkan diri dan harta bendanya di jalan Allah dan tidak sudi berkompromi dengan kaum Yahudi, sesudah mereka mengkhianati perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ia terluka parah dalam perang Ahzab. Ia memohon kepada Allah Ta’ala agar jangan dimatikan sebelum matanya puas melihat Yahudi Bani Quraizhah dihukum. Ternyata, Allah mengabulkan doanya. Bani Quraizhah menolak keputusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan minta diputuskan oleh Sa’ad bin bin Mu’az, bekas sekutu mereka. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta supaya Sa’ad memberikan keputusannya. Diputuskanlah; semua laki-laki Bani Quraizhah dibunuh, kaum wanita dan anak-anaknya ditawan dan harta bendanya dirampas.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar atas keputusan Sa’ad itu, “engkau telah memberikan keputusan dengan hukum Allah dari atas langit yang ke tujuh”.

    Sejak menginjakkan kakinya di Yatsrib, sejak itu pulalah Abu ‘Ubaidah mnganggap bumi itu sebagai tanah air agama dan dirinya yang harus dipertahankan mati-matian. Ia melakukan tugas kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak pernah absennya di semua peperangan bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam .

    Dalam perang Badar, ia selaku tentara, harus senantiasa patuh kepada perintah panglimanya. Sebagai seorang mukmin, ia mempunyai pandangan, sikap dan garis tegas yaitu bahwa semua yang berperang di bawah panji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengucapkan kalimat tauhid, mereka adalah saudara, keluarga dan kawan-kawannya, meskipun berbeda asal-usul, warna kulit dan darahnya. Semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka, mereka adalah musuh aqidah dan lawan dirinya, meskipun mereka keluarga terdekatnya.

    Dengan logika dan pemahaman seperti itu terhadap aqidah dan agamanya, dan perannya sebagai seorang mukmin, maka ketika ia melihat ayahnya ikut menghunus pedang di tengah-tengah pasukan kaum musyrikin, membunuh saudara-saudaranya sesama mukmin, majulah ia menghampirinya, tetapi ayahnya menghindarinya. Walaupun demikian, ia mengejarnya dan memberikan pukulan yang mematikan.

    Ayahnya adalah kafir, menyekutukan Tuhannya dengan yang lain; kafir terhadap Tuhan Yang menciptakannya; ia mengangkat senjata hendak menumpas agama Tuhannya dan para pendukung agama tersebut. Oleh karena itu, ia sudah tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Siapa yang hidupnya sudah tidak berguna bagi Tuhannya niscaya tidak berguna juga bagi seluruh umat manusia.

    Dalam perang Uhud, ketika peperangan itu sudah mencapai puncaknya, dimana pihak musuh sudah berhasil mengepung ketat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau sebagai sasaran tunggal anak panah dan senjata lainnya, Abu ‘Ubaidah dan beberapa orang rekannya menghunus pedangnya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan ganas musuh sehingga darah mengucur dari wajah beliau dan beliau mengusahpnya dengan tangan kanannya seraya mengucapkan, “Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya lerluka wajahnya?”.

    Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallâhu ‘anhu melukiskan peran yang dimainkan Abu ‘Ubaidah dalam perang Uhud itu, “pada waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkena dua kali bidikan anak panah pada tulang pipinya, lalu aku segera pergi menghampirinya. Ternyata dari sebelah timur ada orang lain yang mendahuluiku, menghampirinya dengan cepat pula. Aku berkata, “Ya Allah, jadikanlah hal itu sebagai kepatuhan kepada Mu”.

    Sesudah itu, sampailah aku di dekat Rasulullah. Aku melihat Abu ‘Ubaidah sudah sampai terlebih dahulu, lalu ia berkata, “Ya Abu Bakar, aku mohon kau membiarkan aku melepaskan panah itu dari wajah Rasulullah !”. Aku membiarkan Abu ‘Ubaidah melepaskan mata anak panah itu dengan gigi depannya dan ia berhasil mencabutnya, tetapi ia terjatuh ke tanah dan giginya pun patah.

    Selanjutnya, ia mencabut mata anak panah yang kedua hingga gigi depannya yang satunya patah juga. Sejak itu, Abu ‘Ubaidah ompong gigi depannya.

    Dalam perang Dzatus Salaasil, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskannya memimpin pasukan para shahabatnya (diantaranya Abu Bakar dan Umar) sebgai bala bantuan untuk Amru bin Ash. Setibanya pasukan itu, Amru berkata kepadanya, “Ya Aba ‘Ubaidah, kau didatangkan sebagai bala bantuan untuk pasukanku”.

    Abu ‘Ubaidah menjawab, “Tidak.. Aku dengan pasukanku dan kamu dengan pasukanmu, masing-masing memimpin pasukannya”.

    Amru bin Ash menolak adanya banyak pemimpin, ia tetap menganggap pasukan Abu ‘Ubaidah yang baru datang itu harus ada di bawah pimpinannya sebagai bala bantuan.

    Abu ‘Ubaidah berkata, “Ya Amru, Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku , kalian berdua jangan berselisih!. Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu!”.

    Alangkah indahnya kata-kata dan sikapnyaitu?”.

    Demikianlah, Islam berhasil menciptakan manusia model, insan kamil yang diasuh Tuhannya, ruh dan kalbunya dimumikan dari sifat-sifat kebumian dan keremehan manusiawi.

    Alangkah jujurnya kata-kata itu dalam nilai kejantanan seseorang, “kalau kau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”, pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin dan agama Islam menuntut persatuan dan kekompakan.

    Pada suatu waktu, datanglah perutusan dari Najran kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta supaya bersama mereka dikirimkan seorang agama, mengajarkan hukum-hukum syariat kepada mereka, dan merangkap sebagai penengah (hakim) apabila terjadi perselisihan antara mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjanji kepada mereka, “nanti malam, kalian datang kembali, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya”.

    Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, “aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu apda waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, lalu beliau berseru: “kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya”.

    Demikian keterangan yang jujur dari Umar ibnul Khaththab.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah”.

    Tepat sekali sebda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, ibnul Jarrah adalah seorang kepercayaan dalam akhlaknya, tidak seorang muslimpun merasa dirugikan olehnya.

    Ia kepercayaan dalam agamanya, ia berusaha keras menggalakkan dakwah secara merata. Ia kepercayaan dalam memelihara batas-batas negara sehingga semua pihak menghargai kewibawaan dan kekuasaannya.

    Bagaimana tidak demikian, dia adalah salah seorang dari sepuluh orang pertama yang masuk Islam dan salah seorang dari sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

    Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, banyak orang yang datang hendak membaiat Abu ‘Ubaidah menjadi khalifah, tetapi ia menjawab, “apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga”.

    Yang ia maksudkan adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakar di Gua Hira’, “Di waktu dia berkata kepada temannya,’janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita”. (Q,,s. at-Taubah: 40).

    Pada waktu itu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu termasuk salah seorang yang datang kepadanya, seraya berkata, “ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kau, hai kepercayaaan umat, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “.

    Abu ‘Ubaidah, menjawab, “belum pernah aku meolihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaiatku, sedangkan ash-Shiddiq, shahabat kedua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira’, ada di tengah-tengah kita?”.

    Rupanya teguran Abu ‘Ubaidah itu menyadarkan Umar. Ia lalu mengirimkan orang untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, Ummul Mukminin, lalu ketiganya pergi ke Saqifah Bani Saa’idah. Setibanya disana, mereka mendapatkan kaum Anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar bertanya keheranan, “ada apa ini?”.

    Mereka menjawab, “dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir”.

    Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: “para amir dari kami dan para wazir (menteri) dari kalian”. Sambutnya lagi, “aku setuju kalau kalian mengangkat salah seorang diantara dua orang ini; Umar ibnul Khaththab dan Abu ‘Ubaidah, kepercayaan umat ini”.

    Kedua orang itu menyatakan, “Tidak mungkin ada seorangpun yang mengungguli kedudukanmu, ya Aba Bakar!”. Keduanya lalu membaiatnya.

    Itulah para pengikut dan shahabat Muhammad, yang telah mendapatkan gemblengan Al-Qur’anul Karim dan mendapatkan rintisan tata cara hidup melalui petunjuk dan pengajarannya.

    Suatu waktu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu selaku khalifah Islam mengangkat Abu ‘Ubaidah menjadi komandan pasukan kaum muslimin di Syam, menggantikan Khalid bin Walid . Pada waktu itu, Khalid sedang ada di medan perang menggempur musuh-musuh Islam. Ia tidak segera memberitahukan berita pengangkatannya dan pemecatan Khalid itu, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya. Sesudah Khalid mendengar berita pemecatannya dan pengangkatan Abu ‘Ubaidah sebagai penggantinya maka dalam serah terima jabatan itu, Khalid berkata, “kini, telah diangkat untuk memimpin kalian kepercayaan umat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah”.

    Abu ‘Ubaidah menyambut perkataan itu, “aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Khalid adalah salah satu dari pedang-pedang Allah, ya pemuda idaman”.

    Itulah jabatan kepanglimaan, tetapi tidak menyombongkan mereka. Itulah kepangkatan dan jabatan tinggi dunia, namun mereka tidak lupa daratan karena risalah atau misi mereka terbatas dan tugas mereka jelas, seperti yang dikatakan Rabi’ bin Amir, “Allah telah mengirimkan kami untuk mengeluarkan orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya, dari mengabdikan diri kepada hambaNya kepada pengabdian diri kepada Allah semata”.

    Kalau jabatan dan kepangkatan tidak bisa menggiurkan dan menggugurkan mereka, begitu pula dengan bujuk rayu dunia lainnya.

    Pada suatu waktu, Umar ibnul Khaththab mengirim uang kepada Abu ‘Ubaidah sebesar empat ribu dirham dan empat ratus dinar, lalu ia berpesan kepada pesuruhnya, “perhatikan apa yang dilakukannya”.

    Sesudah uang itu dibagi-bagikan, pesuruh itu melaporkan kepada khalifah Umar. Umar berkata: “Alhamdulillah, yang menjadikan dalam kalangan kaum muslimin orang yang melakukan hal itu”.

    Ketika khalifah Umar datang ke negeri Syam, ia dijemput oleh para perwira militer dan pejabat sipil. Ia bertanya, “mana saudaraku?”.

    Mereka bertanya keheranan, “siapa dia, ya Amiral Mukminin?”.
    Ia menjawab,”Abu Ubaidah”.
    Mereka menjawab, “Ia segera datang”.

    Tak lama, ia datang dengan menunggang seekor unta, lalu ia memberikan salam kepada khalifah. Khalifah lalu memerintahkan para penyambutnya pulang kembali dan membiarkannya bersama Abu ‘Ubaidah. Keduanya pergi ke rumah Abu ‘Ubaidah. Setiba di sana, Khalifah Umar tidak melihat sesuatu apapun selain pedang dan perisainya. Umar bertanya kagum, “mengapa kau tidak memiliki sesuatu?”.

    Abu ‘Ubaidah menjawab, “ya Amiral Mukminin, ini pun akan menghantarkan kita ke tempat peristirahatan kita”.

    Umar tidak melihat perabotan dan perhiasan mewah di rumahnya karena ia bukan seorang yang senang duduk-duduk di rumah, tetapi seorang lapangan yang selalu memandang jauh kepada apa yang ada di balik kehidupan ini. Adapun orang-orang yang suka bergelimang dalam kesenangan hidup, mereka sudah terperangkap jaringan setan yang sulit untuk membebaskan dirinya. Dia tahu menempuh jalan hidup dunia menuju perumahan kehidupan abadi di akhirat.

    Kalau demikian watak keras dan kuat Abu ‘Ubaidah menghadapi kehidupan ini, mendalam pengertiannya menempuh hidup dan menghadapi orang hidup, konsekuen mempertahankan kebenaran, maka dengan sendirinya ia tidak akan sudi berkompromi dengan kebatilan dan bermanis-manis dengan kecurangan, tidak peduli kedudukan dan asal-usul seseorang yang dihadapannya.

    Pada suatu hari, Jabalah ibnul Aiham, raja Ghassan, masuk Islam, sesudah menerima baik surant Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengundangnya untuk menganut agama itu. Pada suatu waktu ia berjalan di pasar kota Damaskus, tiba-tiba kakinya menginjak kaki Muzniah, lalu ia langsung menampar Jabalah. Muzniah lalu digiring kepada Abu ‘Ubaidah untuk diadili. Mereka berkata, “tuan Hakim, orang ini telah menampar raja Jabalah”.

    “Dia harus ditampar juga!”.
    “Apa tidak dibunuh?”.
    “Tidak”.
    “Apa tidak dipotong tangannya?”.
    “Tidak, Allah hanya memerintahkan dilakukan qishash, ditindak sama dengan perbuatannya”.

    Jabalah berkata, “apakah kalian mengira aku mau menjadikan wajahku perumpamaan bagi wajah nenek moyangku?”. Ia lalu meurad kembali menjadi Kristen dan pergi menyeberang bersama kaumnya ke negeri Romawi.

    Negeri Syam hamnpir seluruhnya ditaklukkan, tinggal beberapa buah benteng musuh yang masih dipertahanka. Ketika pasukan Islam di bawah pimpinan panglimanya, Abu ‘Ubaidah, hendak memulai pertempuran baru untuk merebut benteng-benteng yang masih dipertahankan musuh itu, tiba-tiba terjadi serangan penyakit menular hebat di kalangan pasukan kaum muslimin. Mendengar berita mengerikan itu, Khalaifah Umar ingin menyelamatkan Abu ‘Ubaidah dari cengkeraman maut itu, lalu ia menulis surat memerintahkan supaya ia keluar dari negeri itu. Isi surat itu antara lain:

    “Salam sejahtera kepadamu. Lain dari itu, akau ingin menawarkan sesuatu kepadamu, harapanku apabila engkau menerima suratku ini supaya lekas-lekas datang menghadapku !”.

    Abu ‘Ubaidah paham maksud Khalifah itu, lalu ia membalasnya,

    “Ya Amiral mukminin, aku sudah paham maksudmu. Aku ada di tengah-tengah pasukan kaum muslimin, tidak bermaksud mengutamakan keselamatan diri atau memisahkan diri dari mereka, hingga Allah menentukan apa yang Dia kehendaki terhadapku dan mereka, dan bebaskanlah aku dari tawaran dan harapanmu itu!”.

    Abu ‘Ubaidah rahimahullah wafat karenba penyakit menular itu pada tahun 18 H dalam usia 58 tahun.

    Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kalau usia Abu ‘Ubaidah lanjut, akau akan mengangkatnya menjadi penerusku. Kalau Allah bertanya, atas dasar apa kau mengangkatnya, aku akan menjawab, “aku pernah mendengar Nabi-Mu mengatakan “Dia kepercayaan Umat ini”.

    Sebab Turunnya Ayat

    Firman Allah,
    “Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang itu ayah-ayah, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dariNya…”. (Al-Mujaadalah: 22).

    Dikatakan diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah radhiallâhu ‘anhu ketika ia membunuh ayah kandungnya dalam perang Badar.

    Ada lagi sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada sekelompok orang Islam pertama, yang mengatakan dengan tegas bahwa ikatan aqidah bagi mereka lebih utama daripada ikatan keturunan dan keluarga. Bagi mereka, ikatan aqidah merupakakn ikatan berbagai macam warna kulit, bangsa dan kedudukan, dihimpun dalam suatu kekeluargaan yang saling mengasihi dalam wadah umat, di bawah pimpinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bimbingan kalamullah:Al-Qur’anul Karim.

    Mereka mengatakan juga bahwa firmanNya,”….sekalipun orang itu ayah-ayah…”, diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah ketika ia membunuh ayah kandungnya sendiri, dan kalimat “…..atau anak-anak….” Diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallâhu ‘anhu ketika ia mengejar anaknya sendiri, Abdurrahman bin Abu Bakar, hendak membunuhnya; dan kaomat, “…ataupun keluarga mereka….”diturunkan berkenaan dengan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu yang membunuh keluarganya sendiri dalam perang itu. Juga diturunkan berkenaan dengan Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib dan ‘Ubaidah ibnul Harits, semuanya telah bertarung dalam perang itu dan membunuh keluarganya sendiri, antara lain: Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan al-Walid bin Utbah.

    Sebagai pelengkap dari ketegasan sikap iman kaum muslimin itu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan para shahabatnya tentang tindakan yang kan dilakukan terhadap para tawanan perang Badar itu, Abu Bakar ash-Shiddiq mengusulkan, “mereka diberi kesempatan menebus dirinya, untuk memperkuat dana perjuangan kaum muslimin dan juga mengingat mereka masih merupakan sanak keluarga. Diharapkan, sikap lunak itu akan menggugah hati mereka menemukan hidayah Allah”.

    Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu berpendapat, “aku tidak sependapat dengan yang lain, ya Rasulullah! Berikanlah kesempatan kepadaku membunuh keluargaku sendiri. Ali sudah berhasil membunuh saudaranya sendiri, Aqil. Si fulan sudah membunuh keluarga kaaribnya sendiri untuk dibuktikan kepada Allah bahwa dalam hati kita tidak terdapat lagi keakraban dan rasa kasihan dengan kaum musyrikin”.
    Setelah percakapan itu, turunlah ayat tersebut.

    Renungan

    Dalam waktu relatif singkat, Islam berhasil memurnikan kejiwaan umat Islam dan menghilangkan cemar dan kotoran yang semula bermukim dalam batinnya, sehingga ia menjadi manusia baru, tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berkhianat, tidak curang, tidak suka memata-matai orang lain, ikhlas kepada aqidahnya lebih dari ikhlashnya kepada dirinya, patuh kepada perintah Allah dan RasulNya, setia kawan dan cinta kepada sesama saudaranya dalam Islam lebih dari setia kawannya terhadap keluarga dan kerabat sendiri, selama mereka tidak Islam.

    Ketika firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 24 diturunkan (Katakanlah, ‘jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq’). Sejak itulah kaum Muslimin mengesampingkan semua kelezatan. Kelemahan insani terhadap ayah, anak, isteri, keluarga, harta kekayaan dan semua tuntutan hajat kemanusiaan, mereka letakkan semua itu diatas piring timbangan; kecintaaan kepada Allah, RasulNya, dan jihad di jalan Allah, mereka letakkan diatas piring timbangan yang lain. Ternyata, kecintaan mereka lebih berat kepada yang kedua. Dengan sendirinya, jiwa mereka menjadi terhormat dan meningkat, tidak suka bergelimang dengan nafsu hewani dan melepaskan diri dari keterikatan sifat bumi.

    Berikut ini contoh-contoh yang kami kutip dari sejarah kaum muslimin.
    Umar bin Sa’ad diasuh oleh bapak tirinya, Jullas bin Suwaid ibnush Shamit, setelah ayahnya wafat.
    Pada suatu hari, ia mendengar Jullas menyerang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata-kata yang pedas, lalu ia menegur ayah tirinya itu, “Demi Allah, ya Jullas, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang paling murah hati dan orang yang paling aku sayang jangan sampai terkena malapetaka. Akan tetapi, engkau mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Kalau aku melawanmu, itu akan membuat kamu malu, tapi kalau aku diam, agamaku akan rusak dan kedua-duanya berat bagiku…”

    Ia lalu meninggalkan rumahnya, pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan soal Jullas kepada beliau. Demikianlah ia memenangkan ikatan agama diatas ikatan kekeluargaan dan dunia, meskipun ia menghadapi risiko kekurangan dan kelaparan.
    Ketika Zaid bin Datsinah hgendak dibunuh oleh kaum Quraisy, Abu Sufyan bin Harb menawarkan pembebasan kepadanya, “aku mengharap kau menjawab karena Allah, ya Zaid! Apakah kau senang sekiranya Muhammad ada disini menggantikan tempatmu dan kami penggal batang lehernya sedangkan kau akan kami bebaskan tinggal bersama keluargamu?”.
    Zaid menjawab dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak suka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam terikena tusukan sebuah duri sekalipun dan kau bebas di tengah-tengah keluargaku”.
    Komentar Abu Sufyan kepada kawan-kawannya, “aku belum pernah melihat seseorang yang mencintai orang lain seperti para shahabat Muhammad kepada Muhammad”.
    Kemudian mereka membunuh Zaid . Zaid syahid, namun, “sekolah keimanan” berhasil mengeluarkan ribuan kaum muslimin yang men cintai agama dan RasulNya lebih dari dirinya sendiri.
    Dalam sebuah pertempuran, seorang Anshar bertengkar dengan seorang Muhajirin, lalu Abdullah bin Ubay, tokoh tertinggi kaum munafik, mengancamnya, “kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya”.

    Banyak orang Islam menawarkan diri untuk membunuh Abdullah bin Ubay, tetapi Rasulullah selalu menolaknya. Sabdanya kepada Umar ibnul Khaththab, “ya Umar, bagaimana kata bangsa Arab kelak, Muhammad membunuh shahabatnya sendiri”.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memanggil putra Abdullah bin Ubay seraya bertanya, “apakah kau mendengar apa yang dikatakan ayahmu?”.
    Ia balik bertanya keheranan, “apa katanya, ya Rasulullah?”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia mengatakan, ‘kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya”.
    Ia lalu berkata dengan gusar, “Allah dan RasulNya Maha benar, dan engkau, ya Rasulullah, demi Allah adalah orang terhormat dan mulia, dan dia adalah orang yang terhina. Sebenarnya penduduk kota Yatsrib tahu bahwa tidak seorang pun yang paling kasih sayang kepada kedua orang tuanya lebih dari aku, namun kalau Allah dan RasulNya menghendaki, aku siap membawa kepala keduanya kesini”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “jangan!”.

    Ketika pasukan kembali ke Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay berdiri di pintu masuk kota Madinah dengan pedang terhunus, menantikan kedatangan ayahnya, seraya berkata, “ayahkah yang mengatakan, kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang terhina? Demi Allah, kini, ayah akan mengetahui apakah orang yang terhormat itu ayah atau Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan ayah masuk kota kecuali dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam …”.

    Abdullah bin Ubay melaporkan hal itu kepada kabilahnya, al-Khazraj, “anakku melarangku kembali ke rumah!”. Ia mengulang kata-katanya dengan sedih.
    Berdatanganlah kaum muslimin kepada sang putra Abdullah bin Ubay supaya ia memperkenankan ayahnya masuk kota dan kembali ke rumahnya. Akan tetapi, ia malah bersikeras, “Demi Allah, dia tidak akan bisa masuk kota Madinah kecuali dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “.

    Beberapa orang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan peristiwa tersebut. Rasulullah bersabda, “pergilah dan katakan kepadanya supaya ayahnya dibiarkan kembali ke rumahnya!”.
    Sesudah ia mendengar perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berulah ia membiarkan ayahnya masuk ke dalam kota dan kembali ke rumahnya, seraya berkata, “kalau perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan ia masuk, baiklah!”.
    Kejadian semacam itu tidak hanya terjadi di kalangan kaum lelaki saja, tetapi di kalangan kaum perempuannya juga.
    Pada suatu waktu, Abu Sufyan pergi ke Madinah karena ada suatu urusan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . Ia pergi menemui puterinya yang juga isteri Rasulullah, Ummu Habibah. Setiba di sana, ia hendak duduk diatas sebuah permadani, tetapi Ummu Habibah menarik dan melipatnya. Abu Sufyan keget dan gusar, “puteriku! Aku tidak mengerti, apakah kau lebih menghargai ayahmu atau permadani itu?”.

    “Bukan begitu, Ia permadani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayah seorang musyrik dan najis”, jawab Ummu Habibah.
    Begitulah sikap wanita muslimah terhadap ayahnya sendiri, dihadapi dengan kata-kata benar dan tegas, menggugurkan pribahasa “semua wanita kagum pada ayahnya”.
    Ia tampar hakikat sikap ayahnya; orang-orang yang musyrik itu najis “at-Taubah:28).
    Jadi, selama ia tetap pada sikapnya, tidak mungkin ia menyentuh permadani itu, apalagi duduk diatasnya, meskipun ia bernama ayah yang memiliki berbagai hak dan kewajiban utama.

    Bukan semata-mata cinta, bukan hanya penghormatan dan sopan santun di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mereka berikan karena beliau telah mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, berjasa membebaskan mereka dari penyembahan berhala kepada penyembahan Yang Maha Satu, malah lebih hebat dari itu, mereka mempersembahkan nyawanya murah sekali demi melindungi Rasulullah.
    Dalam perang Uhud, Abu Dujanah menjadikan punggungnya sebagai perisai, melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan panah musuh. Ia tidak bergerak sedikit pun hingga Rasulullah berhasil diselamatkan. Apabila beliau selamat, mereka tidak mengindahkan apakah anak panah tersebut mengenai perut atau punggungnya.

    Itulah yang mereka lakukan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . Begitu pula mereka lakukan dalam membela agama, mereka tidak mempedulikan apa pun selain ingin memenangkan agama itu, ingin meninggikan kalimat Allah Ta’ala, berapapun harga yang harus dibayar. Apa yang terjadi dalam perang Badar adalah suatu bukti kesetiaan mereka terhadap agamanya, meskipun harus berhadapan dengan ayah, anak, saudara dan keluarga demi mempertahankan prinsip.

    Abu Bakar ash-Shiddiq di barisan kaum muslimin, sedangkan putranya, Abdurrahman, di pihak kaum musyrikin; begitu pula Utbah bin Rabi’ah bersama kaum Quraisy, sedangkan putranya, Abu Huzaifah, bersama kaum muslimin.

    Abdurrahman bin Abu Bakar berkata kepada ayahnya sesudah masuk Islam, “ayah selalu mengincarku dalam perang Badar dan aku selalu mengelak”.

    Ayahnya menjawab, “Demi Allah, kalau aku bertemu dengan kau, aku tidak akan mengelak”.

    Dalam peperangan ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah membunuh ayah kandungnya. Bukan karena ia ingin membunuh ayah kandungnya, tetapi karena ia seorang musyrik. Ketika ia mengayunkan pedangnya, seolah-olah ia menebas dan menumbangkan sebuah patung berhala, menumpas kesesatan yang menguasai umat manusia beberapa lamanya sehingga terjerumus mengabdikan diri kepada batu, pepohonan, bintang, dukun, jin dan lain-lain, dan memperkenalkan keimanan yang sebenarnya ke jalan yang menembus kalbu.

    ,


    Kisah  seorang ilmuwan yang unik. Dia berbeda dengan ilmuwan yang lain, tetapi pada saat yang sama, dia anggota dari kelompok  ilmuwan. Namanya adalah Profesor Siaveda, salah satu anggota ahli geologi dari Jepang. Dia juga salah satu ilmuwan terkenal dunia. Pemikiran Profesor Siaveda dipenuhinya dengan beberapa distorsi dan kecurigaan tentang semua agama. Memang benar apa yang dia katakan yang berkenaan dengan semua agama, kecuali Islam, sebab Islam berbeda dengan semua agama yang ia bicarakan.

    Ketika kami(sumber) bertemu dengannya, dia berkata kepada kami: “Anda belajar agama yang semua ada di dunia seharusnya Anda menjaga dengan menutup mulut Anda selamanya.” Kami menjawab: “Tetapi mengapa, Profesor, mengapa?” Dia menjawab: “Sebab, jika Anda berbicara, Anda menyebabkan perang yang berkobar antara keseluruhan manusia di dunia”. Kami bertanya kepadanya: “Mengapa persekutuan NATO dan Pakta Warsawa mengumpulkan gudang senjata nuklir secara besar-besaran dan senjata nuklir di angkasa, laut, darat, dan bawah tanah. Mengapa hal ini? Apakah hal ini untuk alasan agama?” Dia terdiam. Kemudian kami berkata kepadanya: “Bagaimananapun kami tahu bahwa sikap Anda yang berhubungan dengan semua agama, namun karena Anda tidak tahu banyak tentang Islam, Anda mungkin mendengar apa yang kami katakan.” Jadi, kami menanyakannya banyak pertanyaan tentang keahliannya dan juga memberikan informasi kepadanya tentang ayat-ayat al-Quran dari Hadis Nabi yang menyebutkan fenomena yang ia bicarakan.

    Satu dari pertanyaan ini adalah tentang gunung yang benar-benar mengakar di bumi. Dia menjawab: “Perbedaan pokok antara gunung yang ada di benua dan gunung yang ada di samudera terletak pada bahannya. Gunung yang ada di benua pada dasarnya terbuat dari endapan, sedangkan gunung di samudera terbuat dari batu vulkanik. Gunung di benua terbentuk dari kekuatan tekanan , sedangkan gunung di samudera terbentuk dari kekuatan perpanjangan. Tetapi, di antara kedua gunung itu memiliki persamaan bahwa mereka mengakar untuk mendukung pegunungan. Dalam hal ini, gunung di benua, ringan rendahnya berat jenis bahan dari gunung secara luas turun ke bumi sebagai akar. Sedangkan gunung di samudera juga ada bahan ringan yang menyokong gunung sebagai akar, tetapi bahan-bahan gunung disamudera ini tidak ringan sebab komposisinya ringan, tetapi panas, oleh karena itu agak meluas Tetapi dari sudut pandang berat jenis, mereka mengerjakan hal yang sama dalam menyokong pegunungan. Oleh karena itu, fungsi akar adalah penyokong gunung sesuai dengan hukum Archimedes.“

    Profesor Siaveda menggambarkan semua bentuk gunung, baik yang di darat maupun di laut, sebagaimana yang menjadi bentuk iris. Dapatkah seseorang pada masa Nabi Muhammad SAW mengetahui kondisi gunung ini? Dapatkah seseorang membayangkan bongkahan gunung yang dia lihat sebelumnya benar-benar memperluas ke dalam bumi dan memiliki akar sebagaimana yang dipercayai para ilmuwan. Banyak buku geografi yang membicarakan gunung, hanya menggambarkan bagian permukaan bumi. Hal inilah yang tidak ditulis oleh ahli geologi, akan tetapi ilmu pengetahuan modern memberikan informasi kepada kita tentang gunung dan Allah berfirman,

    “Dan gunung gunung sebagai pasak” (QS an Naba’. 7)

    Kami bertanya kepada Profesor Siaveda: “Apakah gunung-gunung itu memiliki fungsi dalam membangun kerak bumi?” Dia mengatakan bahwa hal ini belum ditemukan dan dibangun oleh para ilmuwan. Dalam pandangan jawaban, kami menyelidiki dan menanyakan tentang hal ini dan kami mendapati beberapa ahli geologi memberikan jawaban yang sama, kecuali hanya sedikit. Di antara yang sedikit itu sebagai penulis buku yang berjudul “Bumi”. Buku ini dijadikan sebagai dasar referensi di beberapa universitas di seluruh dunia. Salah satu penulis buku ini bernama Frank Press. Sekarang ini dia Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan di Amerika Serikat. Sebelum itu, dia penasihat ilmu pengetahuan bekas Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter.

    Apa yang dikatakan dalam bukunya, ia menggambarkan gunung menyerupai bentuk iris di mana gunung itu bagian kecil dari semua yang memiliki akar dan mengakar kuat di dasar tanah. Prof Press menulis fungsi gunung dan menyatakan bahwa mereka memainkan peran penting dalam menstabilkan kerak bumi. Inilah kenyataan mengapa al-Quran menggambarkan gunung pada 14 abad yang lalu.

    Allah berfirman:

    “Dan gunung gunung dipancangkannya dengan teguh. ” (QS an-Naazi’at : 32)

    “Dan Dia menancapkan gunung gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu. ” (QS an-Nahl : 15)

    Namun, siapa yang telah memberi tahu Nabi Muhammad SAW tentang hal ini? Kami menanyakan kepada Profesor Siaveda pertanyaan berikut: "Apa pendapat Anda setelah melihat al-Quran dan Sunnah yang berkaitan dengan rahasia alam semesta yang baru saja ditemukan para ilmuwan akhir-akhir ini?” Dia menjawab:

    “Saya pikir, hal ini terlihat sangat misterius bagi saya, hampir tidak dapat dipercaya. Saya sungguh berpikir apa yang Anda katakan itu benar. Buku itu sungguh luar biasa, saya setuju. “

    Ya, apa yang dapat dikatakan para ilmuwan? Mereka tidak dapat menghubungkan pengetahuan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan yang tertulis di dalam al-Quran untuk seluruh umat manusia atau ahli ilmiah pada masa lalu, sebab semua ilmuwan tidak menyadari akan rahasia semua ini. Terlebih lagi, semua manusia tidak dapat menjelaskan tetapi untuk menghubungkan pengetahuan itu untuk beberapa kekuatan bumi. Ya, inilah petunjuk dari Allah yang diturunkan kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW yang buta huruf yang dibuat Allah sebagai tanda yang abadi untuk mengantarkan manusia sampai akhir zaman.

    Sumber BUKU : This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Hadeeth (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur’an and Sunnah at Muslim World League Makkah al-Mukarramah and Alharamain Islamic Poundation, Third Edition, Riyadh, 1999)

    ,
    Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

    Sebagai contoh ayat di bawah:

    “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

    Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

    Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

    Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

    “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

    Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

    “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

    Langit yang mengembang (Expanding Universe)


    Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

    Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

    Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

    Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

    Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

    Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

    Gunung yang Bergerak

    “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

    14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

    Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.


    Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

    Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

    Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

    Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

    Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

    Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

    Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

    “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

    Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia

    “Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

    Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

    Diselamatkannya Jasad Fir’aun

    “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]


    Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.

    Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

    Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817.Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

    Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

    Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

    “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

    Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

    Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

    “…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

    Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.


    Sumber: http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-15-1181/


    ,
    Para ilmuwan telah mempelajari tentang tipe-tipe awan dan meyakini bahwa awan hujan terbentuk dari sistem tertentu dan berikatan dengan tipe-tipe angin dan awan tertentu. Salah satu jenis awan hujan adalah awan cumulonimbus bercampur dengan hujan angin ribut disertai petir dan gemuruh. Para ahli meteorologi telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan itu menghasilkan hujan, hujan es, dan halilintar/kilat. Para ahli meteorologi juga menemukan langkah-langkah yang dilewati awan cumulonimbus dalam menghasilkan hujan sebagai berikut:

    1. Awan didorong angin

    Awan cumulonimbus mulai terbentuk ketika angin mendorong sebagian kecil awan cumulus ke sebuah area di mana awan-awan ini berkumpul.

    2.Penggabungan

    Awan kecil bergabung bersama membentuk awan besar.

    3. Penumpukan

    Ketika awan-awan kecil bergabung, udara yang bergerak ke atas di dalam awan yang besar meningkat. Udara yang bergerak ke atas dekat dengan pusat awan lebih kuat dibanding dengan yang dekat dengan tepi. Udara yang bergerak ke atas ini menyebabkan badan awan tumbuh secara vertikal, sehingga awan menunggu di udara. Pertumbuhan vertikal ini menyebabkan badan awan menjadi bagian yang lebih dingin di atmosfer di mana tetesan air dan hujan es merumuskan dan mulai berkembang melebar. Ketika tetesan air dan hujan es ini menjadi sangat ringan sehingga udara yang bergerak ke atas menyokong mereka, dengan demikian mereka mulai turun dari awan menjadi hujan, hujan es, dan lain-lain.

    Allah berfirman di dalam Al-Quran:

    “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. . . ” (QS An-Nur: 43)

    Akhir-akhir ini, ahli meteorologi mengetahui pembentukan, struktur, dan fungsi awan secara detail dengan menggunakan peralatan canggih seperti pesawat, satelit, komputer, balon, dan mempelajari angin dan petunjuknya untuk ukuran kelembaban dan variasinya dan untuk menentukan tingkatan dan variasi tekanan atmosfir.

    Ayat yang terdahulu setelah menyebutkan awan dan hujan, belum bicara tentang hujan es dan halilintar.

    “…. dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. ” (QS an-Nur: 43)

    Para ahli meteorologi telah menemukan awan cumulonimbus ini, hujan es, mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki (4,7 sampai 5,7 mil) seperti gunung, sebagaimana telah tersebut di dalam al-Quran :

    “. . . dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit. . .. ” (QS an-Nur: 43)

    Ayat ini mungkin menimbulkan sebuah pertanyaan mengapa ayat ini menyebutkan “….halilintarnya’ dalam referensi hujan es? Apakah hal ini berarti hujan es adalah faktor mayoritas dalam menghasilkan halilintar? Mari kita lihat buku yang berjudul “Meteorology Today” juga menyebutkan tentang hal ini. Buku itu menyebutkan bahwa awan mengelektrifikasikan hujan es melalui bagian tetesan awan yang paling dingin dan kristal es. Sebagai tetesan cair yang bertabrakan dengan hujan es, mereka membeku yang berhubungan dan melepaskan panas yang terpendam. Dia menjaga permukaan hujan es lebih hangat daripada sekeliling kristal es.

    Ketika hujan es berhubungan dengan kristal es, maka terjadilah fenomena yang penting. Aliran elektron dari objek yang lebih dingin menuju objek yang lebih panas. Oleh karena itu, hujan es menjadi beraliran negatif Efek yang sama terjadi ketika tetesan yang paling dingin berhubungan dengan sebongkah hujan es dan pecahan es kecil yang beraliran positif Geretan partikel beraliran positif ini kemudian dibawa ke bagian atas awan oleh udara yang bergerak ke atas. Hujan es yang beraliran negatif turun ke dasar awan, dengan demikian bagian awan yang paling rendah beraliran negatif. Aliran negatif ini kemudian turun ke tanah menjadi halilintar. Kami menyimpulkan bahwa hujan es ini karena faktor hasil dari halilintar.

    Informasi tentang halilintar akhir-akhir ini ditemukan. Sampai tahun 1600 Masehi, ide Aristoteles tentang meteorologi sangat dominan. Sebagai contoh, dia menyatakan bahwa atmosfir berisi dua jenis pernafasan keluar, basah dan kering. Dia juga mengatakan bahwa guntur adalah suara tumbukan dari pernafasan keluar yang kering dengan sekitar awan dan halilintar adalah peradangan dan terbakarnya pernafasan keluar yang kering dengan api yang kecil dan redup. Inilah beberapa ide tentang meteorologi yang dominan pada saat al-Quran turun pada 14 abad yang lalu.

    Sumber BUKU : This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran & Authentic Hadeeth (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur’an and Sunnah at Muslim World League Makkah al-Mukarramah and Alharamain Islamic Poundation, Third Edition, Riyadh, 1999)

    , ,
    Anda sekalian pasti sering denger kalau Nabi suka banget sama kucing, tapi memang Nabi sangat sayang semua binatang dan mereka semua diperlakukan baik oleh Nabi.

    Banyak kisah-kisah tentang kucing (karena kucing memang binatang yang banyak berkeliaran disekitar manusia). Bahkan Nabi juga memiliki kucing peliharaan. Setiap Nabi menerima tamu di rumah, Nabi SELALU menggendong mueeza (nama kucingnya) dan diletakkan dipahanya. Nabi bahkan berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

    Salah satu sifat Mueeza yang paling Nabi sukai: “Mueeza selalu mengeong ketika mendengar azan, seolah-olah mengikuti lantunan suara azan”

    Terus, pernah juga saat Nabi mau mengambil jubahnya, eh.. ada Muezza lagi bobo diatasnya.. Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya, tujuannya supaya gak ngebangunin Muezza. Saat Nabi pulang ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan kucing itu.

    Nabi menekankan di beberapa hadisnya bahwa kucing itu tidaklah najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci. Lantas kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

    Fakta-fakta ilmiah keistimewaan pada KUCING

    1. Fakta pertama: Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.Sedangkan lidah kucing (bukan makanan loh) sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar dapat membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.
    2. Fakta kedua: Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih dari manusia. Bahkan di zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan, selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.
    3. Fakta kedua: Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor.Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya. Hasil yang didapatkan adalah:
    * Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
    * Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
    * Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
    * Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
    * Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

    Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.

    Komentar Para Dokter yang Bergelut dalam Bidang Mikrobiologi

    Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing. Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.

    Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak terdapat pada anjing, selanjutnya manusia 1/4 anjing, sedangkan kucing 1/2 manusia. Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme.

    Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll). Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air. Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

    Sisa makanan kucing hukumnya suci

    Hadis Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu.Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.

    Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.”

    Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),”. (HR At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

    Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu. Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

    Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya. Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing. (HR AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni). Hadis ini diriwayatkari Malik, Ahmad, dan Imam hadis yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya suci.

    Lihat begitu luar biasanya kucing itu, bahkan sampai jadi hewan peliharaan kesayangan Nabi. Namun sayangnya banyak sekali dari kita yang berpandangan negatif seputar binatang ini, ada yang mengatakan kucing dapat menyebabkan asma karena bulu-bulunya, ada juga yang bilang kucing terinfeksi toxoplasma. Padahal kalau teliti lebih lanjut, toxoplasma itu adalah sejenis bakteri yang dapat hidup dibinatang apa saja. Catatan dalam penelitian ilmiah para peneliti, Anjing dan Babi adalah rekor terbanyak hewan yang mengandung penyakit ini. Tapi kenapa, justru kucinglah yang dijadikan kambing hitamnya?

    Toxoplasma berasal dari infeksi parasit Toxoplasma Gondii. Adapun penularannya pada manusia melalui empat cara yaitu:

    1. Secara tidak sengaja memakan makanan yang tercemari parasit ini. Misalnya kita makan sayuran yang tidak dicuci bersih dan ternyata parasit toxo telah mencemarinya.
    2. Memakan daging sapi, kambing, babi, ayam, babi atau anjing yang mengandung parasit toxo yang tidak dimasak dengan sempurna (matang).
    3. Infeksi melalui placenta bayi dalam kandungan.
    4. Seorang ibu hamil yang terinfeksi toxoplasma bisa menularkan parasit ini pada janin yang dikandungnya, penularan ini disebut penularan secara congenital.
    Melalui transfusi darah, transplantasi organ dari seorang donor yang kebetulan menderita toxoplasmosis.
    1. Sediakan pasir atau tempat kotoran untuk kucing dan sebaiknya dibersihkan setiap hari. Nah kita juga harus rajin bersih-bersih, lagian kucing kalau mau pup dipasir SELALU dikubur, karena kucing itu sendiri adalah hewan yang pemalu. Malah sebenarnya kalau gak ada pasir atau tanah, kucing akan menahan pup sekuat tenaga, kalau bener-bener udah gak tahan, terpaksanya pup di pojokan. Makanya sediakanlah lahan pasir buat kucing
    2. Cegahlah kucing agar tidak berburu tikus, burung, lalat dan kecoa (kasih makan makanan yang bersih, matang dan layak).
    3. Jangan memberi makan hewan peliharaan dengan daging, jeroan, tulang dan susu mentah, sebelum di masaklah terlebih dahulu.
    4. Setelah mencuci daging mentah sebaiknya cuci tangan dengan sabun agar tak ada parasit yang tertinggal di tangan.
    5. Cucilah tangan dengan sabun setiap kali hendak makan.
    6. Hindari memakan daging mentah atau setengah matang. Makanlah daging yang benar-benar telah dimasak sampai matang.
    7. Cuci bersih sayur-mayur dan buah-buahan yang hendak dikonsumsi mentah sebelum dimakan (dilalap).
    8. Untuk ibu-ibu hamil, sebaiknya tidak membersihkan tempat kotoran kucing ataupun mencuci daging ataupun jeroan selama masa kehamilan. Mintalah bantuan orang lain untuk mengerjakannya.
    9. Untuk ibu-ibu yang berencana untuk hamil sebaiknya melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui ada tidaknya infeksi Toxoplasma.
    10. Jika anda memelihara kucing, latihlah dari kecil kucing tersebut dengan membiasakan buang kotoran pada tempatnya.
    Toxoplasma bisa menyerang perempuan maupun laki-laki. Sesungguhnya tak hanya kucing yang bisa terinfeksi parasit Toxoplasma, karena semua hewan berdarah panas (unggas dan mamalia) sebenarnya juga bisa terinfeksi sebagai induk semang perantaranya (Intermediate host). Parasit dari intermediate host dapat menular hanya jika kita MENGKONSUMSINYA. Bedanya dengan kucing, Toxoplasma menyelesaikan keseluruhan siklus hidupnya di usus halus kucing, dan akan dikeluarkan bersamaan dengan feces atau kotorannya. Mungkin karena alasan inilah maka kucing menjadi tersangka utama toxoplasmabagi sebagian kita. Sementara sapi, kambing, ayam, anjing dan hewan lainnya tidak, meski sama-sama punya “bibit” Toxoplasma di tubuhnya.

    Tips untuk Menghindari Toxoplasma pada Kucing:

    Sedangkan khusus untuk ASMA, orang biasa mengait-ngaitkannya akibat dengan bulu-bulu kucing. Padahal belum tentu demikian. Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Penyakit ini salah satunya dikarenakan kelainan di paru atau di jantung yang bersifat keturunan (biasanya sejak kecil gejalanya sudah mulai tampak). Khusus asma yang disebabkan kelainan di paru-paru saja, ada yang bersifat intrinsik (dalam tubuh sendiri), dan ekstrinsik baik psikosomatitik (dipacu beban psikis tertentu) maupun non-psikosomatitik – biasanya mirip penderita alergi (tak tahan atau salah tanggapan sistem imun). Dari analisa kemungkinan jenis dan penyebab sesak, tentulah yang bersifat ekstrinsik yang dapat sembuh dengan menghindari atau menetralisir pencetus timbulnya serangan asma. Jadi orang yang kambuh asmanya itu bukan hanya karena bulu kucing, tetapi bisa juga karena debu, sesak dalam keramaian, stress, asap, serbuk bunga, udara dingin, olahraga, dll. Sebenarnya bulu kucing hanyalah menjadi PEMICU, sama seperti faktor-faktor yang lain.

    Sumber: http://indobestseller.wordpress.com/2010/02/14/alasan-mengapa-nabi-sangat-sayang-dengan-kucing-keajaiban-hewan-bernama-kucing/


Blog Archive