Current Issue

Sedekah dan Zakat

Kesehatan

Fakta

Sholat

Latest Comments

    ,


    Belasan abad sebelum para ahli menemukan
    sejumlah teori penciptaan alam semesta,
    Alquran, sebagai firman Allah SWT, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW
    telah mengungkap dan menyibak rahasia penciptaan alam semesta.
    Alquran telah menjelaskan bagaimana alam semesta – bumi dan langit – diciptakan bagi umat manusia.
    ''Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak." (QS: Ar Rahman: 37)

    Sejak dahulu kala, manusia dari masa ke masa selalu mempertanyakan proses penciptaan alam semesta. Berawal dari pertanyaan sederhana itu, kemudian tercipta beragam teori tentang penciptaan alam semesta. Di antara beragam teori itu, yang paling dikenal adalah teori Materialisme dan Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory).

    Materialisme merupakan salah satu aliran dalam ilmu filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Yunani Kuno. Materialisme adalah aliran yang memandang bahwa segala sesuatu adalah realitas, dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Menurut teori ini, alam semesta sudah ada sejak waktu yang tak terbatas.

    Menurut penganut paham materialisme, alam tidak memiliki awal maupun akhir. Teori ini juga menyakini bahwa alam semesta tidak diciptakan, tetapi ada dengan sendirinya. Segala sesuatu dalam alam semesta hanyalah peristiwa kebetulan atau ketidaksengajaan dan bukan merupakan hasil dari sebuah rancangan atau visi yang disengaja.

    Teori ini diagung-agungkan para materialis di abad ke-19, termasuk Ludwig Freuerbach (1804-1872). Menurut pendapatnya, hanya alamlah yang ada, manusia juga termasuk alam. Dia menganggap bahwa jiwa ada setelah materi, jadi psikis manusia merupakan salah satu gejala dari materi yang ada.

    Kaum materialis juga mengingkari adanya the ultimate nature of reality (realitas tertinggi atau Yang Mutlak). Mereka menganggap bahwa doktrin alam semesta yang digambarkan oleh sains merupakan materialisme sederhana.

    Kaum materialis menyatakan bahwa para filosof tidak dapat menambah, dalam arti memperbaiki pengertian materi yang bersifat deskriptif yang diberikan para ilmuwan pada masa hidupnya. Paham materialisme ini memiliki beberapa aliran, yakni; materialisme lama, materialisme modern, serta materialisme dialektis/historis.

    Teori materialisme yang sempat diagungagungkan para filsuf dan ilmuwan Barat dipatahkan oleh Teori Ledakan Besar (Bing Bang Theory). Seiring ditemukannya fakta tentang terjadinya Ledakan Besar oleh seorang Ahli Astronomi Amerika bernama Edwin Hubble pada 1929, kebenaran Teori Ledakan Besar pun semakin kokoh.



    Teori Ledakan Besar mengungkapkan bahwa alam semesta termasuk bumi dan isinya itu terbentuk dari sebuah ledakan besar. Teori ini menyatakan adanya "awal atau permulaan" pada alam semesta yang disebabkan oleh Big Bang. Kalau alam semesta itu memiliki permulaan, maka tentu saja ada yang menciptakannya yakni Tuhan, Sang Pencipta semesta alam.

    Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1948 seorang peneliti bernama George Gamov berpendapat, seharusnya ada sisa-sisa radiasi dari hasil big bang. Tak lama setelah itu, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan sisa radiasi dari Ledakan Besar berupa radiasi latar belakang kosmik.

    Radiasi ini tidak seperti apapun yang berasal dari seluruh alam semesta, karena luar biasa seragam. Radiasi ini tidak dibatasi dan tersebar merata di seluruh jagad raya. Ternyata radiasi ini merupakan gema dentuman besar. Berkat penemuan itu baik Arno Penzias dan Robert Wilson dihadiahi Nobel untuk penemuan besar mereka.

    Pada tahun 1989, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan sebuah satelit yang dilengkapi dengan instrumen sensitif Cosmic Background Emission Explorer (COBE) ke luar angkasa guna mendeteksi radiasi latar belakang kosmik yang ditemukan oleh Arno Penzias dan Robert Wilson. Hanya dalam hitungan menit, (COBE) mampu menemukan radiasi latar belakang kosmik.

    Sejumlah bukti lainnya yang menunjukkan alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar adalah terdapatnya kandungan Hidrogen dan Helium yang tersebar di seluruh jagat raya. Jika alam semesta tidak memiliki awal, seharusnya Hidrogen telah menghilang dari alam semesta ini diakibatkan perubahan atom Hidrogen menjadi atom Helium.

    Ini bukti yang ditemukan dari penelitian yang panjang. Akhirnya para ilmuwan di dunia mengakui kebenaran bahwa alam semesta lahir dari sebuah ladakan besar yang tentu saja diciptakan keberadaannya.

    Belasan abad sebelum para ahli menemukan sejumlah teori penciptaan alam semesta, Alquran, sebagai firman Allah SWT, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah mengungkap dan menyibak rahasia penciptaan alam semesta. Alquran telah menjelaskan bagaimana alam semesta – bumi dan langit – diciptakan bagi umat manusia.



    Dalam Alquran surat Shaad ayat 27, Allah SWT berfirman,

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang itu karena mereka akan masuk neraka.”

    Aliran materialisme sangat bertentangan dengan ajaran Alquran. Sebab, aliran tersebut menyatakan bahawa alam semesta ada tanpa direncanakan dengan visi tertentu.

    Dalam surat Ali Imran ayat 191, Sang Khalik berfirman,

    '' (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.''

    Alquran menggambarkan penciptaan alam semesta digambarkan dalam enam masa. “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakanNya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahsuci Allah Tuhan semesta alam.

    Lalu siapa lagi jika bukan Allah yang mampu menciptakan Ledakan Besar yang indah. Pasalnya hasil Ledakan Besar itu kini tersusun rapi menjadi materi seperti planet, bintang, galaxi, kluster, dan superkluster di jagad raya.

    Ledakan tersebut tidak seperti ledakan bom yang hasilnya hancur berantakan. Maka Allah menciptakan alam semesta ini tentunya agar diambil hikmahnya bagi manusia.

    , ,


    Ratusan ayat dalam Alquran menjelaskan penciptaan bumi dan langit.

    Berikut beberapa ayat tentang penciptaan alam semesta itu:

    ''(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'' (QS: Ali 'Imran: 191)

    "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS: Ali Imran: 190).

    "Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka." (QS: Al An'aa,:11)

    "Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al An`aam : 73)

    "Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." (QS. Al An`aam : 101)

    "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy {548}. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS: Al A'raaf: 54)

    "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi...'' (QS At Taubah: 36)

    "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.'' (QS: AL Anbiyaa: 30)

    ,
    Nabi Adam alaihissalam merupakan musuh bebuyutan Iblis, karena hadirnya Nabi Adam alaihissalam telah membuat Iblis terusir dari jannah dan Allah menghukumnya tersesat selama-lamanya. Namanya musuh bebuyutan, sampai anak turun Nabi Adam alaihissalam pun jadi sasaran Iblis dan bala tentaranya.

    Bukalah Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 16-17, di sini akan kita temui sumpah Iblis yang akan menjerumuskan kita dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


    “Iblis menjawab : Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

    Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.

    Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 16-17 di atas adalah:

    “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka”: Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim), ( akhirat adalah masa depan kita).

    “Dan dari belakang mereka”: membuat mereka cinta kepada dunia (Wa MinKholfihim), ( dunia selalu di belakang kita ).

    “dari kanan”: urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas (Wa ‘An Aimaanihim)

    “Dan dari kiri mereka”: dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa ‘An Syama’ilihim).

    Akan tetapi Iblis tidak akan bisa menyesatkan kita dari arah atas dan bawah kita, kenapa?

    Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka” (At-Tafsir Al-Kabir V/215)

    Dalam tafsir yang lain juga dikatakan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu katsir III/394-395)

    Inilah ambisi Iblis untuk menyesatkan semua bani Adam sampai tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali yang bersyukur dan taat kepada Allah. Secara realita, ternyata program syaithan ini menjadi kenyataan karena mayoritas bani Adam telah terperangkap dalam jebakan-jebakannya, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas.

    Cara Iblis membuat perangkap untuk menyesatkan Bani Adam

    Dalam rangka menyesatkan bani Adam dari jalan yang lurus, Iblis mempersiapkan cara dan jebakan-jebakan. Ada enam tingkatan jebakan yang dipasang Iblis untuk menjerat bani Adam. Saya mendapati enam macam ini dari buku yang saya baca, karya Abu Abdurrahman Shabry bin Salamah Sahin dengan judul asli “Ash-Shira’ Ma’asy-Syaithan”, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Al-Kautsar.

    Enam tingkatan itu adalah sebagai berikut :

    Iblis akan berupaya menjerumuskan bani Adam ke lembah kekafiran atau kesyirikan. Kekafiran dan kesyirikan merupakan dosa tertinggi yang tak akan diampuni oleh Allah atas pelakunya. Maka Iblis begitu giat untuk mempromosikan kesyirikan ini. Iblis membuat tuhan-tuhan selain Allah yang semua itu diyakini bani Adam sebagai tandingan adanya tuhan selain Allah. Banyak Bani adam yang terjebak dengan jebakan ini, namun tak sedikit pula yang selamat. Namun bila bani Adam selamat dari jebakan ini Iblis akan menggunakan cara berikutnya.

    Iblis akan berusaha menjatuhkan bani Adam ke lembah bid’ah sehingga ia mengamalkan bid’ah dan menjadi ahlul bid’ah. Iblis tidak akan melarang bani Adam untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan dengan selain-Nya, namun Iblis akan menyusupkan ajaran-ajaran yang tidak berasal dari al-qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wa salama ke dalam ajaran Islam. Sehingga para ahli bid’ah akan menyibukkan diri dengan amalan-amalan bid’ah, bani Adam mengira perbuatan mereka tidak menyimpang karena bagusnya Iblis membungkus amalan bid’ah menjadi seakan-akan amalan sunnah.Bani Adam akan selamat bila membentengi diri dengan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salama secara benar. Namun bila bani Adam termasuk ahli sunnah dan tidak mampu diperdaya, maka iblis akan menggunakan cara berikutnya.

    Iblis akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa besar. Dosa besar memang tidak menyeret pelakunya kepada kekafiran, akan tetapi akan menyeret bani adam kepada neraka. Banyak sekali Bani Adam terjebak ke dalam jebakan ini, tiap hari kita dengar berita pembunuhan, perzinaan, dan banyak lagi dosa-dosa besar terjadi. Namun bila Allah menjaganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.
    Iblis akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa kecil dan menganggapnya remeh. Dosa kecil seringkali dianggap remeh, padahal sesuatu yang kecil bila berlangsung terus-menerus dan berlangsung lama akan menjadi besar pula. Sekecil apapun peluang, Iblis tak akan melewatkannya walaupun dengan dosa kecil. Bila gagal, maka Iblis akan menggoda dengan cara lain.

    Iblis akan menyibukkan bani Adam dengan perkara mubah sehingga mereka lalai dari perkara pokok. Perkara mubah adalah perkara yang boleh dilakukan, mubah bila dilakukan tidak membuat kita berdosa, namun juga tidak akan mengandung pahala, tergantung niat kita. Mubah lebih sering mengandung amalan dunia, sehingga bila kita disibukkan dengan hal-hal yang mubah maka kita akan menderita kerugian akhirat yang besar. Kita tidak berdosa akantetapi pahala akhirat kita tidak akan bertambah, statis… ini merupakan kerugian bagi bani Adam. Namun bila bani Adam selamat dari perangkap ini, maka Iblis akan menggunakan cara yang terakhir.

    Iblis akan menyibukkan bani Adam dengan amalan yang rendah nilai pahalanya, misalnya dia menyibukkan bani Adam dengan amal sunnah sehingga melalaikannya dari amal wajib. Demikian seterusnya. Iblis akan menyibukkan bani Adam dengan salat qiyamul lail, namun membuat lalai dari shalat subuh berjamaah. begitu seterusnya.Bila ada seorang yang selamat dari enam perangkap syaithan tersebut, maka dia termasuk hamba Allah yang ikhlas yang tidak dapat digoda oleh syaithan dengan taufiq dan hidayah dari Allah Ta’ala.
    Dalam penjelasan lain ada satu lagi makar yang dilancarkan Iblis kepada Bani Adam yang Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salama pun tak akan selamat dari makar ini. Iblis menguasai orang-orang kafir yang zhalim untuk menyiksa kaum mukmin. Sampai saat ini masih kita lihat makar Iblis yang satu ini masih berlangsung.

    Demikian merupakan per4angkap-perangkap Iblis yang harus kita kenal. Renungkanlah, maka kita akan tahu sejauh mana kita telah terjerumus ke dalam perangkap Iblis ini.Dari poin 1 s/d 6, mana yang pernah kita dapati pada diri kita.

    Bani Adam, waspadalah…Iblis tak akan melepaskan sekecil apapun peluang yang dimilikinya untuk menjebak kita. Tetap mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah akan menyelamatkan kita dari jebakan-jebakan Iblis dan bala tentaranya.

    http://dai21juli.blogspot.com/2012/10/maha-dasyatnya-ketika-bani-adam-melawan.html#ixzz2A1l6zevF


    ,

    Surat 95 : AT-TIIN

    Diturunkan di MAKKAH

    وَالتِّينِ وَالزَّيْتُون
    1) Demi buah tiin, demi buah zaitun.

    وَطُورِ سِينِينَ
    2) Demi gunung Sinai.

    وَهَذَا الْبَلَدِ الأَمِينِ
    3) Demi negeri yang aman ini.

    Dalam ayat yang pertama; "Demi buah tiin, demi buah zaitun." (ayat 1).

    Terdapat berbagai tafsiran. Menurut Mujahid dan Hasan, kedua buah-buahan itu diambil jadi sumpah oleh Tuhan untuk diperhatikan. Buah TIIN diambil sumpah karena dia buah yang terkenal untuk dimakan, buah ZAITUN karena dia dapat ditempa dan diambil minyaknya. Kata Qatadah: Tiin adalah nama sebuah bukit di Damaskus dan Zaitun nama pula dari sebuah bukit di Baitul-Maqdis." Tandanya kedua negeri itu penting untuk diperhatikan. Dan menurut sebuah riwayat pula, yang diterima dari Ibnu Abbas, "Tiin adalah mesjid yang mula didirikan oleh Nuh di atas gunung al-Judi, dan Zaitun adalah Baitul-Maqdis."

    Banyak ahli tafsir cenderung menyatakan bahwa kepentingan kedua buah-buahan itu sendirilah yang menyebabkan keduanya diambil jadi sumpah. Buah Tiin adalah buah yang lunak lembut, kemat, hampir berdekatan rasanya dengan buah serikaya yang tumbuh di negeri kita dan banyak sekali tumbuh di Pulau Sumbawa. Zaitun masyhur karena minyaknya.

    Tetapi terdapat lagi tafsir yang lain menyatakan bahwa buah Tiin dan Zaitun itu banyak sekali tumbuh di Palestina. Di dekat Jerusalem pun ada sebuah bukit yang bemama Bukit Zaitun, karena di sana memang banyak tumbuh pohon zaitun itu. Menurut kepercayaan dari bukit itulah Nabi Isa Almasih mi'raj ke langit.

    'Demi gunung Sinai.' (ayat 2).

    Di ayat ini disebut namanya Thurisinina, disebut juga Thursina, disebut juga Sinai dan disebut juga Thur saja. Kita kenal sekarang dengan sebutan Semenanjung Sinai.

    "Demi negeri yang aman (ayat 3).

    Negeri yang aman ini ialah Makkah, tempat ayat ini diturunkan. Sebab itu dikatakan "INI".
    Berkata Ibnu Katsir : Berkata setengah imam-imam : Inilah tiga tempat, yang di masing-masing tempat itu Allah swt telah membangkitkan Nabi-nabi utusanNya, Rasul-rasul yang terkemuka, mempunyai syariat yang besar-besar. Pertama tempat yang di sana banyak tumbuh Tiin dan Zaitun. Itulah Baitul-Maqdis. Di sanalah Tuhan mengutus Isa bin Maryam 'alaihis-salam.

    Kedua : Thurisinina, yaitu Thurisina, tempat Allah swt bercakap-cakap dengan Musa bin 'Imran, 'alaihis-salam.
    Ketiga : Negeri yang aman, yaitu Makkah. Barangsiapa yang masuk ke sana, terjaminlah keamanannya. Di sanalah diutus Tuhan RasulNya Muhammad s.a.w.

    Kata Ibnu Katsir selanjutnya: "Dan di dalam Taurat pun telah disebut tempat yang tiga ini; 'Telah datang Allah swt dan Thursina,' yaitu Allah swt telah bercakap-cakap dengan Musa. "Dan memancar Dia dari Seir," yaitu sebuah di antara bukit-bukit di Baitul-Maqdis, yang di sana Isa Almasih dibangkitkan. "Dan menyatakan dirinya di Faran." Yaitu nama bukit-bukit Makkah, tempat Muhammad s.a.w. diutus.

    Maka disebutkan itu semuanya guna memberitakan adanya Rasul-rasul itu sebab itu diambilNya sumpah berurutan yang mulia, yang lebih mulia dan yang paling mulia."
    Maka bersumpahlah Tuhan; Demi buah tiin, demi buah zaitun. Demi Bukit Thurisinina, demi Negeri yang aman Tuhan bersumpah dengan tiin dan zaitun, itulah lambang dari pergunungan Jerusalem, Tanah Suci, yang di sana kedua buah-buahan itu banyak tumbuh, dan di sana Almasih diutus Allah dengan Injilnya.

    Dan bersumpah pula Tuhan dengan Thursina, yaitu gunung tempat Tuhan bercakap dengan Musa dan tempat Tuhan memanggil dia, di lembahnya yang sebelah kanan, di tumpak tanah yang diberi berkat yang ber¬nama Thuwa, di pohon kayu itu. Dan bersumpah pula Tuhan dengan Negeri yang aman sentosa ini, yaitu negeri Makkah, di sanalah Ibrahim menempatkan puteranya tertua Ismail bersama ibunya Hajar. Dan negeri itu pulalah yang dijadikan Allah tanah haram yang aman sentosa. Sedang di luar batasnya orang rampas-merampas, rampok-merampok, culik-menculik. Dan dijadikanNya negeri itu aman dalam kejadian, aman dalam perintah Tuhan, aman dalam takdir dan aman menurut syara'."

    Seterusnya Ibnu Taimiyah berkata: "Maka firman Tuhan "Demi buah tiin, demi buah zaitun. Demi Bukit Thurisinina. Demi negeri yang aman ini," adalah sumpah kemuliaan yang dianugerahkan Tuhan kepada ketiga tempat yang mulia lagi agung, yang di sana sinar Allah dan petunjukNya dan di ketiga tempat itu diturunkan ketiga kitabNya; Taurat, Injil dan al-Quran, sebagai¬mana yang telah disebutkannya ketiganya itu dalam Taurat: "Datang Allah dari Torsina, telah terbit di Seir dan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran." Sekedar itu kita salinkan dari lbnu Taimiyah.

    Selanjutnya ada pula penafsir-penafsir zaman sekarang sebagai disebutkan oleh al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahwa sumpah Allah dengan buah tiin yang dimaksud ialah pohon Bodhi tempat bersemadinya Buddha Gaotama ketika beliau mencari Hikmat Tertinggi. Buddha adalah pendiri dari agama Buddha yang di kemudian harinya telah banyak berobah dari ajarannya yang asli. Sebab ajarannya itu tidak ditulis pada zamannya melainkan lama se-sudah matinya. Dia hanya diriwayatkan sebagai riwayat-riwayat Hadis-hadis dalam kalangan kita Muslimin, dari mulut ke mulut Lama kemudian baru ditulis, setelah pemeluk-pemeluknya bertambah maju.

    Menurut penafsir ini pendiri buddha itu nama kecilnya ialah Sakiamuni atau Gaotama. Mula kebangkitannya ialah seketika dia berteduh bersemadi di bawah pohon kayu Bodhi yang besar. Di waktu itulah turun wahyu kepadanya, lalu dia diutus menjadi Rasul Allah. Syaitan berkali-kali mencoba memperdayakannya, tetapi tidaklah telap. Pohon Bodhi itu menjadi pohon yang suci pada kepercayaan penganut Buddha, yang mereka namai juga Acapala.

    Besar sekali kemungkinan bahwa penafsir yang menafsirkan buah Tiin di dalam al-Quran itu dengan pohon bodhi tempat Buddha bersemadi, belum mendalami benar-benar filsafat ajaran Buddha. Menurut penyelidikan ahli-ahli, Buddha itu lebih banyak mengajarkan filsafat menghadapi hidup ini, dan tidak membicarakan Ketuhanan. Lalu pengikut Buddha yang datang di belakang memuaskan hati mereka dengan menuhankan Buddha itu sendiri.

    Tetapi seorang ulama Besar dari Arabia dan Sudan, Syaikh Ahmad Soorkati yang telah mustautin di Indonesia ini pernah pula menyatakan per¬kiraan beliau, kemungkinan besar sekali bahwa yang dimaksud dengan se¬orang Rasul Allah yang tersebut namanya dalam al-Quran Dzul-Kiflii: Itulah Buddha, Asal makna dari Dzul-Kifli ialah yang empunya pengasuhan, atau yang ahli dalam mengasuh. Mungkin mengasuh jiwa manusia. Maka Syaikh Ahmad Soorkati menyatakan pendapat bahwa kalimat Kifli berdekatan dengan nama negeri tempat Buddha dilahirkan, yaitu Kapilawastu.

    Dan semuanya ini adalah penafsiran. Kebenarannya yang mutlak tetaplah pada Allah sendiri.

    لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
    4) Sesungguhnya telah Kami cipta¬kan manusia itu atas sebaik-baik pendirian.

    ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
    5) Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendah yang rendah.

    إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
    الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ
    مَمْنُونٍ
    6) Kecuali orang-orang yang ber¬iman dan beramal shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-putus.

    فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّين
    7) Maka apakah sesuatu yang akan mendustakan kamu tentang agama?

    أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
    8) Bukankah Allah itu yang paling adil di antara segala yang meng¬hukum?

    "Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu atas sebaik-baik pen-dirian." (ayat 4).

    Ayat inilah permulaan dari apa yang telah Allah mulaikan lebih dahulu dengan sumpah.
    Yaitu, bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini, manusialah yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk; bentuk lahir dan bentuk batin. Bentuk tubuh dan bentuk nyawa. Bentuk tubuhnya melebihi keindahan bentuk tubuh hewan yang lain. tentang ukuran dirinya, tentang manis air-mukanya, sehingga dinamai basyar, artinya wajah yang mengandung gembira, sangat berbeda dengan binatang yang lain. Dan manusia diberi pula akal, bukan semata-mata nafasnya yang turun naik. Maka dengan perse-imbangan sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu dapatlah dia hidup di permukaan bumi ini menjadi pengatur. Kemudian itu Tuhan pun mengutus pula Rasul-rasul membawakan petunjuk bagaimana caranya menjalani hidup ini supaya selamat.

    "Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendah yang rendah." (ayat 5).

    Demikianlah Allah mentakdirkan kejadian manusia itu. Sesudah lahir ke dunia, dengan beransur tubuh menjadi kuat dan dapat berjalan, dan akal pun berkembang, sampai dewasa, sampai di puncak kemegahan umur. Kemudian itu beransur menurun badan tadi, beransurlah tua. Beransur badan lemah dan fikiran mulai pula lemah, tenaga mulai berkurang, sehingga mulai rontok gigi, rambut hitam berganti dengan uban, kulit yang tegang menjadi kendor, telinga pun beransur kurang pendengarannya, dan mulailah pelupa. Dan kalau umur itu masih panjang juga mulailah padam kekuatan akal itu sama-sekali, sehingga kembali seperti kanak-kanak, sudah minta belas kasihan anak dan cucu. Malahan ada yang sampai pikun tidak tahu apa-apa lagi. Inilah yang dinamai أرذل العمر "Ardzalil-`umur"; tua nyanyuk. Sehingga tersebut di dalam salah satu doa yang diajarkan Nabi s.a.w. agar kita memohon juga kepada Tuhan jangan sampai dikembalikan kepada umur sangat tua (Al-harami) dan pikun itu.

    Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih." (pangkal ayat 6).

    Menurut tafsir dari Ibnu Jarir: "Beriman dan beramal shalih di waktu badan masih muda dan sihat." "Maka untuk mereka adalah ganjaran yang tiada putus-¬putus." (ujung ayat 6):

    Doa yang diajarkan Nabi s.a.w. itu ialah:

    اللهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ وَالكَسَلِ وَالهَرَمِ وَأَرْذَلِ العُمُرِ وَعَذَابِ القَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَفِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ (رواه البخاري عن أنس بن مالك)

    'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau daripada bakhil dan pemalas, dan tua dan kembali pikun dan daripada siksa kubur dan fitnah Dajjal dan fitnah hidup dan fitnah mati." (Riwayat Bukhara daripada Anas bin Malik)
    Menurut keterangan Saiyidina Ali bin Abu Thalib kembali kepada umur tua renta ardzalil--'umur itu ialah tujuh lima tahun.

    Di dalam al-Quran umur tua renta ardzalil-'umur itu sampai bertemu dua kali. Yaitu ayat 70 dari Surat an-Nahl (lebah) Surat 16 dan Surat al-Haj, (22) ayat 5.
    Ketika menafsirkan Ardzalil-'umur itu terdapatlah satu tafsir dari Ibnu Abbas demikian bunyinya: "Asal saja dia taat kepada Allah di masa-masa mudanya, meskipun dia telah tua sehingga akalnya mulai tidak jalan lagi, namun buat dia masih tetap dituliskan amal shalihnya sebagaimana di waktu mudanya itu jua, dan tidaklah dia akan dianggap berdosa lagi atas perbuatan¬nya di waktu akalnya tak ada lagi itu. Sebab dia adalah beriman. Dia adalah taat kepada Allah di masa mudanya.''
    Diriwayatkan juga dari lbnu Abbas dan lkrimah;

    مَنْ جَمَعَ القُرْآنَ فَلاَ يُرْجَعُ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ إِنْ شَاءَ اللهُ

    "Barangsiapa yang mengumpulkan al-Quran tidaklah akan dikembalikan kepada ardzalil 'umur. Kepada tua pikun, Insya Allah!"

    Tentang ini penulis tafsir ini berpengalaman. 'Ammati (saudara perempuan ayahku), Uaik Tuo Aisyah meninggal dalam usia 86 tahun. Sejak beberapa tahun sebelum meninggal beliau telah pekak tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang kita bicarakan dekat beliau. Tetapi sejak masih gadisnya beliau menuruti ajaran ayahnya, Tuanku Syaikh Amrullah yaitu mewiridkan membaca al-Quran sekhatam-sekhatam.

    Dan kalau tidak ada kesempatan, namun Surat-surat Yaa-Siin, al-Waqi'ah, al-Kahfi, al-Mulk dan beberapa Surat yang lain yang beliau hapal di luar kepada. Dan Surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Kerja beliau sehari-hari hanya membaca al-Quran sehingga pekaknya tidak jadi rintangan baginya.

    Setelah dia sakit akan meninggal, mulutnya masih berkomat-kamit membaca al-Quran. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat dengan senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu membaca al-Quran. Lalu beliau suruh anak¬ cucu yang mengelilingnya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh mereka.

    Dan beliau pun meninggal dalam senyum, barangkali dalam suasana men-dengar suara merdu membaca al-Quran.
    Sebaliknya ada juga saya dapati, terutama orang-orang perempuan yang telah tua, yang kira-kira usianya telah mencapai 80 atau 90 tahun menjadi amat pikun hilang sama sekali ingatannya, padahal di waktu mudanya dia pun tidak pemah meninggalkan sembahyang lima waktu. Untuk mententeramkan hati kita, saya salinkan di sini sebuah Hadis:

    المَوْلُوْدُ حَتَّى يَبْلُغَ الحِنْثَ مَا عَمِلَ مِنْ حَسَنَةٍ كُتِبَتْ لِوَالِدِهِ أَوْ لِوَالِدَيْهِ وَمَا عَمِلَ مِنْ سَيِّئَةٍ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ وَلاَ عَلَى وَالِدَيْهِ . فَإِذَا بَلَغَ الحِنْثَ أَجْرَى اللهُ عَلَيْهِ القَلَمَ أُمِرَ المَلَكَانِ اللَّذَانِ كَانَا مَعَهُ أَنْ يَحْفَظَا وَأَنْ يُشَدِّدَا . فَإِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً فِيْ الإِسْلاَمِ أَمَّنَهُ اللهُ مِ،َ البَلاَيَا الثَّلاَثِ : الجُنُوْنُ وَالجُذَامُ وَالبَرَصُ . فَإِذَا بَلَغَ الخَمْسِيْنَ خَفَّفَ اللهُ حِسَابَهُ . فَإِذَا بَلَغَ السِتِّيْنَ رَزَقَهُ اللهُ الإِنَابَةَ إِلَيْهِ بِمَا يُحِبُّ . فَإِذَا بَلَغَ السَّبْعِيْنَ أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ . فَإِذَا بَلَغَ الثَّمَانِيْنَ كَتَبَ اللهُ حَسَنَاتِهِ وَتَجَاوَزَ عَنْ سَيِّئَاتِهِ . فَإِذَا بَلَغَ التِّسْعِيْنَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ فِيْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَكُتِبَ أَمِيْنَ اللهِ وَكَانَ أَسِيْرَ اللهِ فِيْ أَرْضِهِ . فَإِذَا بَلَغَ أَرْذَلَ العُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا كَتَبَ اللهُ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِيْ صِحَّتِهِ مِنَ الخَيْرِ فَإِذَا عَمِلَ سَيِّئَةً لَمْ تُكْتَبْ لَهُ (رواه أبو يعلى عن أنس بن مالك)

    "Seorang anak yang dilahirkan apabila telah mulai bertumbuh pengertian¬nya, jika dia bekerja yang baik, ditulislah pahala untuk ayahnya atau kedua orang tuanya. Dan jika dia berbuat salah, tidaklah ditulis untuk dirinya dan tidak untuk orang tuanya. Apabila dia telah berkesadaran, mulailah berjalan Qalam Tuhan, diperintah Tuhan dua malaikat yang selalu menyertainya agar anak itu dijaga baik-baik dan diawasi.

    Apabila telah mencapai empat puluh tahun dalam Islam, diamankan Allahlah dia daripada bala bencana yang tiga macam; (1) gila, (2) penyakit kusta, (3) penyakit balak. Apabila dia telah men¬capai lima puluh tahun, diringankan Allahlah hisab (perhitungannya). Apabila telah mencapai enam puluh tahun diberi Allahlah dia kesukaan kembali ke¬pada Allah (Inabah) dengan amalan-amalan yang disukai Allah. Apabila dia telah mencapai tujuh puluh tahun, jatuh cintalah kepadanya seluruh isi langit. Apabila dia telah mencapai delapan puluh tahun, dituliskan Allahlah segala kebaikannya dan dilampaui Tuhan saja kesalahan-kesalahannya. Apabila dia telah mencapai sembilan puluh tahun diampuni Allahlah dosa-dosanya, yang terdahulu dan yang terkemudian, dan menjadi syafa'atlah dia pada kalangan ahli rumahnya dan ditulislah dia sebagai Aminullah (Kepercayaan Allah) dan adalah dia tawanan Allah di muka bumiNya. Apabila dia telah mencapai ardzalil-'umur (Usia sangat lanjut), sehingga dia tidak mengetahui apa-apa lagi sesudah begitu cerdas dahulunya, akan dituliskan Allah tentang dirinya yang baik-baik saja, sebagaimana yang diamalkannya di waktu sihatnya dahulu, dan kalau dia berbuat salah, tidaklah dituliskan apa-apa."(Riwayat Abu Ya'ala dari Hadis Anas bin Malik)

    Maka terpulanglah kepada Tuhan Allah sendiri, berapa umur yang akan Dia berikan kepada kita; entah mati muda atau sampai mencapai usia lanjut, asal kita sendiri mematuhi perintah-perintah Allah sejak masih muda remaja, sehingga tetap menjadi modal hidup di hari tua. Dan kita pun tetap memohon jangan kiranya kita sampai jadi tua pikun yang sampai rnemberati kepada anak -cucu. Amin.

    "Maka apakah sesuatu yang akan mendustakan kamu tentang agama?" (ayat 7).

    Artinya: Kalau sudah demikian halnya, yaitu bahwa Allah telah mencipta¬kan engkau, hai Insan demikian rupa, dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan setelah lanjut umur kamu akan jatuh menjadi serendah-rendahnya kalau tidak ada pendidikan dan asuhan beragama semenjak kecil, apa lagikah alasan bagi kamu akan mendustakan agama? Bukankah ajaran agama itu yang akan mem-berikan pegangan bagi kamu menempuh hidup ini, sejak mudamu sampai kepada hari tuamu? Bagaimanalah jadinya nasib kamu menempuh hidup ini kalau kamu tidak hidup beragama? Dan kalaupun ada, tetapi tidak kamu pegang dengan baik?

    "Bukankah Allah itu yang paling adil di antara segala yang menghukum?" (ayat 8).

    Kalau seseorang yang setia memegang ajaran agama untuk pedoman hidupnya, lalu hidupnya selamat sampai hari tuanya, bukankah itu suatu akibat yang adil dari hukum kebijaksanaan Ilahi? Dan kalau seseorang sebelum tua sudah kehilangan pedoman, dan setelah tua menjadi orang tua yang jadi beban berat kepada anak-cucu karena jiwa kosong dari pegangan, putus hubungan dengan alam, bukankah itu pun satu keputusan yang adil dari Allah?

    Itu pun masih saja di dunia. Bagaimana kalau kemelaratan, kehancuran hidup sampai rendah serendah-rendahnya di dunia dan di akhirat. Melarat masuk neraka, tidakkah semuanya itu akibat yang wajar jua dari orang yang tidak mau memperdulikan petunjuk yang telah disampaikan Allah dengan perantaraan Nabi-nabi?

    Maka segala petunjuk yang dibawa oleh Nabi-nabi, baik yang dilambang¬kan oleh buah tin dan zaitun yang tumbuh di pergunungan Jarusalem (Palestina) yang berupa kitab Injil, atau yang diturunkan di Jabal Thursina di Semenanjung Sinai, tempat Taurat diberikan kepada Musa, atau kitab penutup yang dibawa oleh Khatimul Anbiya' wal Mursalin, al-Quran yang dibawa Muhammad, yang mula diturunkan di negeri yang aman, Makkah al-Mukarramah, semuanya itu adalah satu maksudnya, yaitu Addin; Agama untuk muslihat hidup manusia sejak datang ke dunia ini sampai pulangnya ke, akhirat esok.
    Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis dirawikan Termidzi dari Abu Hurairah, Nabi menganjurkan bila Imam sampai pada penutup ayat ini, pada sembahyang jahar, (Alaisallaahu bi ahkamil Haakimiin), kita ma'mun sunnat membaca:

    بَلَى ! وَأَنَأ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

    "Benar itu! Dan aku sendiri atas yang demikian itu turut menyaksikan."

    http://taman-tiin.blogspot.com/2010/04/tafsir-ibnu-katsir-surat-at-tiin.html


    , , ,

    Hajar Aswad adalah “batu hitam”yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY’ yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril.

    Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.

    Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah. Atau secara spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :

    Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
    “ Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”

    Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
    “Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

    Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:
    “Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat”.

    Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai ‘target’ berburu …. saya harus menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!

    Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii ‘kecupan’ jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu Akbar.

    Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:

    “Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

    Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.

    RIWAYATNYA

    Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

    DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD

    Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

    Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
    ”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”

    Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

    Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

    Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

    RAHASIA HAJAR AL-ASWAD

    Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.

    Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”

    Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.

    Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).

    ILMU PENGETAHUAN "MODERN"

    Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

    Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, di berkata : “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.

    Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

    Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

    Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

    Masjidil Haram, Mekah, photo satelit.
    Masjid Nabi, Madinah.

    Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

    Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’Bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

    Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877)


    , , , ,

    Konsep Islam dalam permasalahan ini sama dengan permasalahan lainnya, bahwa Islam itu mudah dan lengkap, serta senantiasa menjaga keselamatan jiwa, badan, dan akal manusia. Islam menghalalkan yang baik untuk jiwa, badan dan akal, sebaliknya mengharamkan yang buruk dan merusak, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

    “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.”(QS. Al Baqarah:168)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah:172)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan dalam kitab Taurat dan Injil tentang salah satu ciri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menghalalkan hal-hal yang baik dan mengharamkan segala yang buruk, sebagaimana firman-Nya:
    لَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

    “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS. Al A’raf:157)

    Demikianlah Islam melarang semua makanan yang merusak badan dan akal manusia atau dapat membunuhnya, seperti racun dan narkoba dan ini dijelaskan dalam firmanNya:
    وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

    Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An Nisaa:29-30)

    Segala sesuatu yang merusak dilarang memakannya termasuk juga larangan memakan barang-barang najis seperti bangkai dan sejenisnya. Semua ini menunjukkan kemudahan Islam dan perhatian yang besar terhadap keselamatan manusia.

    Jangan berlebihan dan mengada-ada

    Namun tentunya semua ini dilakukan sesuai kebutuhan, tanpa berlebih-lebihan (Israf) dan kikir (bakhil). Oleh karena itu, kita dilarang mengharamkan sesuatu yang telah diperbolehkan Islam. Sebaliknya, kita juga dilarang menghalalkan sesuatu yang sudah diharamkan, karena penghalalan dan pengharaman merupakan hak Allah dan Rasul-Nya, tidak semua orang boleh menetapkannya. Allah berfirman:
    قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

    Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik.” Katakanlah:”Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”(QS.Al A’raf: 32)

    dan firman-Nya :

    قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَشْكُرُونَ

    Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).(QS. Yunus: 59-60)

    Untuk itulah Allah berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Mai’dah:87-88)

    Celaan Allah terhadap orang yang menghalalkan yang haram, dan sebaliknya

    Pelanggaran perintah Allah dalam permasalahan ini, bila sampai menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal merupakan perkara besar yang sangat tercela. Lihatlah Allah mencela orang Yahudi dan Nashrani yang mentaati para tokoh agama dan pendeta mereka dalam penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal seperti dalam firman-Nya:
    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah:31)

    Demikian juga mencela orang-orang jahiliyah yang telah menghalalkan bangkai yang telah Allah haramkan dan mengharamkan beberapa jenis binatang ternak yang Allah halalkan karena fanatik buta pada nenek moyang mereka dan mengikuti hawa nafsu. Hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya:
    مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سَائِبَةٍ وَلا وَصِيلَةٍ وَلا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

    “Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk” (QS. Al Ma’idah:103-104)

    Marilah kita taati semua perintah dan larangan Allah agar selamat dari celaan dan siksaan Allah.

    Bersyukurlah atas nikmat ini

    Semua ini Allah tetapkan agar manusia bersyukur. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah:172)

    Bersyukur dengan tiga rukun yaitu mengakui dengan hatinya bahwa semua itu berasal dari Allah, lalu menampakkannya dengan lisannya dan menjadikannya sebagai sarana mencapai ketaatan kepada Allah. Dengan terealisasinya rukun-rukun syukur ini maka rasa syukur akan menjadi sempurna. Dengan syukur ini Allah akan menganugerahkan kembali kenikmatan yang berlipat, sehingga makanan tersebut menjadi tonggak tercapainya kehidupan yang bahagia di dunia dan akherat. Apabila rasa syukur ini tidak terwujud, bisa jadi semua itu menjadi sebab kehancuran manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:
    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

    “Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

    Dan firman-Nya:
    أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ

    “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun:55-56)

    Mudah-mudahan semua ini menjadikan kita segera bersyukur atas semua nikmat Allah.


    Penulis: Kholid Syamhudi Lc

Blog Archive