Current Issue

Sedekah dan Zakat

Kesehatan

Fakta

Sholat

Latest Comments

    , , , , ,
    ”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.“ (Q.,s.58/al-Mujaadalah:22).

    Menurut beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.

    Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah

    Ibnul Jarrah adalah seoerang panglima yang cerita kemenangan dan suksesnya menjadi pembicaraan dunia. Ia adalah seorang yang mengesampingkan gemerlapnya dunia yang palsu dan menerjunkan dirinya ke dalam berabagai medan perang mencari mati syahid, tetapi selalu saja Allah memberinya hidup.

    Dia seorang yang kuat yang dapat dipercaya, yang pernah dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi guru di Najran dan salah seorang diantara sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

    Dia adalah soerang panglima yang pernah memohon kepada Allah supaya hari terakhirnya ditentukan di tengah-tengah tentaranya. Allah berkenan mengabulkan permohonannya itu.

    Itulah garis-garis besar kepribadian amiinul ummah “kepercayaan umat Islam”, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, penyebar kalimat “Allahu Akbar” di negeri Syam dan sekitarnya.

    Ada orang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar, “bagaimana dengan Ibnul Jarrah?”.

    “Rahimahullah! Dia seorang yang selalu berwajah cerah, baik akhlaknya dan seorang pemalu”, jawab Abdullah.

    Sejarah tidak mencatat masa-masa mudanya bersama dengan rekan-rekan sebayanya, tetapi sejarah merekam semua langkahnya ketika menuju ke Baitul Arqam, bergabung dengan kelompok orang-orang Mukmin yang telah memilih Islam sebagai agamanya, beriman kepada Allah sebagai Tuhannya, dan menerima Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan rasulNya.

    Menurut sejarah, Ibnul Jarrah tergolong orang pertama y ang menyambut seruan Islam. Ia bersama beberapa orang rekannya; Utsman bin Mazh’un, ‘Ubaidah ibnul Harits bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Salamah bin Abdul Asad, pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau membukan sekolah dan dakwahnya di Darul Arqam. Beliau menawarkan Islam kepada mereka dan membentangkan apa-apa yang berkenaan dengan agama itu, lalu mereka menerima tawaran itu dengan puas dan ikhlas. Sejak saat itulah, ia dan rekan-rekannya itu menjadi manusia baru, seakan-akan terputus hubungannya dengan manusia lama yang bergelimang kejahiliahan dalam keyakinan dan penyembahan berhala.

    Pada waktu kaum Quraisy memaklumkan perang terhadap kelompok orang mukmin yang tiada berdaya dan berdosa, dengan melakukan pengejaran dan penyiksaan di luar abatas kemanusiaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan izin kepada kelompok itu berhijrah ke Habasyah. Diantara para Muhajirin yang menyelamatkan agamanya dari keganasan kaum Quraisy itu ialah Abu ‘U baidah ibnul Jarrah.

    Meskipun sambutan dan penerimaan raja Habasyah sangat baik terhadap mereka, mereka diterima dengan hormat dan didekatkan dari majelisnya, semua kebutuhan dan hajat keluarganya dipenuhi, baik moral maupun material, namun semua itu tidak berarti bagi mereka daripada kehidupan di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ; setiap hari mengikuti pelajaran dan bimbingannya, dalam upaya mempertebal keimanannya. Tidaklah heran, ketika mereka mendengar berita bahwa telah dicapai kesepakatan antara Muhammad dan kaum Quraisy, berita gembira itu membangkitkan semangat mereka untuk segera pulang kembali ke Mekkah tanpa mengecek kebenarannya lagi. Setibanya mereka disana, mereka malah mendapat penyiksaan yang lebih ganas dari kaum Quraisy, sampai ada diantaranya yang tewas oleh dendam hitam yang memenuhi lubuk hati musuh terhadap tunas dakwah yang baru merintis itu.

    Akibat teror ganas kaum Quraisy itu, penduduk kota Mekkah hidup dalam ketakutan dan kegelisahan yang tiada terperikan. Ibnul Jarrah tak lama tinggal di Mekkah, begitu pula rekan-rekannya yang lain. Kaum Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berhasil keluar menembus kepungannya dan pergi berhijrah ke Yatsrib, tempat yang dijadikan model dan landasan bertolak nya Islam dan kaum Muslimin, negara tempat menggembleng para pahlawan, negarawan, alim ulama yang akan dilepaskan ke seluruh penjuru dunia untuk membimbing dan memimpin umat manusia ke jalan Tuhan Yang Maha Satu, dengan rasa puas dan ikhlas.

    Jalan antara Mekkah dan Yatsrib menjadi saksi ketika Ibnul Jarrah melepaskan kendali kudanya menggulung bumi dan bersaing dengan angin, mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya ke Yatsrib. Ketika sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah, ia hampir tidak dikenal lagi karena debu padang pasir yang ditempuh tanpa henti hampir menutupi wajahnya. Setiba di sana, ia disambut baik oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az.

    Saad bin Mu’az adalah orang yang telah mempersembahkan diri dan harta bendanya di jalan Allah dan tidak sudi berkompromi dengan kaum Yahudi, sesudah mereka mengkhianati perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ia terluka parah dalam perang Ahzab. Ia memohon kepada Allah Ta’ala agar jangan dimatikan sebelum matanya puas melihat Yahudi Bani Quraizhah dihukum. Ternyata, Allah mengabulkan doanya. Bani Quraizhah menolak keputusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan minta diputuskan oleh Sa’ad bin bin Mu’az, bekas sekutu mereka. Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta supaya Sa’ad memberikan keputusannya. Diputuskanlah; semua laki-laki Bani Quraizhah dibunuh, kaum wanita dan anak-anaknya ditawan dan harta bendanya dirampas.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar atas keputusan Sa’ad itu, “engkau telah memberikan keputusan dengan hukum Allah dari atas langit yang ke tujuh”.

    Sejak menginjakkan kakinya di Yatsrib, sejak itu pulalah Abu ‘Ubaidah mnganggap bumi itu sebagai tanah air agama dan dirinya yang harus dipertahankan mati-matian. Ia melakukan tugas kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak pernah absennya di semua peperangan bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam .

    Dalam perang Badar, ia selaku tentara, harus senantiasa patuh kepada perintah panglimanya. Sebagai seorang mukmin, ia mempunyai pandangan, sikap dan garis tegas yaitu bahwa semua yang berperang di bawah panji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengucapkan kalimat tauhid, mereka adalah saudara, keluarga dan kawan-kawannya, meskipun berbeda asal-usul, warna kulit dan darahnya. Semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka, mereka adalah musuh aqidah dan lawan dirinya, meskipun mereka keluarga terdekatnya.

    Dengan logika dan pemahaman seperti itu terhadap aqidah dan agamanya, dan perannya sebagai seorang mukmin, maka ketika ia melihat ayahnya ikut menghunus pedang di tengah-tengah pasukan kaum musyrikin, membunuh saudara-saudaranya sesama mukmin, majulah ia menghampirinya, tetapi ayahnya menghindarinya. Walaupun demikian, ia mengejarnya dan memberikan pukulan yang mematikan.

    Ayahnya adalah kafir, menyekutukan Tuhannya dengan yang lain; kafir terhadap Tuhan Yang menciptakannya; ia mengangkat senjata hendak menumpas agama Tuhannya dan para pendukung agama tersebut. Oleh karena itu, ia sudah tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Siapa yang hidupnya sudah tidak berguna bagi Tuhannya niscaya tidak berguna juga bagi seluruh umat manusia.

    Dalam perang Uhud, ketika peperangan itu sudah mencapai puncaknya, dimana pihak musuh sudah berhasil mengepung ketat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau sebagai sasaran tunggal anak panah dan senjata lainnya, Abu ‘Ubaidah dan beberapa orang rekannya menghunus pedangnya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan ganas musuh sehingga darah mengucur dari wajah beliau dan beliau mengusahpnya dengan tangan kanannya seraya mengucapkan, “Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya lerluka wajahnya?”.

    Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallâhu ‘anhu melukiskan peran yang dimainkan Abu ‘Ubaidah dalam perang Uhud itu, “pada waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkena dua kali bidikan anak panah pada tulang pipinya, lalu aku segera pergi menghampirinya. Ternyata dari sebelah timur ada orang lain yang mendahuluiku, menghampirinya dengan cepat pula. Aku berkata, “Ya Allah, jadikanlah hal itu sebagai kepatuhan kepada Mu”.

    Sesudah itu, sampailah aku di dekat Rasulullah. Aku melihat Abu ‘Ubaidah sudah sampai terlebih dahulu, lalu ia berkata, “Ya Abu Bakar, aku mohon kau membiarkan aku melepaskan panah itu dari wajah Rasulullah !”. Aku membiarkan Abu ‘Ubaidah melepaskan mata anak panah itu dengan gigi depannya dan ia berhasil mencabutnya, tetapi ia terjatuh ke tanah dan giginya pun patah.

    Selanjutnya, ia mencabut mata anak panah yang kedua hingga gigi depannya yang satunya patah juga. Sejak itu, Abu ‘Ubaidah ompong gigi depannya.

    Dalam perang Dzatus Salaasil, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskannya memimpin pasukan para shahabatnya (diantaranya Abu Bakar dan Umar) sebgai bala bantuan untuk Amru bin Ash. Setibanya pasukan itu, Amru berkata kepadanya, “Ya Aba ‘Ubaidah, kau didatangkan sebagai bala bantuan untuk pasukanku”.

    Abu ‘Ubaidah menjawab, “Tidak.. Aku dengan pasukanku dan kamu dengan pasukanmu, masing-masing memimpin pasukannya”.

    Amru bin Ash menolak adanya banyak pemimpin, ia tetap menganggap pasukan Abu ‘Ubaidah yang baru datang itu harus ada di bawah pimpinannya sebagai bala bantuan.

    Abu ‘Ubaidah berkata, “Ya Amru, Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku , kalian berdua jangan berselisih!. Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu!”.

    Alangkah indahnya kata-kata dan sikapnyaitu?”.

    Demikianlah, Islam berhasil menciptakan manusia model, insan kamil yang diasuh Tuhannya, ruh dan kalbunya dimumikan dari sifat-sifat kebumian dan keremehan manusiawi.

    Alangkah jujurnya kata-kata itu dalam nilai kejantanan seseorang, “kalau kau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”, pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin dan agama Islam menuntut persatuan dan kekompakan.

    Pada suatu waktu, datanglah perutusan dari Najran kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta supaya bersama mereka dikirimkan seorang agama, mengajarkan hukum-hukum syariat kepada mereka, dan merangkap sebagai penengah (hakim) apabila terjadi perselisihan antara mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjanji kepada mereka, “nanti malam, kalian datang kembali, aku akan mengirimkan bersama kalian seorang yang terpercaya”.

    Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, “aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu apda waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, lalu beliau berseru: “kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya”.

    Demikian keterangan yang jujur dari Umar ibnul Khaththab.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah”.

    Tepat sekali sebda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, ibnul Jarrah adalah seorang kepercayaan dalam akhlaknya, tidak seorang muslimpun merasa dirugikan olehnya.

    Ia kepercayaan dalam agamanya, ia berusaha keras menggalakkan dakwah secara merata. Ia kepercayaan dalam memelihara batas-batas negara sehingga semua pihak menghargai kewibawaan dan kekuasaannya.

    Bagaimana tidak demikian, dia adalah salah seorang dari sepuluh orang pertama yang masuk Islam dan salah seorang dari sepuluh orang yang dinyatakan akan mendapatkan surga.

    Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, banyak orang yang datang hendak membaiat Abu ‘Ubaidah menjadi khalifah, tetapi ia menjawab, “apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga”.

    Yang ia maksudkan adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakar di Gua Hira’, “Di waktu dia berkata kepada temannya,’janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah beserta kita”. (Q,,s. at-Taubah: 40).

    Pada waktu itu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu termasuk salah seorang yang datang kepadanya, seraya berkata, “ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kau, hai kepercayaaan umat, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “.

    Abu ‘Ubaidah, menjawab, “belum pernah aku meolihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaiatku, sedangkan ash-Shiddiq, shahabat kedua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira’, ada di tengah-tengah kita?”.

    Rupanya teguran Abu ‘Ubaidah itu menyadarkan Umar. Ia lalu mengirimkan orang untuk memanggil Abu Bakar di rumah Aisyah, Ummul Mukminin, lalu ketiganya pergi ke Saqifah Bani Saa’idah. Setibanya disana, mereka mendapatkan kaum Anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar bertanya keheranan, “ada apa ini?”.

    Mereka menjawab, “dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir”.

    Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: “para amir dari kami dan para wazir (menteri) dari kalian”. Sambutnya lagi, “aku setuju kalau kalian mengangkat salah seorang diantara dua orang ini; Umar ibnul Khaththab dan Abu ‘Ubaidah, kepercayaan umat ini”.

    Kedua orang itu menyatakan, “Tidak mungkin ada seorangpun yang mengungguli kedudukanmu, ya Aba Bakar!”. Keduanya lalu membaiatnya.

    Itulah para pengikut dan shahabat Muhammad, yang telah mendapatkan gemblengan Al-Qur’anul Karim dan mendapatkan rintisan tata cara hidup melalui petunjuk dan pengajarannya.

    Suatu waktu, Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu selaku khalifah Islam mengangkat Abu ‘Ubaidah menjadi komandan pasukan kaum muslimin di Syam, menggantikan Khalid bin Walid . Pada waktu itu, Khalid sedang ada di medan perang menggempur musuh-musuh Islam. Ia tidak segera memberitahukan berita pengangkatannya dan pemecatan Khalid itu, sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasanya. Sesudah Khalid mendengar berita pemecatannya dan pengangkatan Abu ‘Ubaidah sebagai penggantinya maka dalam serah terima jabatan itu, Khalid berkata, “kini, telah diangkat untuk memimpin kalian kepercayaan umat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah”.

    Abu ‘Ubaidah menyambut perkataan itu, “aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Khalid adalah salah satu dari pedang-pedang Allah, ya pemuda idaman”.

    Itulah jabatan kepanglimaan, tetapi tidak menyombongkan mereka. Itulah kepangkatan dan jabatan tinggi dunia, namun mereka tidak lupa daratan karena risalah atau misi mereka terbatas dan tugas mereka jelas, seperti yang dikatakan Rabi’ bin Amir, “Allah telah mengirimkan kami untuk mengeluarkan orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya, dari mengabdikan diri kepada hambaNya kepada pengabdian diri kepada Allah semata”.

    Kalau jabatan dan kepangkatan tidak bisa menggiurkan dan menggugurkan mereka, begitu pula dengan bujuk rayu dunia lainnya.

    Pada suatu waktu, Umar ibnul Khaththab mengirim uang kepada Abu ‘Ubaidah sebesar empat ribu dirham dan empat ratus dinar, lalu ia berpesan kepada pesuruhnya, “perhatikan apa yang dilakukannya”.

    Sesudah uang itu dibagi-bagikan, pesuruh itu melaporkan kepada khalifah Umar. Umar berkata: “Alhamdulillah, yang menjadikan dalam kalangan kaum muslimin orang yang melakukan hal itu”.

    Ketika khalifah Umar datang ke negeri Syam, ia dijemput oleh para perwira militer dan pejabat sipil. Ia bertanya, “mana saudaraku?”.

    Mereka bertanya keheranan, “siapa dia, ya Amiral Mukminin?”.
    Ia menjawab,”Abu Ubaidah”.
    Mereka menjawab, “Ia segera datang”.

    Tak lama, ia datang dengan menunggang seekor unta, lalu ia memberikan salam kepada khalifah. Khalifah lalu memerintahkan para penyambutnya pulang kembali dan membiarkannya bersama Abu ‘Ubaidah. Keduanya pergi ke rumah Abu ‘Ubaidah. Setiba di sana, Khalifah Umar tidak melihat sesuatu apapun selain pedang dan perisainya. Umar bertanya kagum, “mengapa kau tidak memiliki sesuatu?”.

    Abu ‘Ubaidah menjawab, “ya Amiral Mukminin, ini pun akan menghantarkan kita ke tempat peristirahatan kita”.

    Umar tidak melihat perabotan dan perhiasan mewah di rumahnya karena ia bukan seorang yang senang duduk-duduk di rumah, tetapi seorang lapangan yang selalu memandang jauh kepada apa yang ada di balik kehidupan ini. Adapun orang-orang yang suka bergelimang dalam kesenangan hidup, mereka sudah terperangkap jaringan setan yang sulit untuk membebaskan dirinya. Dia tahu menempuh jalan hidup dunia menuju perumahan kehidupan abadi di akhirat.

    Kalau demikian watak keras dan kuat Abu ‘Ubaidah menghadapi kehidupan ini, mendalam pengertiannya menempuh hidup dan menghadapi orang hidup, konsekuen mempertahankan kebenaran, maka dengan sendirinya ia tidak akan sudi berkompromi dengan kebatilan dan bermanis-manis dengan kecurangan, tidak peduli kedudukan dan asal-usul seseorang yang dihadapannya.

    Pada suatu hari, Jabalah ibnul Aiham, raja Ghassan, masuk Islam, sesudah menerima baik surant Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengundangnya untuk menganut agama itu. Pada suatu waktu ia berjalan di pasar kota Damaskus, tiba-tiba kakinya menginjak kaki Muzniah, lalu ia langsung menampar Jabalah. Muzniah lalu digiring kepada Abu ‘Ubaidah untuk diadili. Mereka berkata, “tuan Hakim, orang ini telah menampar raja Jabalah”.

    “Dia harus ditampar juga!”.
    “Apa tidak dibunuh?”.
    “Tidak”.
    “Apa tidak dipotong tangannya?”.
    “Tidak, Allah hanya memerintahkan dilakukan qishash, ditindak sama dengan perbuatannya”.

    Jabalah berkata, “apakah kalian mengira aku mau menjadikan wajahku perumpamaan bagi wajah nenek moyangku?”. Ia lalu meurad kembali menjadi Kristen dan pergi menyeberang bersama kaumnya ke negeri Romawi.

    Negeri Syam hamnpir seluruhnya ditaklukkan, tinggal beberapa buah benteng musuh yang masih dipertahanka. Ketika pasukan Islam di bawah pimpinan panglimanya, Abu ‘Ubaidah, hendak memulai pertempuran baru untuk merebut benteng-benteng yang masih dipertahankan musuh itu, tiba-tiba terjadi serangan penyakit menular hebat di kalangan pasukan kaum muslimin. Mendengar berita mengerikan itu, Khalaifah Umar ingin menyelamatkan Abu ‘Ubaidah dari cengkeraman maut itu, lalu ia menulis surat memerintahkan supaya ia keluar dari negeri itu. Isi surat itu antara lain:

    “Salam sejahtera kepadamu. Lain dari itu, akau ingin menawarkan sesuatu kepadamu, harapanku apabila engkau menerima suratku ini supaya lekas-lekas datang menghadapku !”.

    Abu ‘Ubaidah paham maksud Khalifah itu, lalu ia membalasnya,

    “Ya Amiral mukminin, aku sudah paham maksudmu. Aku ada di tengah-tengah pasukan kaum muslimin, tidak bermaksud mengutamakan keselamatan diri atau memisahkan diri dari mereka, hingga Allah menentukan apa yang Dia kehendaki terhadapku dan mereka, dan bebaskanlah aku dari tawaran dan harapanmu itu!”.

    Abu ‘Ubaidah rahimahullah wafat karenba penyakit menular itu pada tahun 18 H dalam usia 58 tahun.

    Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kalau usia Abu ‘Ubaidah lanjut, akau akan mengangkatnya menjadi penerusku. Kalau Allah bertanya, atas dasar apa kau mengangkatnya, aku akan menjawab, “aku pernah mendengar Nabi-Mu mengatakan “Dia kepercayaan Umat ini”.

    Sebab Turunnya Ayat

    Firman Allah,
    “Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang itu ayah-ayah, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dariNya…”. (Al-Mujaadalah: 22).

    Dikatakan diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah radhiallâhu ‘anhu ketika ia membunuh ayah kandungnya dalam perang Badar.

    Ada lagi sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada sekelompok orang Islam pertama, yang mengatakan dengan tegas bahwa ikatan aqidah bagi mereka lebih utama daripada ikatan keturunan dan keluarga. Bagi mereka, ikatan aqidah merupakakn ikatan berbagai macam warna kulit, bangsa dan kedudukan, dihimpun dalam suatu kekeluargaan yang saling mengasihi dalam wadah umat, di bawah pimpinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bimbingan kalamullah:Al-Qur’anul Karim.

    Mereka mengatakan juga bahwa firmanNya,”….sekalipun orang itu ayah-ayah…”, diturunkan berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah ketika ia membunuh ayah kandungnya sendiri, dan kalimat “…..atau anak-anak….” Diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallâhu ‘anhu ketika ia mengejar anaknya sendiri, Abdurrahman bin Abu Bakar, hendak membunuhnya; dan kaomat, “…ataupun keluarga mereka….”diturunkan berkenaan dengan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu yang membunuh keluarganya sendiri dalam perang itu. Juga diturunkan berkenaan dengan Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib dan ‘Ubaidah ibnul Harits, semuanya telah bertarung dalam perang itu dan membunuh keluarganya sendiri, antara lain: Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan al-Walid bin Utbah.

    Sebagai pelengkap dari ketegasan sikap iman kaum muslimin itu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan para shahabatnya tentang tindakan yang kan dilakukan terhadap para tawanan perang Badar itu, Abu Bakar ash-Shiddiq mengusulkan, “mereka diberi kesempatan menebus dirinya, untuk memperkuat dana perjuangan kaum muslimin dan juga mengingat mereka masih merupakan sanak keluarga. Diharapkan, sikap lunak itu akan menggugah hati mereka menemukan hidayah Allah”.

    Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu berpendapat, “aku tidak sependapat dengan yang lain, ya Rasulullah! Berikanlah kesempatan kepadaku membunuh keluargaku sendiri. Ali sudah berhasil membunuh saudaranya sendiri, Aqil. Si fulan sudah membunuh keluarga kaaribnya sendiri untuk dibuktikan kepada Allah bahwa dalam hati kita tidak terdapat lagi keakraban dan rasa kasihan dengan kaum musyrikin”.
    Setelah percakapan itu, turunlah ayat tersebut.

    Renungan

    Dalam waktu relatif singkat, Islam berhasil memurnikan kejiwaan umat Islam dan menghilangkan cemar dan kotoran yang semula bermukim dalam batinnya, sehingga ia menjadi manusia baru, tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berkhianat, tidak curang, tidak suka memata-matai orang lain, ikhlas kepada aqidahnya lebih dari ikhlashnya kepada dirinya, patuh kepada perintah Allah dan RasulNya, setia kawan dan cinta kepada sesama saudaranya dalam Islam lebih dari setia kawannya terhadap keluarga dan kerabat sendiri, selama mereka tidak Islam.

    Ketika firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 24 diturunkan (Katakanlah, ‘jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq’). Sejak itulah kaum Muslimin mengesampingkan semua kelezatan. Kelemahan insani terhadap ayah, anak, isteri, keluarga, harta kekayaan dan semua tuntutan hajat kemanusiaan, mereka letakkan semua itu diatas piring timbangan; kecintaaan kepada Allah, RasulNya, dan jihad di jalan Allah, mereka letakkan diatas piring timbangan yang lain. Ternyata, kecintaan mereka lebih berat kepada yang kedua. Dengan sendirinya, jiwa mereka menjadi terhormat dan meningkat, tidak suka bergelimang dengan nafsu hewani dan melepaskan diri dari keterikatan sifat bumi.

    Berikut ini contoh-contoh yang kami kutip dari sejarah kaum muslimin.
    Umar bin Sa’ad diasuh oleh bapak tirinya, Jullas bin Suwaid ibnush Shamit, setelah ayahnya wafat.
    Pada suatu hari, ia mendengar Jullas menyerang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata-kata yang pedas, lalu ia menegur ayah tirinya itu, “Demi Allah, ya Jullas, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang paling murah hati dan orang yang paling aku sayang jangan sampai terkena malapetaka. Akan tetapi, engkau mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Kalau aku melawanmu, itu akan membuat kamu malu, tapi kalau aku diam, agamaku akan rusak dan kedua-duanya berat bagiku…”

    Ia lalu meninggalkan rumahnya, pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan soal Jullas kepada beliau. Demikianlah ia memenangkan ikatan agama diatas ikatan kekeluargaan dan dunia, meskipun ia menghadapi risiko kekurangan dan kelaparan.
    Ketika Zaid bin Datsinah hgendak dibunuh oleh kaum Quraisy, Abu Sufyan bin Harb menawarkan pembebasan kepadanya, “aku mengharap kau menjawab karena Allah, ya Zaid! Apakah kau senang sekiranya Muhammad ada disini menggantikan tempatmu dan kami penggal batang lehernya sedangkan kau akan kami bebaskan tinggal bersama keluargamu?”.
    Zaid menjawab dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak suka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam terikena tusukan sebuah duri sekalipun dan kau bebas di tengah-tengah keluargaku”.
    Komentar Abu Sufyan kepada kawan-kawannya, “aku belum pernah melihat seseorang yang mencintai orang lain seperti para shahabat Muhammad kepada Muhammad”.
    Kemudian mereka membunuh Zaid . Zaid syahid, namun, “sekolah keimanan” berhasil mengeluarkan ribuan kaum muslimin yang men cintai agama dan RasulNya lebih dari dirinya sendiri.
    Dalam sebuah pertempuran, seorang Anshar bertengkar dengan seorang Muhajirin, lalu Abdullah bin Ubay, tokoh tertinggi kaum munafik, mengancamnya, “kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya”.

    Banyak orang Islam menawarkan diri untuk membunuh Abdullah bin Ubay, tetapi Rasulullah selalu menolaknya. Sabdanya kepada Umar ibnul Khaththab, “ya Umar, bagaimana kata bangsa Arab kelak, Muhammad membunuh shahabatnya sendiri”.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memanggil putra Abdullah bin Ubay seraya bertanya, “apakah kau mendengar apa yang dikatakan ayahmu?”.
    Ia balik bertanya keheranan, “apa katanya, ya Rasulullah?”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dia mengatakan, ‘kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang dihinakannya”.
    Ia lalu berkata dengan gusar, “Allah dan RasulNya Maha benar, dan engkau, ya Rasulullah, demi Allah adalah orang terhormat dan mulia, dan dia adalah orang yang terhina. Sebenarnya penduduk kota Yatsrib tahu bahwa tidak seorang pun yang paling kasih sayang kepada kedua orang tuanya lebih dari aku, namun kalau Allah dan RasulNya menghendaki, aku siap membawa kepala keduanya kesini”.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “jangan!”.

    Ketika pasukan kembali ke Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay berdiri di pintu masuk kota Madinah dengan pedang terhunus, menantikan kedatangan ayahnya, seraya berkata, “ayahkah yang mengatakan, kalau kami kembali ke Madinah kelak, orang yang merasa dirinya terhormat akan diusir keluar oleh orang yang terhina? Demi Allah, kini, ayah akan mengetahui apakah orang yang terhormat itu ayah atau Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan ayah masuk kota kecuali dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam …”.

    Abdullah bin Ubay melaporkan hal itu kepada kabilahnya, al-Khazraj, “anakku melarangku kembali ke rumah!”. Ia mengulang kata-katanya dengan sedih.
    Berdatanganlah kaum muslimin kepada sang putra Abdullah bin Ubay supaya ia memperkenankan ayahnya masuk kota dan kembali ke rumahnya. Akan tetapi, ia malah bersikeras, “Demi Allah, dia tidak akan bisa masuk kota Madinah kecuali dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “.

    Beberapa orang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan peristiwa tersebut. Rasulullah bersabda, “pergilah dan katakan kepadanya supaya ayahnya dibiarkan kembali ke rumahnya!”.
    Sesudah ia mendengar perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berulah ia membiarkan ayahnya masuk ke dalam kota dan kembali ke rumahnya, seraya berkata, “kalau perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan ia masuk, baiklah!”.
    Kejadian semacam itu tidak hanya terjadi di kalangan kaum lelaki saja, tetapi di kalangan kaum perempuannya juga.
    Pada suatu waktu, Abu Sufyan pergi ke Madinah karena ada suatu urusan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . Ia pergi menemui puterinya yang juga isteri Rasulullah, Ummu Habibah. Setiba di sana, ia hendak duduk diatas sebuah permadani, tetapi Ummu Habibah menarik dan melipatnya. Abu Sufyan keget dan gusar, “puteriku! Aku tidak mengerti, apakah kau lebih menghargai ayahmu atau permadani itu?”.

    “Bukan begitu, Ia permadani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayah seorang musyrik dan najis”, jawab Ummu Habibah.
    Begitulah sikap wanita muslimah terhadap ayahnya sendiri, dihadapi dengan kata-kata benar dan tegas, menggugurkan pribahasa “semua wanita kagum pada ayahnya”.
    Ia tampar hakikat sikap ayahnya; orang-orang yang musyrik itu najis “at-Taubah:28).
    Jadi, selama ia tetap pada sikapnya, tidak mungkin ia menyentuh permadani itu, apalagi duduk diatasnya, meskipun ia bernama ayah yang memiliki berbagai hak dan kewajiban utama.

    Bukan semata-mata cinta, bukan hanya penghormatan dan sopan santun di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mereka berikan karena beliau telah mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, berjasa membebaskan mereka dari penyembahan berhala kepada penyembahan Yang Maha Satu, malah lebih hebat dari itu, mereka mempersembahkan nyawanya murah sekali demi melindungi Rasulullah.
    Dalam perang Uhud, Abu Dujanah menjadikan punggungnya sebagai perisai, melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan panah musuh. Ia tidak bergerak sedikit pun hingga Rasulullah berhasil diselamatkan. Apabila beliau selamat, mereka tidak mengindahkan apakah anak panah tersebut mengenai perut atau punggungnya.

    Itulah yang mereka lakukan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . Begitu pula mereka lakukan dalam membela agama, mereka tidak mempedulikan apa pun selain ingin memenangkan agama itu, ingin meninggikan kalimat Allah Ta’ala, berapapun harga yang harus dibayar. Apa yang terjadi dalam perang Badar adalah suatu bukti kesetiaan mereka terhadap agamanya, meskipun harus berhadapan dengan ayah, anak, saudara dan keluarga demi mempertahankan prinsip.

    Abu Bakar ash-Shiddiq di barisan kaum muslimin, sedangkan putranya, Abdurrahman, di pihak kaum musyrikin; begitu pula Utbah bin Rabi’ah bersama kaum Quraisy, sedangkan putranya, Abu Huzaifah, bersama kaum muslimin.

    Abdurrahman bin Abu Bakar berkata kepada ayahnya sesudah masuk Islam, “ayah selalu mengincarku dalam perang Badar dan aku selalu mengelak”.

    Ayahnya menjawab, “Demi Allah, kalau aku bertemu dengan kau, aku tidak akan mengelak”.

    Dalam peperangan ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah membunuh ayah kandungnya. Bukan karena ia ingin membunuh ayah kandungnya, tetapi karena ia seorang musyrik. Ketika ia mengayunkan pedangnya, seolah-olah ia menebas dan menumbangkan sebuah patung berhala, menumpas kesesatan yang menguasai umat manusia beberapa lamanya sehingga terjerumus mengabdikan diri kepada batu, pepohonan, bintang, dukun, jin dan lain-lain, dan memperkenalkan keimanan yang sebenarnya ke jalan yang menembus kalbu.

    ,

    Ia dikenal memiliki ilmu dan adab istimewa yang dikaruniakan Allah kepadanya, menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Hatinya dapat mengetahui apa yang tersembunyi.

    Bila Rasulullah SAW pergi ke berbagai medan perang, dia selalu ditunjuk menjadi wakil beliau di Madinah, mengimami shalat jamaah di mihrab beliau, dan berdiam di sebelah kiri mimbar dengan khusyuk.

    Pada awal sejarah Islam, Abdullah bin Ummi Maktum memperoleh hidayah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah memeluk Islam. Ketika itu ia masih muda belia, sehingga hatinya merasakan betul manisnya keimanan. Menginjak dewasa, dia merasakan bahwa ajaran Islam telah menjadikan hatinya bersih, sehingga walaupun matanya tak mampu melihat, namun itu merupakan nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepadanya.

    Ibnu Ummi Maktum mempunyai naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Setiap menjelang fajar, dengan perasaan jiwa yang segar ia keluar dari rumahnya, dengan bertopang tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang kaum Muslimin untuk mengumandangkan azan di masjid Rasul.

    Dia selalu bergantian azan dengan Bilal bin Rabah. Jika salah satu dari mereka berdua azan, maka yang lainnya bertindak mengumandangkan iqamat. Namun Bilal mengumandangkan azan semalam untuk membangunkan kaum Muslimin, sedangkan Ibnu Ummi Maktum mengumandangkannya waktu Subuh.

    Oleh sebab itulah, Rasulullah bersabda—terkait waktu sahur pada bulan Ramadhan, "Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan..."

    Allah telah memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Ketika Nabi sedang duduk bersama dengan para pemuka Quraisy, diantara mereka terdapat Uqbah bin Rabi'ah. Beliau bersabda, "Tidakkah baik sekiranya kamu datang dengan begini dan begini?"

    Kata mereka, "Benar!"

    Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum datang menanyakan tentang sesuatu kepada beliau, namun beliau mengelak karena sibuk berbicara dengan para tokoh Quraisy itu. Allah pun menurunkan ayat yang berbunyi: "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." (QS Abasa: 1-10).

    Sewaktu ayat ini turun, Rasulullah kemudian memanggil Ibnu Ummi Maktum dan memberinya suatu kehormatan dengan menunjuknya sebagai wakil beliau di Madinah pada saat beliau menghadapi peperangan untuk yang pertama kalinya.

    Suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum menyampaikan keinginannya untuk dapat ikut berjihad kepada para sahabat. Tentu saja para sahabat merasa sangat senang karena keutamaan yang dimiliki Ibnu Ummi Maktum. Walau matanya buta, telah lama ia mengharapkan dapat ikut berperang bersama Rasulullah dan pasukan Muslimin.

    Abdullah bin Ummi Maktum merasa sangat sedih dan pilu tatkala ayat turun wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi, "Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang)."

    Ia pun berkata, "Ya Allah, Kau memberiku ujian begini, bagaimana aku dapat berbuat...?" Kemudian turunlah ayat lainnya, "Selain yang mempunyai udzur..."

    Kemuliaan seperti apakah gerangan yang lebih tinggi dari penghormatan ini, di mana wahyu diturunkan dua kali lantaran persoalan Ibnu Ummi Maktum; yang pertama merupakan teguran terhadap Rasulullah SAW, dan yang kedua ketentuan berperang bagi orang yang mampu dan berhalangan, termasuk di antaranya adalah Abdullah bin Ummi Maktum.

    Walau demikian, Ibnu Ummi Maktum tetap mempunyai hasrat yang kuat untuk berjihad fi sabilillah bersama barisan kaum Muslimin. Dia telah mengutarakan hasratnya berulangkali. Dia berkata kepada para sahabat Rasulullah, "Serahkanlah panji kepadaku, karena sesungguhnya aku adalah seorang buta sehingga tidak akan dapat melarikan diri. Tempatkanlah aku di antara kedua pasukan!"

    Sang sahabat yang mulia dan agung ini tidak berakhir hayatnya sebelum Allah mengabulkan hasrat hatinya tersebut. Pada saat Perang Qadisiyah, ia turut berperang sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam. Dialah seorang buta pertama yang turut berperang dalam sejarah peperangan Islam.(Sumber)

    ,
    Ini adalah sebuah penggalan isi buku Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin, yang akan menukilkan beberapa kisah, perkataan dan tindak-tanduk Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah atau Amirul Mukminin (pemimpin umat Islam) ketika itu yang penuh hikmah. Tulisan ini sangat menggugah perasan yang membaca, tentang bagaimana seorang pemimpin yang sangat takut pada Allah, hidup sangat bersahaja, berhati lembut terhadap umatnya, dan memegang teguh amanah kepemimpinannya dengan sangat luar biasa. Semoga bermanfaat.

    Umar pernah berkata,

    “Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”

    Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.

    Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, “Tutup mulutmu, tutup mulutmu!” Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, “Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.”

    Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,”Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.”

    Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, “Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.”

    Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.

    Anas berkata, “Antara dua bahu dari baju Umar, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata pada anaknya, “Kita terlalu boros dan berlebihan.”

    Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.

    Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun surban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.

    Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, “Panggil kemari pimpinan wilayah ini.” Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar berkata padanya, “Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju.” Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, “Apa ini?” Dikatakan kepadanya bahwa baju ini terbuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa itu katun? “ Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya sendiri.

    Diriwayatkan dari Anas ia berkata, “Aku pernah bersama Umar, kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat, sementara jarak antara diriku dan dirinya hanyalah pagar kebun, aku dengar ia berkata pada dirinya sendiri, “Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul Mukminin, ya…engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah pasti akan mengazabmu.”

    Disebutkan bahwasanya Umar pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya.” Pernah beliau melaksanakan shalat Isya’ bersama kaum muslimin, setelah itu beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan shalat hingga fajar tiba.

    Pada tahun paceklik dan kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”

    Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.

    Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Suatu ketika Umar keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, “Mengapa lelaki ini (Umar) datang ke rumahmu?” Wanita itu menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku.” Aku berkata kepada diriku, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?”

    Aslam Maula Umar, pengawal Umar, berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?” Abdurrahman berkata, “Ya, aku setuju!” Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, “Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.” Kemudian Umar kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi.

    Setelah itu Umar kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, “Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?” Wanita yang tidak mengenali Umar itu menjawab, “Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu. Umar bertanya, “Kenapa engkau akan menyapihnya?” Wanita itu menjawab, “Karena Umar hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.” Umar bertanya kepadanya, “Berapa usia anakmu?” Dia menjawab baru beberapa bulan saja.” Maka Umar berkata, “Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?” Maka ketika shalat subuh bacaan Umar nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.

    Beliau lalu berkata, “Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.” Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, “Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.” Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.

    Aslam berkata, “Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, “Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedangkan aku tidak memiliki apapun.” Umar menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, istrinya, dan berkata, “Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu?” Segera Umar memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, “Ya, aku akan membantunya.” Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suaminya, yang tidak mengenal Umar, sambil berbincang-bincang.

    Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki.” Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar. Namun Umar berkata kepadanya, “Tidak mengapa.” Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.

    Aslam berkata, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar, kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar berkata, “Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.” Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan ke atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis. Umar bertanya, “Assalamu alaiki wahai pemilik api.” Wanita itu menjawab, “Wa alaika as-Salam,” Umar berkata, “Kami boleh mendekat?” Dia menjawab, “Silahkan!” Umar segera mendekat dan bertanya, “Ada apa gerangan dengan kalian?” Wanita itu yang juga tak mengenali Umar menjawab, “Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan.” Umar kembali bertanya, “Kenapa anak-anak itu menangis?” Wanita itu menjawab, “Karena lapar.” Umar kembali bertanya, “Apa yang engkau masak di atas api itu?” Dia menjawab, “Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar.”

    Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, “Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku.” Aslam berkata, “Biar aku saja yang membawanya untukmu.” Umar menjawab apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat?” Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, “Berikan aku piring kalian!” Setelah piring diletakkan segera Umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, “Makanlah!” Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.

    Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, “Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur.”

    Semoga sepenggal kisah yang penuh hikmah kehidupan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah ini bermanfaat. (sumber)


Blog Archive