Current Issue

Sedekah dan Zakat

Kesehatan

Fakta

Sholat

Latest Comments

    Sebuah kisah yang menceritakan detik-detik terakhir wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Manusia yang paling dicinta. Sebuah kisah yang menggambarkan cinta sang rasul yang sangat mengagumkan dan menggetarkan dada orang-orang yg beriman.

    Menjelang beliau wafat, beliau melakukan haji terakhir yang disebut sebagai haji wada’ (haji perpisahan).

    Saat beliau melakukan ibadah tersebut turunlah firman Allah SWT yg artinya:”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.al-Maidah:3)

    Maka menanggislah Abu Bakar as shiddiq ra.

    Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadanya:

    “Apa yg membuatmu menangis dalam ayat tersebut?”

    Abu Bakar ra menjawab:” Ini adalah berita kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”

    Kembalilah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari haji wada’ dan kurang dari tujuh hari wafat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, turunlah ayat al-Qur’an paling akhir yg artinya:

    “Dan peliharalah dirimu dari (azab yg terjadi pada) hari yg pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yg sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS.al-Baqarah:281).

    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mulai menampakkan sakit beliau. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku ingin mengunjungi syuhada ‘Uhud”, maka beliaupun berangkat pagi menuju syuhada ‘Uhud di awal-awal bulan Shafar tahun 11 H. Lalu berdiri diatas makam para syuhada dan berkata:

    ” Assalamu’alaikum wahai syhada ‘Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului kami dan kami insya Allah akan menyusul kalian, dan sesungguhnya aku, insya Allah akan menyusul kalian.”

    Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pulang sambil menangis. Maka para sahabat bertanya kepada Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Apa yang membuat anda menangis wahai Rasulullah ?

    ” Beliau bersabda: ” Aku merindukan saudara-saudaraku seiman.”

    Mereka berkata:” Bukahkah kami adalah saudaramu seiman wahai Rasulullah?”

    Beliau bersabda:” Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku, adapun saudara-saudaraku seiman adalah suatu kaum yg datang setelahku, mereka beriman kepadaku sedang mereka belum pernah melihatku.”

    Saya berdoa kepada Allah SWT mudah-mudahan kita semua termasuk mereka yg dirindukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Pada hari senin 29 Shafar beliau menghadiri jenazah di Baqi’. Ketika pulang beliau merasakan pusing di kepala dan panas badannya meninggi. Maka beliaupun mulai sakit dan terus bertambah sakit.

    Selama sakitnya itu beliau tetap memimpin shalat selama 11 hari dari 13 atau 14 hari masa sakit beliau. Sejak kamis malam, 4 hari sebelum wafat beliau, pada waktu shalat Isya’, beliau meminta agar Abu Bakar ra menggantikannya dalam memimpin shalat.

    Tiga hari sebelum beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau mulai mengeras. Beliau saat itu berada dirumah Sayyidah Maimunah ra.

    Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Kumpulkanlah istri-istriku.” Maka berkumpullah istri-istri beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda kepada mereka:” Apakah kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah ‘Aisyah?” Maka mereka menjawab:” Kami mengizinkan anda wahai Rasulullah.”

    Kemudian beliau berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali ibn Abi Thalib, dan al-Fadl ibn al-‘Abbas ra. Maka merekapun membopong Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu mereka memindahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari kamar Maimunah ra menuju kamar ‘Aisyah ra.

    Adapun para sahabat ra, baru pertama kali ini mereka melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibopong di atas dua tangan. maka berkumpullah para sahabat ra dan mereka berkata:” Apa yang terjadi pada Rasulullah, apa yang terjadi pada Rasulullah?”

    Mulailah manusia berkumpul di dalam masjid. Masjidpun mulai penuh dengan para sahabat ra.

    Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibawa menuju rumah ‘Aisyah ra.

    Mulailah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencucurkan keringat, berkeringat dan berkeringat.

    Berkatalah ‘Aisyah ra:”Sungguh belum pernah aku melihat ada seorang manusia yg berkeringat deras seperti ini.” Maka dia mengambil tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan dengannya dia mengusap keringat beliau.

    (Maka mengapakah dia mengusap keringat dg tangan beliau dan tidak mengusapnya dengan tangannya sendiri?)

    ‘Aisyah ra berkata:” Sesungguhnya tangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lebih lembut dan lebih mulia daripada tanganku, oleh karena itulah aku mengusap keringat beliau dengan tangan beliau dan tidak dengan tanganku.” (ini adalah sebuah penghormatan terhadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam)

    ‘Aisyah ra berkata:”Aku mendengar beliau berkata:”Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat, Laa Ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat.”

    Mulailah suara-suara didalam masjid meninggi.

    Bersabdalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Apa ini?”

    Berkatalah ‘Aisyah ra: “Sesungguhnya manusia mengkhawatirkan anda wahai Rasulullah.”

    Beliaupun bersabda: ”Bawalah aku kepada mereka.” Maka beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu. maka para sahabat menyiramkan tujuh qirbah (timba) air kepada beliau hingga beliau bangkit, dan membawa beliau naik ke atas mimbar.

    Jadilah khutbah tersebut adalah khutbah terakhir beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, menjadi kalimat terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan doa terakhir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Beliau bersabda:” Wahai manusia, kalian mengkhawatirkan aku?”

    Mereka menjawab:” Ya, wahai Rasulullah.”

    Bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:”Sesungguhnya tempat perjanjian kalian dengan aku bukanlah di dunia, tempat perjanjian kalian denganku adalah di haudh (telaga). Demi Allah, sungguh seakan-akan aku sekarang sedang melihat kepadanya di depanku ini. Wahai manusia, demi Allah, tidaklah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya dunia atas kalian, sehingga kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

    Kemudian beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Allah Allah, shalat, Allah Allah, shalat.” (maksudnya; Aku bersumpah demi Allah terhadap kalian agar kalian menjaga shalat) beliau terus mengulang-ulangnya, lantas bersabda:” Wahai manusia, bertakwalah kalian terhadap kaum wanita, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap kaum wanita.”

    Kemudian beliau bersabda:” Wahai manusia, sesungguhnya ada seorang hamba, yang Allah SWT telah memberikan pilihan kepadanya antara dunia dan antara apa yang ada di sisi-Nya, maka dia memilih apa yang ada di sisi-Nya.”

    Tidak ada yang memahami siapakah yang dimaksud dengan seorang hamba oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tadi, padahal yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah diri beliau sendiri.

    Allah SWT telah memberikan pilihan kepada beliau dan tidak ada seorangpun yang paham selain Abu Bakar ra.

    Dan kebiasaan para sahabat ra, saat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berbicara adalah mereka diam, seakan-akan ada seekor burung yang bertengger di atas kepala mereka.

    Maka saat Abu Bakar ra mendengar perkataan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia tidak mampu menguasai dirinya, dengan serta merta dia menangis dengan sesengukan, dan ditengah masjid dia memotong pembicaraan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata:

    ”Kami tebus anda dengan bapak-bapak kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan ibu-ibu kami wahai Rasulullah, kami tebus anda dengan harta-harta kami wahai Rasulullah.” dia mengulang-ulangnya, sementara para sahabat ra melihat kepadanya dg pandangan heran, bagaimana dia berani memotong khutbah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam?”

    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :”Wahai manusia, tidak ada seorangpun diantara kalian yg memiliki keutamaan di sisi kami melainkan kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak mampu membalasnya, maka aku tinggalkan balasannya kepada Allah SWT. Setiap pintu masjid ditutup kecuali pintu Abu Bakar ra tidak akan di tutup selamanya.”

    Kemudian mulailah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berdo’a untuk mereka dan berkata pada akhir do’a beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum wafat:

    ” Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian.”

    Dan kalimat terkahir yang beliau sampaikan sebelum beliau turun dari atas mimbar sambil menghadapkan wajah beliau kepada ummat dari atas mimbar adalah:

    ” Wahai manusia sampaikanlah salamku kpd orang yg mengikutiku diantara ummatku hingga hari kiamat.”

    Setelah itu beliaupun dibawa kembali ke rumah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

    Masuklah Abdurrahman ibn Abu Bakar, dan ditangannya ada sebatang siwak. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam terus melihat kearah siwak tersebut, tetapi tidak mampu berkata aku menginginkan siwak.

    ‘Aisyah ra berkata:”Aku paham dari pandangan kedua mata beliau, bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Maka aku ambil siwak itu darinya (yakni Abdurrahman ibn Abu Bakar), kemudian aku letakkan dimulutku, agar aku melunakkannya untuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian aku berikan siwak tersebut kepada beliau. Maka sesuatu yang paling akhir masuk ke dalam perut Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah air ludahku.”

    ‘Aisyah ra berkata: ”Termasuk sebuah keutamaan dari Rabb-ku atasku adalah Dia telah mengumpulkan antara air ludahku dg air ludah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebelum beliau wafat.”

    Kemudian masuklah putrid beliau Fathimah ra pada waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul awal 11 H, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya.

    Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.”

    Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya:” Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa.

    Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah ra: “Apa yg telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?” Fathimah ra berkata:” Pertama kalinya beliau berkata kepadaku:” Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.” Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku:” Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yg pertama kali akan bertemu denganku.” Maka akupun tertawa.

    Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kpd seluruh manusia yg hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.

    Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda:” Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.”

    Beliau bersabda:” Mendekatlah kepadaku wahai ‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah ra. ‘Aisyah ra berkata:” Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda:” Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih diantara kehidupan dunai atau Ar-Rafiqul A’la.

    Masuklah malaikat Jibril as menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata:” Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.”

    Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan untuknya wahai Jibril.”

    Masuklah malaikat Maut seraya berkata:” Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di Akhirat.”

    Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:” Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yg tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yg sebaik-baiknya.”

    ‘Aisyah ra menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, ketika beliau bersandar pada dadanya, dan dia mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a:

    “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.”

    Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata:” Wahai roh yg bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yg ridha dan tidak murka.”

    Sayyidah ‘Aisyah ra berkata:”Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”

    Dia ra berkata:”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

    Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib ra terduduk karena beratnya kabar tersebut,

    ‘Ustman bin Affan ra seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri.

    Adapun Umar bin al-Khaththab ra berkata:” Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dg pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa as pergi untuk menemui Rabb-Nya.”

    Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar ra, dia masuk kpd Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

    Keluarlah Abu Bakar ra menemui manusia dan berkata:” Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”


    Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yg paling mulia, orang yg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.


    Ya Allah, berikanlah rizqi kepada kami, syafaat kekasih kami Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan satu teguk air yg menyegarkan dari haudh (telaga) beliau dg tangan beliau yg mulia.


    Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad....


    (Dikutip dari majalah Qiblati edisi 07 tahun II)
    “Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah meridhai hamba-Nya yang makan sesuatu makanan, kemudian ia mengucapkan puji kepada-Nya atas makanan itu. Atau minum sesuatu, lalu ia memuji-Nya atas minuman itu (hadits bersumber dari Anas bin Malik ra.)


    Bentuk tubuh rasulullah saw

    1. Rasulullah saw. Bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawomatang. Rambutnya ikal, tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah swt(menjadi rasul )dalam usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di mekkah(sebagai rasul)sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke rahmatullah dalam usia enam puluh tiga tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    2. Rasulullah saw. Mempunyai bentuk tubuh yang sedang, tidak tinggi tidak pula pendek, serta bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku dan kehitam-hitaman warnanya(rambutnya).bila beliau berjalan, maka jalannya cepat (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    3. Rasulullah saw adalah seorang pria yang berperawakan sedang, bahunya bidang. Rambutnya yang lebat mencapai daun telinganya. Bila beliau mengenakan pakaian merah, tiada orang seorang pun yang perna kulihat lebih tampan darinya(hadits yang bersumber dari al-bara bin azib r.a)


    4. Aku tak perna melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.kedua bahunya bidang. Beliau bukanlah orang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi (hadits yang bersumber dari al-bara bin azib r.a)


    5. Nabi saw.tiadalah berperawakan tinggi pula pendek. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Kepalanya besar, demikian pula tulang persendiannya. Bulu dadanya memanjang. Bial beliau berjalan, berjalannya gontai seakan-akan sedang turun ke tempat yang rendah. Tidak pernah aku melihat orang seumpama beliau baik sebelum ataupun sesudahnya(hadits bersumber dari ali bin abi thalib k.w)


    6. Rasulullah saw tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambutnya tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik.bahunya bidang. Belau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila beliau berjalan, berjalan dengan seakan-akan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling . diantar kedua bahunya terdapat khatamun nubuwah yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah antara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang.perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barangsiapa yang melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa yang perna berkumpul dengannya, kemudian kenal padanya, tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “ belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa beliau saw (hadits bersumber dari ali bin abi thalib k.w)


    7. Rasulullah saw adalah seorang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya yang cerah bagaikan rembulan di malam purnama. Beliau lebih tinggi dari orang pendek dan lebih pendek dari pada orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang apabila beliau menyisir(rambutnya), maka dibelahnya menjadi dua. Bila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disusun dengan rapih, sehingga tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Diantara keduanya terdapat urat yang tampak kemerah-merahan ketika marah. Hidungnya mancung, di puncaknya ada cahaya yang memancar, hingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung. Jangutnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar(serasi dengan bentuk wajahnya), giginya agak jarang terapuh rapih, bulu dadanya halus, lehernya mulus dan tegak bagaikan leher kendi. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar dan tulang persendianya besar.badannya yang tidak ditumbuhi rambut Nampak bersih dan bercahaya.dari pangkal leher sampai ke pusat tumbuh bulu yang tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih selain yang disebut tadi. Kedua hasta, bahu dan dada bagian atas berbulu halus. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Bila ia berjalan, diangkat kakinya dengan tegap. Ia melangkah dengan mantap dan berjalan dengan sopan. Jalannya cepat, seakan beliau turun ketempat yang rendah. Bila beliau menoleh seseorang, maka beliau memalingkan seluruh badannya. Pandangan matanya terarah ke bawah, hingga pandangannya ke bumi lebih lama dari pandangannya ke langit. Pandangannya penuh makna. Bila ada sahabat berjalan, maka beliau berjalan dibelakangnya dan bila berpapasan maka beliau menyapanya dengan salam(hadits yang bersumber dari hasan bin ali r.a)


    8. Rasulullah saw, mempunyai mulut yang lebar(serasi dengan wajahnya), mata yang lebar dan tumit yang tipis.


    Syubah berkata: ‘aku bertanya kepada simak perihal pengertian mulut yang besar


    Ia menjawab: ’ besar bentuk mulutnya(seimbang dengan raut mukanya)


    Aku bertanya lagi: ‘ apa artinya bermata lebar?’


    Ia menjawab: “belahan matanya panjang”


    Aku bertanya lagi: “apa artinya bertumit tipis’


    Ia menjawab:’ daging tumitnya sedikit (hadits yang bersumber dari jabir bin samurah r.a)



    9. Aku melihat Rasulullah saw. Di suatu malam yang berbulan purnama. Waktu itu beliau memakai pakaian merah. Aku berganti-gantiu memandang antara beliau dengan rembulan, ternyata beliau lebih indah daripada rembulan(hadits yang bersumber dari jabir bin samurah r.a)


    10. Apakah wajah rasullullah saw itu lancip bagaikan pedang?’ Al-Bara menjawab: ‘ tidak, wajah beliau bagaikan rembulan(hadits yang bersumber dari Abi Ishaq r.a)


    11. Rasulullah saw ber kulit putih seakan akan terbentuk dari perak dan rambutnya ikal bergelombang(hadits yang bersumber dari Abu Hurairah r.a )


    12. ‘telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun nabi Musa a.s bagaiakan seorang laki-laki dari suku syanu’ah(terdapat di yaman, perawakan mereka sedang). Kulihat pula Nabi Isa bin maryam a.s ternyata orang yang pernah kulihat dan mirip keadaan adalah Urwah bin Masud(sahabat rasulullah saw), kulihat pula Nabi Ibrahim a.s, ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu nabi saw sendiri). Kulihat jibril a.s ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah(sahabat rasulullah saw) (hadits yang bersumber dari jabir bin Abdullah r.a)


    13. Aku melihat rasulullah saw…tak seorang pun yang melihatnya yang masih hidup selain aku dipermukaan bumi ini.’


    Said al-jurairi bertanya : coba jelaskan sifatnya kepadaku!


    Ia menjawab (warna kulitnya )putih, tampan dan berperawakan sedang(hadits yang bersumber dai said al-jurairi r.a)



    14. Rasulullah saw mempunyai gigi seri yang renggang. Bila beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar dari antara kedua gigi serinya itu(hadits bersumber dari ibnu abbas r.a)





    Budi pekerti rasulullah saw


    “ serombongan orang datang pada zaid bin tsabit ra.mereka berkata kepadanya: ajarakanlah kepada kami berberapa hadits rasulullah saw,,!


    Zaid bin tsabit r.a menjawab: apa yang jarus kuceritakan tentang sabda rasulullah saw,kepada kalian? Aku adalah orang dekatnya (pemegang amanatnya). Bila wahyu turun, beliau kirim utusan untu memanggilku, maka kutuliskan wahyu itu untuknya bila kami becerita tentang dunia, beliau menceritakannya bersama kami, bila kami bercerita tentang akhirat, beliau menceritakannya bersama kami, bila kami mencritakan tentang makanan, beliau menceritakannya bersama kami. Semua ini kuceritakan kepada kalaian dari rasulullah saw.’(hadits yang berumber dari kharijah bin zaid bin tsabit r.a)



    ‘rasulullah saw menghadapkan wajah dan pembicaraannya kepadaku sehingga aku menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (manusia). Lalu aku bertanya: wahai rasulullah! Apakah aku atau abu bakar yang lebih baik?


    Rasulullah saw bersabda :’ abu bakar’


    Aku bertanya lagi: wahai rasulullah!apakah aku atau umar yang lebih baik?’


    Rasulullah saw bersabda: ‘ umar”


    Lalu aku bertanya lagi : apakah aku atau ustman yang lebih baik?



    Rasulullah saw bersabda : ‘utsman”


    mungkin apabila aku bertanya lagi kepada rasulullah saw, beliau akan membenarkan aku. Maka timbullah (penyesalan di dalam hati) , seharusnya aku tidak bertanya lagi kepadanya (hadits yang berumber dari Amr bin ash r.a)



    ‘ aku menjadi pembantu rasululah saw. Selama sepuluh tahun (selama itu)beliau tidak pernah mengatakan “uf” (hus). Dan tidak pernah beliau berkata kepadaku karena sesuatu yang kukerjakan (dengan perkataan):’ mengapa kau kerjakan begini!’ dan tidak pula karena ada sesuatu yang tidak kukerjakan (beliau berkata): ‘mengapa tidak kau kerjakan!’


    Rasulullah saw. Adalah sebaik-baiknya manusia ditinjau dari segi akhlaknya. Tidak pernah aku menyentuh kain yang terbuat dari bulu dan sutera,tidak pula sutera asli dan tidak pula sesuatu lainnya, yang lebih lembut dari telapak tangan tangan rasulullah saw.tidak pula aku perna menyium kesturi atau minyak wangi yang lebih wangi dari keringat rasulullah saw (hadits yang berumber dari anas bin malik r.a)







    Rasulullah saw bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengelurakan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan beliau suka memaafkan dan berjabat tangan (hadits yang berumber dari Aisyah r.a)



    Rasulullah saw, tidak perna memukul sesuatu dengan tangannya,kecuali tatkala beliau berjihad fi sabilillah. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan wanita (hadits yang berumber dari Aisyah r.a)



    Aku tidak pernah melihat rasulullah Saw. Membalas suatau aniaya yang ditimpakan orang kepada dirinya selama orang itu tidak menghina kehormatan allah swt tapi, bila sedikit saja kehormatan Allah swt dihina orang, maka beliau merupakan orang yang paling marah karenannya. Dan seandainya dimintakan kepadanya untuk memilih di antara kedua perkara, pastilah beliau akan memilih yang paling mudah, selama perkara itu tudak meyangkut maksiat (hadits yang berumber dari Aisyah r.a)



    Seorang laki-laki minta idzin untuk bertamu kepada rasulullah saw. Sewaktu aku(Aisyah r.a) berada disamping beliau. Beliau bersabda: sejahat-jahat ibnul Asyirah(pemimpin suku) adalah dia’. Atau :’sejahat-jahat akhul ‘Asyirah (pemimpin suku) adalah dia


    Kemudian rasulullah saw.memberinya izin manakala ia masuk (rumah), rasulullah saw Berkata lembut kepadanya. Setelah ia keluar aku(Aisyah) bertanya: wahai rasulullah!engkau telah mengatakan (menyumpahi)tentang dia, tapi engkau berkata lembut padanya?


    Beliau bersabda:’wahai aisyah!sesungguhnya sejahat-jahat manusia ialah orang yang ditinggalkan sesama (manusia) atau orang yang dibiarkan sesamanya karena takut kejahatannya (hadits yang berumber dari Aisyah r.a)



    Husein (saudaranya) berkata: “ aku bertanya kepada ayahku (ali bin abi tahlib ra) tentang perilaku nabi saw. Pada sahabat-sahabatnya


    Ayahku berkata: rasulullah saw adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya. Tawadlu, tidak bengis, tiada kata kasar , tiada bersuara keras, tiada berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan juga tiada kikir. Beliau membiarkan (tidak mencela) apa yang tidak disenanginya. Beliau tidak menjadikan orang yang mengharapkan (pertolongannya) menjadi putus asa, tiada pula menolak untuk itu. Beliau tinggalkan dirinya dari tiga perkara, yaitu: dari perbantahan, menyombongkan diri, dan dari sesuatu yang tidak selayaknya.


    Beliau tinggalkan orang lain dari tiga perkara, yaitu; beliau tidak mencela sesorang, beliau tidak membikin malu orang, dan beliau tidak mencari ke-aib-an orang.


    Beliau tidak bicara melainkan pada sesuatu yang diharapakan ada baiknya.


    Bila beliau berbicara, semua orang di majlisnya tertunduk, seolah-olah kepala mereka dihinggapi burung.


    Bila beliau diam(tidak berbicara), barulah mereka berbicara. Mereka tidak ada berbantahan kata disisinya. Bila ada yang berbicara di sisinya, mereka memperhatikan sampai beliau selesai (bicara). Yang dipercakapkan mereka di sisinya adalah percakapan yang utama. Beliau tertawa terhadap apa yang mereka tertawakan. Beliau merasa`takjub atas`apa yang mereka herankan.


    Beliau sabar menghadapi orang asing dengan perkataan dan permintaannya yang kasar (tidak senonoh), sehingga para sahabat-sahabatnya mengharapakan kedatangan orang asing seperti itu, karena darinya mendapatkan manfaaat(para sahabat senang apabila ada orang asing dating menanyakan sesuatu dengan ceplas-ceplos.karena darinya mereka mendapatkan berbagai faidah yang mereka tidak berani menanyakanya)


    Beliau bersabda: bila kalian melihat orang yang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia


    Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang sepatutnya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seseorang kecuali orang itu melanggar batas. Apabila seseorang berbuat itu, maka dipotongnya pembicaraan tersebut dengan melarangnya, atau berdiri (meningalkan majelis) (hadits yang berumber dari hasan bin ali k.w)



    ‘aku mendengar jabir bin Abdullah r.s berkata: ‘ tak pernah kudengar Rasulullah saw, dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata “tidak” (hadits yang berumber dari Muhammad bin la-Mundakir r.a)



    Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan. Sifat pemurahnya itu lebih menonjol lagi pada bulan ramdhan sampai akhir bulan. Pada bulan tersebut datanglah jibril, lalu dibacakan al-quran. Bila jibril telah menemui beliau, jadilah rasulullah saw. Orang yang paling murah hatinya dengan kebaikan melebihi angin yang bertiup kencang(maksudnya, bila beliau diminta sesuatu tak pernah beliau menjawab: “aku takkan member ” , bila diperlukan orang itu ada padanya. Bila tidak ada, beliau ucapkan perkataan yang membesarkan hati atau beliau janjikan pada hari berikutnya atau beliau mendoakan orang itu ) (hadits yang berumber dari ibnu abbas r.a)



    Nabi saw tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok (hadits yang berumber dari Anas bin malik r.a)



    “seseorang laki-laki datang kepada nabi saw, lalu ia minta agar Nabi memberinya sesuatu. Nabi bersabda: aku tidak mempunyai sesuatu, tapi beli saja (secara utang) atas namaku. Bila aku sudah punya sesuatu , nanti aku yang melunasinya.’


    Umar bin khatthab r.a berkata :’ wahai rasulullah!anda telah memberikan sesuatu kepadanya?bukankah Allah swt. Tidak membebani anda dengan sesuatu yang tidak anda mampui.


    Nabi saw. Tidak menyenangi ucapan umar r.a tersebut, kemudian seorang laki-laki dari golongan anshar berkata : wahai rasulullah! Nafkahkanlah dan janganlah anda takut berkurang (dari kaekayaan), Allah swt pemilik ‘arasy’


    (mendengar itu) Rasulullah saw. Tersenyum dan tersirat di wajahnya rasa gembira disebabkan ucapan orang Anshar tadi. Kemudian beliau bersabda:” untuk itulah aku diperintahkan”(hadits yang berumber dari umar bin khattnab r.a)


    Aku mendatangi rasulullah saw., dengan membawa sebaki kurma yang baru masak dan mentimun yang berbulu halus. Kemudian beliau memberiku perhiasan dan emas sepenuh telapak tangan.’ (hadits yang berumber dari ar-Rubayyi binti mu’awwidz bin Afra r.a)


    Rambut rasulullah saw


    “rambut rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya(hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “aku dan rasulullah saw mandi dari tempayan yang sama. Beliau memliki rambut(yang panjangnya) sampai batas di atas bahu dan dibawah daun telinga (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    Rasulullah saw adalah orang yang berbadan bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya (hadits bersumber dari al-Bara bin Azib r.a)


    “rambut tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telinganya (hadits bersumber dari qatadah)


    ‘rasulullah saw. Tiba di mekkah(pada saat pembebasan kota mekkah).sedang rambutnya dijalin menjadi empat (hadits bersumber dari ummu hani binti abu thalib r.a)


    ‘sesungguhnya rambut rasulullah saw.mencapai pertengahan kedua telinganya (hadits bersumber dari anas r.a)


    ‘sesungguhnya rasulullah saw ,, dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan ahlul kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, rasulullah saw. Senang menyesuaikan diri dengabn ahlul kitab.kemudian, rasulullah saw.menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan (hadits bersumber dariibnu abbas r.a)


    ‘aku melihat rasulullah saw menjalin rambutnya menjadi empat (hadits bersumber dari ummu hani r.a)


    Cara bersisir rasulullah


    ‘aku pernah menyisir rambut rasulullah saw, padahal aku sedang haidl (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    ‘rasulullah saw sering meminyaki rambutnya,menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya, beliau menututpi(bahnunya) dengan kain kerudung.kain kerudung itu demikian benrminyak seakan-akan kain tukang minyak (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    ‘sesungguhnya rasulullah saw.menyenangi mulai besuci dari anggota badannya sebalah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai sandal (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “rasulullah saw. Melarang bersisir kecuali sekali-kali (hadits bersumber dari Abdullah bin mughaffal r.a)


    “sesunggunya rasulullah saw.jarang-jarang saja bersisir (hadits bersumber dari sahabat nabi saw yang tidak disebutkan)


    Uban rasulullah saw


    ‘pernahkah rasulullah saw.menyemir rambutnya yang telah beruban?’anas binmalik menjawab : tidak sampai demikian.hanya berberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun demikian abu bakar r.a pernah mewarnai(rambut yang memutih )dengan daun pacar dan katam(sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua) (hadits bersumber dari qatadah)


    ‘aku tidak mendapatkan lebih dari empat belas lembar uban yang tumbuh di kepala dan jenggot rasulullah saw (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    ‘apabila rambut rasulullah saw.meminyaki rambut kepalanya, maka tidak terlihat uban dikepalanya. Sedangkan bila tidak meminyakinya, terlihat sedikit uban dikepalanya (hadits bersumber dari simak bin harb r.a)


    ‘uban rasulullah saw. Hanya sekitar duapuluh lembar saja (hadits bersumber dari ibnu umar r.a)


    “Abu bakar r.a berkata;”wahai rasulullah, sungguh anad telah beruban! Rasulullah saw bersabda:’ surah hud, surah al-waqiah, surah al-mursalat,surah amma yatas’alun dan surah idzasy-syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban (hadits bersumber dari ibnu abbas r.a)


    Semir rambut rasulullah saw


    “abu hurairah r.a pernah ditanya:’apakah rasulullah saw pernah memacari rambutnya?


    Ia menjawab: ‘ya’ (hadits bersumber dari ustman bin mauhab r.a)


    “aku melihat rasulullah saw. Keluar dari rumahnya megibas-ibaskan rambutnya sehabis mandi. Dan dikepalanya terdapat bekas daun inai, atau “bekas celupan”(rawi ragu) (hadits bersumber dari jahdzamah r.a)


    “aku melihat rambut rasulullah saw dipacari merah (hadits bersumber dari anas r.a)


    “aku melihat rambut rasulullah saw.dirumah anas bin malik memakai pacar(hadits bersumber dari Abdullah bin Muhammad bin aqil r.a)


    Celak mata rasulullah saw


    “bercelaklah kalian dengan itsmid(batu celak, biasanya berupa serbuk.warnanya hitam atau biru.serbu itsmid tersebut dioleskan pada bulu mata atau dispukan di sekeliling mata), karena ia dapat mencerahkan penglihatan dan menumbuhkan bulu mata. Sungguh, nabi saw.mempunyai tempak celak mata yang digunakan untuk bercelak pada tiap malam. Tiga olesan disini dan tiga olesan disini(tiga olesan disebelah kanan dan tiga olesan disebelah kiri) (hadits bersumber dari ibnu abbas r.a)


    “selalulah kalian bercelak mata dengan istmid sewaktu akan tidur, Karena sesungguhnya itsmid itu menjernihkan pandangan dan menumbuhkan bulu mata (hadits bersumber dari jabir bin Abdullah r.a)


    Pakaian rasulullah saw


    “pakaian yang paling disenangi rasulullah saw. Adalah gamis (adalah kemeja yang diselubungkan kebadan berlenggan dua atau berkantong, panjang sampai betis bagian bawah)


    “lengan baju gamis rasulullah saw mencapai pergelangan tangannya (hadits bersumber dari Asma bin yazid r.a)


    “sesungguhnya nabi saw. Keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada usamah bin zaid. Beliau memakai pakaian qithri (sejenis kain yang terbuat dari katun kasar. Kain ini berasal dari bahrein ) yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “apabila rasulullah saw memakai pakaian baru, maka disebutlah namanya(misalnya: serban ,gamis,atau selendang), kemudian beliau berdoa artinya: ‘ya allah hanya bagimu segala puj, sebagaimana kauberi daku pakaian, aku mohon pada-mu kebaikannya, dan kebaikan bahannya. Dan aku berlindung pula kepadamu dari keburukannya dan keburukan bahannya (hadits bersumber dari abi said al-khudri r.a)


    ‘pakaian yang paling disenangi rasulullah saw. Ialah kain hibarah (kain yaman yang terbuat dari katun) (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “aku melihat nabi saw memakai pakaian berwarna merah, aku seakan-akan melihat cahaya yang membersit dari kedua betisnya”. At-tasturi berkata:’kukira pakaiannya itu kain HIba (hadits bersumber dari ayah aun (abi juhaifah)r.a)


    ‘aku melihat nabi saw mengenakan dua kain berwarna hijau bergaris-garis (hadits bersumber dari abi ramtsah r.a)


    “aku melihat nabi saw.memakai dua lembar kain tenun yang telah using. Kedua lembar kain itu dicelup dengan zafaran(kunyit). Karena telah usingnya, hampir saja warnanya hilang”. (hadits ini panjang kisahnya) (hadits bersumber dari qablah binti makhramah r.a)


    “ rasulullah saw bersabda:’hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu kalian hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik-baik pakain bagi kalian (hadits bersumber dari ibnu abbas r.a)


    ‘”rasulullah saw bersabda: pakailah kalian kain putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus.juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalaian (hadits bersumber dari samurah bin jundub r.a)


    “ pada suatu pagi rasulullah saw berangkat dari rumah, beliau mengenakan pakaian bulu(baju hangat), yang terbuat dari bulu hitam (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “sesungguhnya rasulullah saw (pernah) memakai jubah ala rumawi yang sempit kedua lengannya (rasulullah saw memakai baju ini pada waktu ghazwah tabuk) (hadits bersumber dari muhhirah bin syubah r.a)


    KHUF rasulullah saw


    “sesungguhnya raja an-najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitam pekat kepada nabi saw. (ialah sejenis kaos kaki, tapi terbuat dari kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki.khuf biasanya hanya digunakan pada musim dingin untuk mencegah kulit kaki agar tidak pecah-pecah . biasanya, orang memakai khuf ketika musafir di musim dingin), lalu nabi saw memakainya dan kemudian berwudhu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kedua kakinya) (hadits bersumber dari buraidah r.a)


    Sandal rasulullah saw


    “sandal rasulullah saw mempunyai dua tali qibal yang talinya bercabang dua (hadits bersumber dari ibnu abba r.a)


    “ubaid bin juraih r.a bertanya kepada ibnu umar r.a:”kulihat anda memakai sandal sibtiyah(sandal kulit yang tak berbulu)”.selanjutnya ibnu umar r,a menjelaskan:”sungguh aku melihat rasulullah saw. Memakai sandal tak berbulu dan ia berwudhu memakai sandal itu oleh sebab itu aku senang memakainya (hadits bersumber dari ubaid bin juraih r.a)


    “janganlah kalian diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah, hendaklah memakai keduanya atau melepaskan keduany" (hadits bersumber dari abu hurairah r.a)


    ‘sesungguhnya nabi saw melarang seseorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah (hadits bersumber dari jabir r.a)


    “sesungguhnya nabi saw. Bersabda:;bila seorang diantara kalian hendak memakai sandal, hendaklah memulainya dari yang sebelah kanan.dan bila melepasnya, maka hendaklah dimulai dengan sebelah kiri. Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali dipasangi sandal dan terakhir kali dilepas (hadits bersumber dari abuhurairah r.a)


    “sandal rasulullah saw.mempunyai dua tali qibal,demikian pula abu bakar r.a dan umar r.a. sedangkan orang yang pertama kali mengikatkan satu ikatan adalah ustman r.a (hadits bersumber dari abu hurairah r.a)


    Cincin rasulullah saw


    Cincin rasulullah saw terbuat dari perak. Sedangkan permatanya dari abessinia(habsyi) (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “sesunggunya nabi saw.menulis surat kepada kisra (penguasa persia), kaisar(penguasa rumawi si syiria) dan najasyi (raja abesinia), maka diberitahukan orang kepada beliau: sungguh, mereka tidak akan menerima surat tuan kecuali dibubuhi cap’.


    Kemudian rasululllah saw. Membuat sebuah cincin,lingkarannya terbuat dari perak, dan padanya diukir kalimat”muhammadur Rasulullah)’ (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “ukiran yang tertera di cincin rasulullah saw.adalah ‘muhammad.satu baris, ‘rasul’ satu baris dan Allah ‘ satu baris (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    ‘sesungguhnya apabila nabi saw.masuk ke jamban,maka ia lepaskan cincinya (hadits bersumber dari anas r.a)


    ‘rasulullah saw membuat cincin dari perak, maka dipakailah ditangannya (jemarinya).kemudian cincin itu berpindah tangan ke tanga abu bakar r.a lalu ketangan umar r.a.setelah itu berpindah pula ketangan ustman r.a, sehingga jatuh di sumur aris (letaknya di masjid kuba) pada cincin itu tertera muhammadun rasulullah (hadits bersumber dari ibnu umar r.a)


    Cara rasulullah saw bercincin


    “rasulullah saw memakai cincin di jari tangan kanannya (hadits bersumber dari ali bin abi thalib k.w)


    “hasan dan husein memakai cincin di jari tangan kiri mereka (hadits bersumber dari jafar bin Muhammad yang bersumber dari bapaknya)


    Serban rasulullah saw


    “nabi saw memasuki kota mekkah pada waktu pembebasan kota mekkah beliau mengenakan serban hitam (hadits bersumber dari jabir r.a)


    “apabila nabi saw memakai serban, maka dilepaskannya ujung serbannya antara kedua bahunya, kemudian naïf berkata: ibnu umar juga berbuat seperti itu.


    ‘ubaidullah berkata: kulihat al-qasim bin Muhammad dan salim, keduanya melakukan hal seperti itu.’ (hadits bersumber dari ibnu umar r.a)


    Sarung rasulullah saw


    “aisyah r.a memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata;’rasulullah saw. Dicabut ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini (hadits bersumber dari ayah abu burdah r.a)


    “tatkala aku berjalan di madinah, tiba-tiba ada orang di belakangku menegur: ’tinggikanlah sarungmu, agar lebih terpelihara dan kuat bertahan.


    Ternyata orang tersebut adalah rasullah saw. Akupun bertanya wahai rasulullah, ini hanya lah selimut bercorak loreng, rasulullah saw bersabda: ‘apakah tidak ada yang harus kau teladani’


    Lalu aku memandangnya, ternyata sarungnya sampai setengah betis (hadits bersumber dari asy’ats bin sulaim r.a)


    “utsman bin affan r.a memakai sarung yang tingginya mencapai setengah kedua betisnya.”utsman berkata : ‘demikianlah cara bersarung sahabatku (nabi saw)” (hadits bersumber dari ayah ayas bin salamah bin al-akwa r.a)


    “rasulullah saw.memegang otot betis kakiku dan betis kakinya, lalu bersabda:’inilah tempat batas sarung jika kau tidak suka disini,maka boleh diturunkan lagi,jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki (hadits bersumber dari hudzifah ibnu yaman r.a)


    Cara berjalan rasulullah saw


    “tiada suatu pun kulihat lebih indah daripada rasululah saw,,seolah-olah mentari beredar diwajahnya,juga tiada seorang pun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada rasulullah saw..seolah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu,sedangkan rasulullah saw, tidak memperdulikan (hadits bersumber dari abu hurairah r.a)


    “apabila ali bin abi thalib k.w menerangkan sifat nabi saw ia akan berkata: ;bila beliau berjalan kepalanya merunduk, seakan-akan jalanan menurun (hadits bersumber dari ali bin thalib ra. )


    Kain penyeka kepala rasulullah saw


    ‘rasulullah saw serng menyeka (minyak dikepalanya), seakan-akan kain penyeka kepalanya seperti kain penyeka tulang minyak (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    Sikap duduk rasulullah saw


    “ia (qabilah) melihat rasulullah saw. Di masjid sedang duduk qurfasha(yakni duduk bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan tangan memegang betis )


    Qabilah berkata:’manakalah aku melihat rasulullah saw, sedang duduk dengan khusyu, maka akupun dibawa oleh perasaan takjub Karena wibawanya(hadits bersumber dari qabilah binti makhramah r.a)


    “sesungguhnya ia melihat rasulullah saw.berbaring telentang di masjid dan salah satu dari kakinya ditumpangkan pada kaki lainnya (hadits bersumber dari pamannya abbad bin tamim)


    “apabila rasulullah saw duduk di masjid, maka ia duduk secara ihtiba (ialah duduk qurfasha sambil bersnandar) dengan kedua tangganya (hadits bersumber dari abi said al-khudri r.a)


    Cara makan rasulullah saw


    “sesunggunya nabi saw.menjilati jari jemarinya(sehabis makan)tiga kali(hadits bersumber dari ka’ab bin malik r.a)


    “Nabi saw bersabda:’adapun aku tak mau makan sambil bertelekan (hadits bersumber dari abi juhaifah)


    “rasulullah saw .makan dengan jarinya yang tiga(jari tengah,telunjuk dan ibu jari) dan menjilatinya bilatelah selesai (hadits bersumber dari ka’ab bin malik r.a)


    “dihidangkan kepada rasulullah saw.kurma , kemudian aku memperhatikannya. Beliau pun makan(kurma itu)sambil bersandar, disebabkan karena laparnya (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    Jenis roti yang dimakan oleh rasulullah saw


    “keluarga nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir(sya’ir,khitan dan bur,semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum”, sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya.kadangkala ia dijadikan makanan ternak,namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya.sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum ) samapai kenyang dua hari berturut-turut hingga rasulullah saw wafat (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “pada keluarga rasulullah saw. Tidak pernah tersedia roti sya’ir secara berlebihan (hadits bersumber dari abu umamah al-bahili r.a)


    “rasulullah saw dalam keadaan lapar berberapa malam berturut-turut ,demikian pula dengan keluarganya.mereka tidak mendapatkan makanan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan mereka yang paling sering dimakan adalah roti terbuat dari sya’ir (hadits bersumber dari ibnu abbas r.a)


    “apakah rasulullah saw, pernah memakan roti(dari gandum)yang halus dan putih?


    Sahl menjawab: ‘rasulullah saw tidak pernah melihat gandum halus dan putih (sebagaimana sekarang)hingga beliau kembali ke hadirat allah azza wajalla”


    Ia ditanya lagi:”apakah pada massa rasulullah saw telah ada alat untuk menghaluskan(saringan)?


    Sahl menjawab:’waktu itu tidak ada alat untuk menghaluskannya.


    Kemudian sahl ditanya lagi: ;bagaiamana caranya kalian menghaluskannya’,


    Sahl menjawab:’ketika itu,kami menampinya,maka terbanglah apa yang dapat terbang setelah itu kami mengadoninya (hadits bersumber dari sahl bin saad r.a)


    “nabiyullah saw.tidak pernah makan di atas meja makan,juga tidak di atas piring yang mungil dan tidak pernah pula dibuatkan roti dari gandum yang halus”.


    Yunus bin abul furat al-bashri(perawi yang menjadi isnad hadits ini)berkata:’aku bertanya kepada qatadah:’jadi dimana mereka makan?


    Qatadah menjawab:di atas hamparan(hamparan yang khusus dihamparakan untuk makan)seperti ini (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “aku berkunjung kepada aisyah r.a., kemudian ia mengajak aku untuk makan.ia (aisyah)berkata:;aku belum pernah makan kenyang, rasanya aku ingin menangis,sampai benar-benar aku menangis.


    Masruq berkata : “mengapa demikian”


    Aisyah menjawab:”akuingat suasana tatkala rasulullah saw.meninggalkan alam fana ini.demi allah beliau tidak pernah kenyang dua kali dalam sehari dengan roti dan daging (hadits bersumber dari masruq r.a)


    Lauk pauk yang dimakan rasulullah saw


    “sesunggunya rasulullah saw bersabda:’saus yang paling enak adalah cuka.


    ‘abdullah bin Abdurrahman berkata:’saus yang paling enak adalah cuka (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “sungguh kalian makan dan minum dengan sepuas-puasnya!padahal aku melihat sendiri nabi kalian saw. Tidak pernah makan kurma sampai memnuhi perutnya (hadits bersumber dari Numan bin busyair r.a)


    “kami berada di rumah abu musa al-asy’ari r.a. maka disugukan kepada kami daging ayam.tiba-tiba seorang laki-laki dinataranya menyingkir.


    Abu musa bertanya :’mengapa engkau menghindar?


    Ia menjawab:”sungguh aku melihat (ayam)sedang makan sesuatu yang kotor, maka aku bersumpah takkan memakannya?’


    Abu musa berkata:’mendekatlah kemari!sungguh aku melihat rasulullah saw pun makan daging ayam” (hadits bersumber dari zahdam al-jurmi r.a)


    “aku bersama rasulullah saw makan daging kalkun (hadits bersumber dari kakeknya safinah)


    “sesungguhnya rasulullah saw bersabda:”makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya.sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi (hadits bersumber dari umar bin khatthab r.a)


    “nabi saw menggemari buah labu.maka(pada suatau hari )beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makanan itu (labu).akupun mengikutinya,maka makanan itu(labu)kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “sesungguhnya ummu salamah bercerita kepadaku (atha bin yasar),bahwasanya ia menyuguhkan daging panggang(semacam sate)kepad rasulullah saw kemudian beliau memakannya lantas berdiri untuk melaksanakan shalat,sedangkan beliau tidak berwudhu lagi (hadits bersumber dari atha bin yasar r.a)


    “nabi saw diberi daging,maka diambilnya baginya dzira’an(bagian tubuh bintang dari dengkul sampai bagian kaki).bagian dzira’an kesukaannya.maka rasulullah saw.mencicipi sebagian darinya (hadits bersumber dari abu hurairah r.a)



    “sebenarnya bukan dzira’an yang disukai rasulullah saw, namun beliau tidak mendapatkan daging kecuali sekali-kali, juga karena beliau mau segera makan, sedangkan dzira’an cepat matangnya (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “daging yang paling baik adalah daging punggung (hadits bersumber dari Abdullah bin ja’far r.a)


    “keutamaan aisyah r.a atas seluruh kaum wanita (lainnya) seperti keutamaan tsarid (roti yang dicampur gulai kambing) atas sekalian makanan (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “sesungguhnya ia melihat rasulullah saw berwudhu disebabkan memakan sepotong keju, pada lain waktu, ia melihat pula bahwa rasulullah saw memakan bahu kambing, lalu beliau shalat padahal beliau tidak berwudhu lagi (hadits bersumber dari abu hurairah r.a)


    “rasulullah saw mengadakan kenduri perkawinannya dengan shafiyah, dengan makanan berupa kurma dan sawiq (gandum yang digoreng) (hadits bersumber dari anas bin malik r.a)


    “sesungguhnya al-hasan bin ali r.a,,ibnu abbas r.a dan ibnu jaffar r.a datang menemuinya (salma).mereka berkata kepadanya: “tolong buatkanlah makanan yang menarik hati rasulullah saw dan beliau senang memakannya!’


    Salma menjawab:”wahai anak-anakku! kalian mungkin takkan menyukai lagi makanan itu sekarang”.


    Salah seorang dari mereka berkata:”kenapa tidak,tolonglah buati kami makanan itu!”


    Perawi berkata salma pun bergegas,lalu mengambil gandum dan ditumbuknya. Setelah itu, gandum tersebut dimasukkanya kedalam kuali dan disiram dengan sedikit minyak zaitun,juga dicampur dengan lada dan rempah-rempah yang dihaluskan.setelah siap, makanan itu dusuguhkan kepada mereka”,


    Salma berkata: “inilah makanan yang menarik hati rasulullah saw dan beliau senang memakannya (hadits bersumber dari neneknya ubaidullah bin ali)


    “rasulullah saw bersama ali berkunjung kepadaku.pada waktu itu, kami mempunyai beberapa tandan kurma yang hampir matang (dawal) digantungkan (dirumah)”


    Ummul mundzirmeneruskan ceritanya:”rasulullah saw memakannya, ali juga turut memakannya.kemudian rasulullah saw bersabda kepada ali :’sudah berhentilah wahai ‘ali!engkau baru sembuh dari sakit (belum pulih sepenuhnya)’. Ummul mundzir meneruskan ceritanya:maka duduklah ali,sedangkan nabi saw terus memakannya”.


    Kata ummul mundzir selanjutnya:’maka kubikinkan mereka makanan dari saur dan gandum,kemudian beliau bersabda pada ali makanlah ini, sebab lebih cocok untukmu (hadits bersumber dari ummul mundzir)


    “nabi saw datang kepadaku seraya bersabda:’adakah makanan untuk sarapan pagi?’


    Aku menjawab:’tidak ada’


    Rasulullah saw bersabda:’shaum (puasa)’


    Aisyah r.a melanjutkan ceritanya:


    Dilain hari,datang pula rasulullah saw.padaku, aku berkata kepadanya:’kita diberi hadiah!’


    Beliau bersabda: “apa bentuk hadiah itu?’


    Aku(aisyah r.a)menjawab: hais (makanan yang dibuat dari kurma,minyak samindan keju atau tepung )’


    Rasulullah saw bersabda :’sebenarnya aku sejak tadi pagi telah shaum”


    Cerita aisyah r.a selanjutnya :’kemudian beliau memakan makanan itu! (hadits bersumber dari aisyah r.a)


    “aku melihat rasulullah saw, mengambil bubuk roti yang terbuat dari sya’ir kemudian diletakkan di atasnya sebuah kurma beliau bersabda’…ini adalah lauknya’, dan beliau langsung memakannya (hadits bersumber dari yusuf bin abdillah bin salman r.a)


    ‘sesungguhnya rasulullah saw merasa sayang terhadap tsufi” menurut Abdullah, tsufi adalah sisa makanan (hadits bersumber dari annas r.a)






    Doa rasulullah saw sebelum dan sesudah makan


    “pada suatu hari kami berada di rumah rasulullah saw, maka beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya pada akhir kami makan”.


    Abu ayub bertanya: wahai rasulullah, bagaimana caranya hal ini terjadi?’


    Rasulullah saw bersabda:’sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tampe menyebut nama Allah, maka makanannya disertai syetan” (hadits bersumber dari abu ayub al-anshari r.a)


    “rasulullah saw bersabda:’bila salah seorang dari kalian makan,tapi lupa menyebeut nama Allah atas makanan itu hendaklah ia membaca: “bismillahi awwalahu wa akhirahu”(dengan nama Allah pada awal dan akhir) (hadits bersumber dari ummu kaltsum)


    “ia berkunjung kepada rasulullah saw.dan kebetulan padana ada makanan.rasulullah saw. Bersabda:’wahai anakku,mari dekat kemari lantas sebuah nama Allah Ta’ala (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang dekat padamu’(hadits bersumber dari umar bin salamah r.a)


    “apabila rasulullah saw,selesai makan,maka beliau membaca:”alhamdulillahil ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin”(segala puji bagi Allah,yang member makan kepada kami,member minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam ) (hadits bersumber dari abu sa’id al-khudri r.a)


    “adapun rasulullah saw, bila dihidangan makan telah diangkat dari hadapannya, maka beliau membaca: ‘alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda’iw wa la mustaghnan ‘anhu rabbana”.(segala puji bagi Allah,puji yang banyak tiada terhingga.puji yang baik lagi berkah padanya,puji yang tidak pernah berhenti dan puji yang tidak mampu lisan menuturkannya, ya Allah Rabbal Alamin ) (hadits bersumber dari Abu umamah r.a)


    “nabi saw memakan sesuatu makanan bersama dengan enam orang sahabatnya.tiba-tiba datang orang arab dusun, lalu ia turut serta memakannya dua suap, maka bersabdalah rasulullah saw: sekiranya ia membaca “bismillah” tentu makanan ini cukup unuk kalian semua (hadits bersumber dari aisyah r.a)
    ,
    Nasab Abu Ubaidah bin Al Jarrah bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada garis keturunan Fihri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan pengakuan bahwa ia salah seorang penghuni surga dan menjulukinya Aminul Ummat (kepercayan umat). Di samping itu, ia memiliki banyak keistimewaan dan tersohor.

    Beliau telah banyak meriwayatkan hadits dan selalu aktif dalam setiap peperangan umat Islam.

    Diriwayatkan dari Yazid bin Ruman, ia berkata, “Ibnu Madz’un, Ubaidah bin Al Harits, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah, pernah berangkat dalam misi menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika bertemu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan mereka agar masuk Islam sekaligus menjelaskan tentang syariat kepada mereka. Seketika itu pula, secara bersamaan mereka masuk Islam. Peristiwa itu terjadi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam.

    Abu Ubaidah juga pernah mendapat cobaan (musibah) yang berat pada waktu perang Uhud. Pada saat itu, Abu Ubaidah menahan dua arah serangan musuh yang ditujukan kepada Rasulullah, sehingga ia terkena pukulan yang mengakibatkan dua giginya rompal. Namun hal itu justru membuat mulutnya nampak semakin indah, sehingga muncul rumor bahwa tidak ada yang lebih indah jika kehilangan gigi melebihi indahnya gigi Abu Ubaidah.

    Zubair bin Bakkar berkata, “Keturunan Abu Ubaidah dan seluruh putra saudara perempuannya telah habis dan ia termasuk orang yang hijrah ke Habsyah.”

    Abu Ubaidah termasuk sahabat yang banyak mengumpulkan Al Qur`an.

    Mengomentari tentang peperangan yang pernah dilaluinya, Musa bin Uqbah berkata, “Perang Amr bin Ash adalah perang yang berantai melawan para pembesar negeri Syam. Oleh karena itu, Amr merasa khawatir sehingga dia meminta bantuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amr meminta agar Abu Bakar dan Umar memimpin pasukan kalangan Muhajirin. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan. Ketika mereka menghadap Amr bin Al Ash, dia (Amr bin Al Ash) berkata kepada mereka, ‘Aku adalah pemimpin kalian’. Tetapi kaum Muhajirin menjawab, ‘Engkau adalah pemimpin sahabat-sahabatmu sendiri, sedangkan pemimpin kami adalah Abu Ubaidah’. Amr lalu berkata, ‘Kalian sebenarnya pasukan yang ditugaskan membantuku’.

    Ketika Abu Ubaidah melihat peristiwa tersebut, dan dia orang yang berperangai mulia, berhati lembut, dan patuh terhadap perintah Rasulullah dan janjinya, maka Abu Ubaidah menyerahkan kepemimpinan kepada Amr bin Al Ash.”

    Diriwayatkan dalam banyak riwayat, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang yang dipercaya, dan orang yang dipercaya umat ini adalah Abu Ubaidah Al Jarrah.”

    Diriwayatkan dari Amr bin Al Ash, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang lebih engkau cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah’. Ditanyakan lagi, “(Siapa yang engkau cintai) dari golongan laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Abu Bakar’. Lalu ditanyakan lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Abu Ubaidah bin Al Jarrah’.”

    Abu Ubaidah memiliki akhlak yang mulia, santun, dan tawadhu.

    Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada beberapa orang sahabat yang sedang duduk bersamanya, “Berharaplah kalian!” Para sahabat pun berharap. Umar berkata lagi, “Tetapi aku mengharapkan sebuah rumah yang dipenuhi oleh orang-orang seperti Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

    Khalifah bin Khayyat berkata, “Abu Bakar mempercayakan pengelolaan Baitul Mal kepada Abu Ubaidah.”

    Pengelolaan harta umat Islam dalam sebuah lembaga keuangan, yang sebelumnya belum pernah ada. Umar bin Khaththab adalah orang pertama yang melakukan pengelolaan harta dalam sebuah lembaga keuangan yang disebut Baitul Mal.

    Ibnu Al Mubarak dalam kitab Jihad-nya berkisah tentang Abu Ubaidah: Diriwayatkan dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata: Umar mendengar kabar bahwa Abu Ubaidah terkepung di Syam dan hampir dikalahkan musuh. Umar bin Khaththab pun mengirim surat kepadanya yang berisi, “Amma ba’du. Sesungguhnya setiap kesukaran yang menimpa seorang mukmin yang teguh maka sesudahnya akan ada jalan keluar. Satu kesukaran tidak bisa mengalahkan dua kemudahan. Allah berfirman,

    ‘Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung’.” (Qs. Aali ‘Imraan [3]: 200)

    Setelah membaca surat tersebut, Abu Ubaidah lalu membalasnya sebagaimana berikut, “Amma ba’du. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

    ‘Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga akan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu’.” (Qs. Al Hadiid [57]: 20).

    Umar bin Khaththab kemudian keluar dari rumahnya beserta surat tersebut dan membacanya di atas mimbar seraya berkata, “Wahai penduduk Madinah, sungguh Abu Ubaidah telah mendorong kalian, maka berjihadlah bersamaku!”

    Tsabit Al Bunani berkata, “Abu Ubaidah berkata, ‘Aku adalah orang Quraisy dan tiada seorang pun yang berkulit merah maupun hitam di antara kalian yang mengungguliku dalam ketakwaan kecuali aku ingin menjadi sepertinya’.”

    Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, “Abu Ubaidah pernah berkata, ‘Aku senang seandainya aku menjadi domba lantas disembelih oleh keluargaku dan mereka memakan dagingku dan merasakan kuahku’.”

    Diriwayatkan dari Thariq, ia mengatakan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim surat kepada Abu Ubaidah menyinggung masalah wabah penyakit, “Sebenarnya aku sedang dalam masalah besar dan aku sangat membutuhkan bantuanmu, maka segeralah datang ke sini!” Ketika Abu Ubaidah membaca surat tersebut, ia berkata, “Aku mengerti masalah besar yang sedang dihadapi Amirul Mukminin. Dia sebenarnya ingin menyisakan orang yang seharusnya tidak tersisa. Abu Ubaidah kemudian membalas dan berkata, “Aku sebenarnya telah mengetahui masalahmu, maka urungkan dulu keinginanmu itu padaku sebab aku berada di tengah-tengah pasukan Islam (sedang berperang) dan aku tidak membenci mereka.” Ketika Umar membaca tulisan tersebut, ia pun menangis. Setelah itu ada yang bertanya kepadanya, “Apakah Abu Ubaidah meninggal?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi sepertinya ia akan meninggal.” Tak lama kemudian Abu Ubaidah wafat dan wabah itu pun hilang.

    Tidak hanya sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan Abu Ubaidah, antara lain ketika pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah 300 orang sedang kelaparan, maka ketika seekor ikan besar sejenis ikan paus terdampar di tepi pantai, Abu Ubaidah pun berkata, “Bangkai.” Setelah itu ia berkata, “Bukan, kita adalah utusan Rasulullah dan sedang berada di jalan Allah. Oleh karena itu, makanlah!” Selanjutnya ia menyebutkan redaksi hadits secara lengkap seperti yang disebutkan dalam kitab Shahih Al Bukhari Muslim.

    Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq selesai memerangi orang-orang murtad dan Musailamah Al Kadzdzab, ia menyiapkan para pemimpin pasukan untuk menaklukkan Syam. Beliau kemudian mengutus Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan, Amr bin Al Ash, dan Syurahbil bin Hasnah. Setelah itu terjadilah peperangan antara kedua pasukan di daerah dekat Ramalah (Palestina), dan akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada orang-orang mukmin. Kemudian berita kemenangan itu disampaikan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, saat ia sedang sakit parah.

    Setelah itu terjadilah perang Fihl dan perang Maraj Ash-Shuffar. Pada saat itu Abu Bakar telah memberangkatkan pasukan yang dipimpin Khalid bin Al Walid untuk menaklukkan Irak. Kemudian beliau mengutus seorang delegasi untuk menemui Khalid bin Al Walid agar berkenan membantu pasukan yang sedang bertugas di Syam.

    Dia lalu memotong jalan padang pasir, sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika itu menjabat sebagai panglima tertinggi dari semua pasukan. Ketika pasukan Islam mengepung Damaskus, Abu Bakar wafat, maka dengan segera Umar menurunkan perintah pencopotan Khalid dari posisi panglima pasukan dan digantikan dengan Abu Ubaidah. Setelah informasi pengangkatan dirinya sebagai pemimpin pasukan itu diterima, dia berusaha merahasiakannya untuk beberapa saat, karena pemahaman agamanya yang mendalam serta sifat lembut dan santunnya.

    Ketika Damaskus telah berhasil dikuasai, pada saat itulah dia baru menunjukkan kekuasaannya, yakni membuat perjanjian damai dengan bangsa Romawi hingga akhirnya mereka bisa membuka pintu Selatan dengan jalan damai.

    Jika Khalid bin Al Walid menaklukkan Romawi dengan cara militer dari arah Timur, maka Abu Ubaidah meneruskan penaklukkan tersebut melalui perjanjian damai.

    Diriwayatkan dari Al Mughirah,bahwa Abu Ubaidah membuat perjanjian dengan mereka untuk menjamin keselamatan tempat ibadah dan rumah mereka.

    Abu Ubaidah adalah pemimpin pasukan Islam dalam perang Yarmuk, perang yang menelan banyak korban dari pihak musuh dan berhasil memperoleh kemenangan. Abu Ubaidah wafat tahun 18 H, dalam usia 58 tahun.

    Sumber: Ringkasan Siyar A’lam an Nubala’, Imam Adz-Dzahabi, Penyusun: Dr.Muhammad Hasan bin Aqil Musa asy-Syarif, Pustaka Azzam, Hal.139-145.
    ,
    Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat nabi yang kaya raya dan dermawan karena kemahirannya dalam berdagang. Ia termasuk salah satu sahabat nabi yang permulaan menerima Islam (Assabiqunal Awwaluun). Abdurrahman memeluk agama Islam sebelum Rasulullah saw menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dua hari sesudah Abu Bakar al-Shiddiq masuk Islam.


    Abdurrahman bin 'Auf adalah seorang shahabat Nabi s.a.w. yang mempunyai banyak keistimewaan, di antaranya adalah beliau diberitahukan masuk syurga oleh Allah s.w.t. ketika masih hidup serta termasuk salah seorang dari enam orang anggota syura.


    Kelahiran


    Abdurrahman bin 'Auf dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun Gajah dan umurnya lebih lebih muda dari Nabi selama sepuluh tahun karena Nabi dilahirkan pada tahun gajah yaitu tanggal 20 April 571M. Dengan demikian Abdurrahman dilahirkan pada tahun 581M. Namanya pada masa jahiliyah adalah Abdu Amru dan dalam satu pendapat lain Abdul Ka'bah. Lalu Nabi s.a.w. menggantikannya menjadi Abdurrahman. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Nasabnya bertemu dengan Nabi s.a.w. pada Kilab bin Murrah. Kinayahnya adalah Abu Muhammad sedangkan laqabnya al-Shadiq al-Barr. Ibunya bernama Asysyifa binti 'Auf bin Abdu bin al-Harits bin Zuhrah.


    Kepribadian

    Adalah sosok yang sangat bersegera dalam berinfak. Dialah Abdurrahman bin ‘auf, putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya. Dia adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet. Maka mulailah ia menjual dan membeli. Selang beberapa saat ia sudah mengumpulkan keuntungan dari perdagangannya.


    Disamping itu, ia juga sosok pejuang yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah. Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.


    Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.

    Diantara kedermawanannya, ialah tatkala Rasulullah ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”

    Suatu ketika datanglah kafilah dagang Abdurrahman di kota Madinah, terdiri dari tujuh ratus onta yang membawa kebutuhan-kebutuhan. Tatkala masuk ke kota Madinah, terdengarlah suara hiruk pikuk. Maka berkata Ummul Mukminin, ”Suara apakah ini?” Maka dijawab, ”Telah datang kafilah Abdurrahman bin ‘Auf.” Ummul Mukminin berkata, ”Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman masuk surga dengan keadaan merangkak’.” Ketika mendengarkan berita tersebut, Abdurrahman mengatakan, ”Aku ingin masuk surga dengan keadaan berdiri. Maka diinfakkanlah kafilah dagang tersebut.”


    Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Menyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yagn nilainya sebanyak empat ratus ribu.


    Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”

    Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa ia berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah shalat di belakangnya pada waktu perang tabuk. Ini merupakan keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka Rasulullah bersabda, ”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”

    Disamping memiliki sifat yang pemurah dan dermawan, ia juga sahabat yang faqih dalam masalah agama. Berkata Ibnu Abbas: Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Umar bin Khattab. Maka Umar berkata, ”apakah engkau pernah mendengar hadits dari Rasulullah yang memerintahkan seseorang apabila lupa dalam shalatnya, dan apa yang dia perbuat?”


    Aku menjawab, ”Demi Allah, tidak pernah wahai Amirul Mukminin. Apakah engkau pernah mendengarnya?” Dia menjawab, ”Tidak pernah, demi Allah.” Tatkala kami sedang demikian, datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, ”Apa yang sedang kalian lakukan?” Umar menjawab, ”Aku bertanya kepada Ibnu Abbas,” kemudian ia menyebutkan pertanyaannya. Abdurrahman berkata, ”aku pernah mendengarkan tentang hal itu dari Rasulullah.” Apa yang engkau dengar wahai Abdurrahman?” Maka ia menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, apabila lupa salah seorang diantara kalian di dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia menambah atau mengurangi, apabila ragu satu raka’at atau dua raka’at, maka jadikanlah satu raka’at, dan apabila ia ragu dua raka’at atau tiga raka’at, maka jadikanlah dua raka’at, dan apabila ia ragu tiga raka’at atau empat raka’at, maka jadikanlah tiga raka’at, sehingga keraguannya di dalam menambah, kemudian sujud dua kali dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian salam.”


    Hijrah Bersama Rasul


    Abdurrahman memeluk agama Islam sebelum Rasulullah saw menjadi rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah.Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dua hari sesudah Abu Bakar al-Shiddiq masuk Islam. Seperti orang-orang yang pertama masuk islam lainnya,Abdurrahman pun tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy. Namun hal tersebut tidak membuatnya bergeming sedikitpun, sekalipun maut akan menjemputnya. Ia tetap sadar dan konsisten membenarkan dan mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Lantaran konsistennya dalam menegakkan panji-panji Islam dan menjadi pengikut setia Rasulullah, kemudian ia menjadi salah seorang pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasulnya.


    Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia-red) bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum Quraisy yang tak henti-hentinya menteror mereka. Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat hendak melakukan hijrah ke Madinah, Abdurrahman termasuk orang yang menjadi pelopor kaum Muslimin untuk mengikuti ajakan Nabi yang mulia ini. Di kota Madinah, Rasulullah SAW banyak mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Di antaranya Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi' al-Anshory Ra.


    Seperti layaknya para muhajirin lainnya yang meninggalkan kota Mekkah, Abdurrahman bin Auf di samping meninggalkan kota kelahirannya Mekkah juga meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya sehingga setibanya di Madinah beliau tidak memiliki apapun harta dan bahkan beliau tidak memiliki isteri. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Abdurrahman bin Auf telah dipersaudarakan (oleh Nabi s.a.w.) dengan Sa'ad bin al-Rabi' al-Ansari tatkala tiba di Madinah. Lalu Sa'ad berkata kepadanya: Saudaraku! Saya adalah salah seorang penduduk Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah/ dan saya juga mempunya dua orang isteri, lihatlah salah satunya yang mana yang menarik hatimu sehingga saya bisa mentalaknya untukmu. Abdurrahman menjawab semoga Allah memberkatimu pada hartamu dan keluargamu (akan tetapi) tunjukkanlah di mana letak pasarmu. Merekapun menunjukkan pasar, maka beliaupun melakukan transaksi jual beli sehingga mendapatkan laba (yang banyak) dan telah mampu membeli keju dan lemak. Kemudian tidak lama berselang iapun sudah dipenuhi oleh wewangian (menikah). Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya: "apa gerangan yang terjadi denganmu?", Ia menjawab: "Wahai Rasulullah, aku telah menikah. Baginda bertanya: apa maharnya? Ia menjawab: "emas sebesar biji kurma". Baginda bertanya kembali: "buatlah walimah (pesta perkawinan) walaupun dengan satu ekor kambing".

    Rasulullah s.a.w. sangat jeli melihat keadaan Abdurrahman bin Auf sehingga beliau dipersaudarakan dengan Sa'ad bin al-Rabi' yang merupakan salah seorang penduduk Madinah yang mempunyai banyak harta. Persaudaraan ini membuahkan hasil yang sangat kuat sekali bagi terjalinnya ikatan yang sangat kuat di antara keduanya. Hal ini digambarkan ketika Sa'ad bin al-Rabi' menawarkan setengah kekayaannya untuk dibagi percuma dan istrinya yang dicintai untuk dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman. Walaupun Sa'ad bin al-Rabi' menawarkannya didasarkan oleh niat tulus ikhlas namun Abdurrahman bin Auf bukanlah tipe manusia yang memanfaatkan kesempatan sehingga beliau menolak secara halus dengan ungkapan semoga Allah memberkatimu, keluargamu dan hartamu.

    Abdurrahman bin Auf boleh miskin materi, tapi ia tidak akan pernah menjadi miskin mental. Jangankan meminta, ia pun pantang menerima pemberian orang selain upahnya sendiri. 'Tangan di bawah' sama sekali bukan perilaku mulia. Abdurrahman bukan hanya tahu, melainkan memegang teguh nilai itu. Ia pun memutar otak bagaimana dapat keluar dari kemiskinan tanpa harus menerima pemberian orang lain. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun pergi ke pasar dan mengamatinya secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, pasar itu menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana dengan menyewa tanah tersebut, sebagaimana para pedagang sekarang menyewa kios di mal.

    Kreativitas Abdurrahman pun muncul. Ia minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping tanah pasar itu. Tanah tersebut lalu dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya operasional. Mereka berbondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman. Keuntungannya berlipat. Dari keuntungan itu, Abdurahman mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu makan waktu lama, Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang sahabat Rasul yang paling berada. Kegigihannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan sendiri: "aku melihat diriku kalau seandainya akau mengangkat sebuah batu aku mengharapkan mendapatkan emas atau perak".


    Sumbangan di Jalan Allah SWT

    Laba dari perniagaannya yang semakin meningkat dari ke hari tidaklah menyebabkan beliau menjadi manusia yang pelit dan kikir serta jauh dari jalan Allah. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk menyumbangkan hartanya di jalan Allah dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa beliau menyumbangkan setengah dari hartanya. Hal ini seperti disebutkan Zuhri bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan setengah dari hartanya sebanyak empat ribu dirham pada masa Rasulullah s.a.w., kemudian beliau menyumbangkan empat ribu dirham, kemudian empat puluh dinar, kemudian lima ratus kuda perang di jalan Allah, kemudian seribu lima ratus tunggangan/ rahilah di jalan Allah, dan semua penghasilannya bersumber dari perniagaan.

    Kemurahan hatinya untuk menyumbangkan hartanya di jalan tidak hanya berhenti dengan menyumbangkan setengah dari hartanya bahkan dalam kesempatan lainnya disebutkan bahwa beliau menyumbangkan keseluruhan hartanya. Hal ini seperti diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa manakala Abdurrahman bin Auf ditimpa oleh sebuah penyakit beliau mewasiatkan sepertiga hartanya, maka tatkala sembuh beliau menyumbangkan sendiri dengan tangannya, kemudian berkata: Wahai shahabat Rasulullah s.a.w.: saya akan memberikan sebanyak empat ratus dinar ke atas semua pasukan Badar, lalu Uthman dan beberapa orang lainnya datang menemuinya: lalu orang-orang bertanya kepadanya: Wahai Abu Umar, bukankah anda orang kaya? Ia berkata: ini adalah waslah dari Abdurrahman dan bukan sedekah, dan ia termasuk harta yang halal. Maka ia menyumbangkan sebanyak seratus lima puluh ribu dinar kepada mereka, lalu tatkala menjelang malam beliau duduk sendiri di rumahnya, lalu menuliskan sebuah memo untuk dibagikan semua hartanya kepada para muhajirin dan Anshar, bahkan beliau menulis bajunya yang dipakainya dalam memo tersebut, dan tidak ada satupun yang disisakannya kecuali dibagikan semuanya kepada kaum fakir.

    Ketika menunaikan shalat shubuh di belakang Rasulullah s.a.w. turunlah Jibril dan berkata: Wahai Muhammad sesungguhnya Allah berfirman kepadamu: kirimkanlah salam saya buat Abdurrahman dan terimalah semua memonya kemudian kembalikanlah semua kepadanya dan katakan kepadanya:Allah telah menerima sedekahmu dan ia adalah wakil Allah dan wakil RasulNya maka kembangkanlah hartanya sesuai dengan kemauannya, dan kelolalah hartanya sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dan ia tidak akan diminta pertanggungjawab dan beritahulah kabar gembira (ia dijamin masuk syurga).

    Disamping menyumbangkan hartanya untuk fakir miskin dan orang-orang tertentu beliau juga diceritakan merupakan orang yang paling banyak memerdekan hamba. Dalam sebuah riwayat Ja'far bin Burqan berkata: saya pernah mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan hamba sebanyak tiga puluh ribu jiwa. Dan Abu Amr berkata: dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau memerdekakan sebanyak tiga puluh hamba dalam satu hari.

    Keutamaan Abdurrahman bin Auf

    Keislaman Abdurrahman bin Auf sejak dini menjadikan beliau sebagai pribadi yang paling pertama menghadapi kerasnya penentangan dari penduduk Quraisy Mekkah, sehingga akhirnya beliau dan beberapa shahabat lainnya diizinkan oleh Nabi s.a.w. berhijrah ke Habsyah pada gelombang pertama. Menurut para ulama, pemilihan kota Habsyah (Ethiopia) sebagai tujuan hijrah pada masa itu disebabkan Habsyah adalah merupakan sebuah negara yang tidak mempunyai ikatan diplomasi dengan negara-negara Arab sehingga dalam hukum international di era modern disebutkan bahwa negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik maka tidak boleh melakukan ektradisi terhadap orang yang berlindung di dalam negaranya. Dan ini merupakan pemilihan yang sangat tepat dari Rasulullah s.a.w. dan diceritakan bahwa ketika utusan Quraisy membujuk Najasyi agar mengusir para muhajirin dari bumi Habsyah, beliau berkata bahwa saya tidak akan melakukan kecuali setelah mengetahui alasan dari pribadi tersebut. Dan ternyata setelah mendengarkan penjelasan dari Ja'far bin Abi Thalib, Najasyi mengembalikan semua hadiah yang diberikan oleh utusan Quraisy dan mengusir keduanya serta menjamin keamanan seluruh kaum muslimin di negaranya.

    Tidak mengherankan akhirnya beliau merupakan di antara para shahabat yang mendapatkan beberapa keistimewaan di antaranya:


    1. Menjadi Imam Shalat Nabi SAW

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam satu peperangan Nabi s.a.w. menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Dalam cerita panjang lebar Amr bin Wahab mengatakan bahwa al-Mughirah bin Syu'bah menyebutkan bahwa menjelang shubuh hari Nabi mengajak al-Mughirah untuk menemaninya membuang hajat. Setelah buang hajat Nabi s.a.w. memintanya untuk mengambalikan air wudhu' namun ternyata mereka sudah terlambat karena rombongan sedang menunaikan shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Ketika itu ia mencoba untuk menghentikan shalat jemaah tersebut dengan kembali mengumandangkan azan namun Nabi s.a.w. melarangnya sehingga Nabi s.a.w. menjadi makmun kepada Abdurrahman bin Auf. Dalam satu hadits lainnya diriwayatkan oleh al-Mughirah: Nabi tidak meninggal sehingga menjadi makmum orang shalih dari ummatnya.

    2. Calon Penghuni Syurga

    Beliau merupakan salah seorang shahabat Nabi s.a.w. yang dijamin masuk syurga Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sa'id bin Zayd berkata: Rasulullah s.a.w. berkata: sepuluh orang yang dijamin masuk syurga: Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau berkata: beliau telah menyebutkan satu persatu dari yang sembilan orang dan kemudian berhenti sejenak pada bilang yang kesepuluh. Maka orang bertanya-tanya: kami memohon kepadamu atas nama Allah siapakah orang yang kesepuluh? Beliau menjawab: kalian meminta keseriusan saya atas nama Allah, (orang yang yang kesepuluh adalah) Abu al-A'war (kinayah terhadap Sa'id bin Zaid).

    3. Kecintaan Nabi SAW. terhadap Abdurrahman bin Auf r.a.

    Ummu Salamah r.a. menceritakan bahwa Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian sepeninggalku adalah al-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf), Ya Allah hidangkanlah minuman mata air syurga kepada Abdurrahman bin Auf.

    Nabi s.a.w. juga bersabda: "Engkau adalah orang kepercayaan penduduk bumi dan engkau juga orang kepercayaan penduduk langit.

    4. Ayat al-Quran yang memujinya

    Al-Quran memuji keutamaannya, di antaranya seperti yang diriwayatkan dari Saib tentang firman Allah ta'ala (al-Baqarah:267) diturunkan untuk Uthman dan Abdurrahman bin Auf. Adapun tentang Abdurrahman bin Auf diceritakan bahwa ia menyumbangkan empat ribu dirham kepada Nabi s.a.w. lalu ia berkata: sebenarnya saya punya delapan ribu dirham (akan tetapi) saya tinggalkan empat ribu dirham untuk diri sendiri dan keluarga sedangkan empat ribu dirham saya sumbangkan di jalan Allah maka Nabi s.a.w bersabda: semoga Allah memberkati apa yang telah engkau tinggalkan dan apa yang telah engkau sumbangkan.

    5. Salam dan berita masuk syurga dari Allah SWT

    Ibnu Abbas r.a. berkata: "manakala kafilah dagang Abdurrahman bin Auf kembali dari Syam langsung dibawa kepada Nabi s.a.w. lalu Nabi s.a.w. berdoa untuknya agar dimasukkan syurga, lalu turunlah Jibril berkata: Sesungguhnya Allah mengirimkan salam untukmu dan berkata: kirimkanlah salam saya kepada Abdurrahman bin Auf dan sampaikan berita gembira beliau masuk syurga.

    6. Penghargaan Nabi SAW

    Abu Umar dan beberapa orang lainnya berkata: Abdurrahman bin Auf ikut dalam perang Badar dan semua peperangan lainnya, beliau tetap setia membentengi Nabi s.a.w. pada perag Uhud, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk syurga, salah seorang dari lapan orang yang terdahulu masuk syurga, salah seorang dari enam orang anggota syurga yang disaksikan oleh Umar bahwa Rasulullah s.a..w telah ridha terhadap mereka, salah seorang dari lima orang yang masuk Islam dalam tangan Abu Bakar, Rasulullah s.a.w pernah mengutusnya ke Dumah al-Jandal, memakaikan surban dan menyalipnya pada ke dua bahunya lalu berkata kepadanya: pergilah dengan mengucapkan bismillah dan mewasiatkannya beberapa wasiat, dan berkata kepadanya: jika Allah memberi kemenangan kepadamu maka kawinilah anak perempuan dari pemimpin mereka, atau disebutkan berkata anak perempuan raja mereka sedangkan pemimpin mereka adalah al-Asbagh bin Tha'labah al-Kalibi lalu iapun mengawini anak perempuannya Tamadhur dan ia adalah ibu dari anaknya Abi Salamah.


    7. Kepercayaan Nabi SAW terhadap kekuatan imannya


    Ubaidillah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud berkata: Bahwa Rasulullah SAW. memberikan (sesuatu) kepada khalayak ramai dan tidak memberikan apapun kepada Abdurrahmah bin Auf sedangkan ia berada dalam khalayak tersebut, lalu Abdurrahman bin Auf keluar dari barisan tersebut dalam keadaan menangis, maka Umar bin Khattab melihat dan berkata: apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab: Rasulullah s.a.w. memberikan sesuatu kepada orang ramai padahal saya ada di tengah orang-orang tersebut, maka aku takut Rasulullah s.a.w. tidak memberikan sesuatu kepadaku disebabkan oleh hal yang tidak disukai dariku. Beliau berkata: lalu Umar masuk menemui Nabi s.a.w. dan menceritakan peristiwa yang dialami oleh Abdurrahman bin Auf, lalu Rasulullah s.a.w. berkata: Saya tidak marah kepadanya akan tetapi telah menyerahkannya kepada keimanannya.

    8. Orang yang sudah bahagia dalam perut ibunya

    Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata: manakala Abdurrahman bin Auf terlelap sebentar kemudian bangun kembali lalu bercerita: sesungguhnya telah datang kepadaku dua orang malaikat yang berperawakan menakutkan lalu keduanya berkata: ikuti bersama kami untuk diadukan kepada Allah. Ia berkata: lalu keduanya dijumpai oleh seorang malaikat maka berkata: mau dibawa kemana lelaki tersebut? Keduanya menjawab: kami mau mengadukannya kepada Allah. Ia berkata: lepaskanlah ia karena sesungguhnya ia telah dituliskan sebagai lelaki bahagia sedangkan ia masih dalam kandungan ibunya.

    9. Keilmuannya

    Ibnu Abbas r.a. bahwa ketika Umar menuju ke Syam dan manakala sampai di Sara' beliau dikabarkan bahwa Syam telah dilanda oleh penyakit waba' (penyakit menular), lalu mengumpulkan semua shahabat Rasulullah s.a.w. dan meminta pendapat, sehingga muncullah berbagai pendapat namun beliau menyetujui pendapat untuk kembali (agar tidak meneruskan perjalanan). Tiba-tiba muncullah Abdurrahman bin Auf yang menghilang beberapa saat karena buang hajat lalu berkata: Sesungguhnya saya sangat mengerti masalah ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: apabila terjadi penyakit menular di suatu tempat maka janganlah kamu masuk ke dalamnya dan apabila terjadi di suatu tempat sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya karena lari dari penyakit tersebut.

    10. Rujukan Umar

    Anas r.a. menceritakan bahwa peminum khamar Nabi SAW dijatuhkan hukuman jilid dengan pelepah kurma dan sandal sebanyak empat puluh kali dan demikian juga Abu Bakar. Seterusnya Anas r.a. menceritakan ketika Umar diangkat menjadi Khalifah: sesungguhnya orang kampung telah datang ke kota, apa pendapat kalian tentang hukum peminum khamar? Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: kita menetapkan hukumannya di bawah hukuman hudud maka (Umarpun) menetapkan hukuman sebanyak delapan puluh kali jilid.

    11. Ketawadhuannya

    Walaupun beliau merupakan sosok shahabat Nabi s.a.w. yang telah dijanjikan masuk syurga namun beliau titel tersebut tidak menyebabkan beliau lupa diri. Sa'id bin Jubair berkata: Abdurrahman bin Auf tidak dapat dibedakan di antara hamba sahayanya.

    Wafat

    Abdurrahman bin Auf meninggal pada tahun 31H, dalam pendapat lain disebutkan pada tahun 32H ketika berumur 75tahun. Dalam pendapat lain disebutkan berumur 72tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi' yang diimami oleh Utsman berdasarkan wasiatnya. Diriwayatkan oleh Ibnu al-Najjar di dalam kitab Akhbar al-Madinah dengan sanadnya dari Abdurrahman bn Humaid dari Bapaknya berkata: ketika ajal hendak menjemputnya Aisyah mengirimkan seseorang kepadanya supaya dikuburkan di sisi Rasulullah s.a.w. dan kedua saudaranya, maka ia menjawab: saya tidak mau menyempitkan ruang rumahmu karena sesungguhnya saya telah berjanji kepada Ibnu Maz'un siapa saja yang meninggal maka akan dikuburkan di sisi sahabatnya dan dengan demikian makam Utsman bin Maz'un dan Abdurrahman bin Auf berada di sisi qubah Ibrahim bin Nabi s.a.w.

    Harta Warisan

    Abdurrahman bin Auf meninggalkan dua puluh delapan anak lelaki dan delapan anak perempuan. Hal yang sangat menarik sekali bahwa walaupun sudah menyumbangkan hampir keseluruhan hartanya di jalan Allah SWT. namun beliau masih meninggalkan harta warisan yang sangat banyak sekali. Dalam sebuah riwayat dari Muhammad, beliau menceritakan bahwa di antara harta peninggalan Abdurrahman bin Auf adalah emas murni sehingga tangan para tukang merasa kewalahan (lecet) untuk membagikannnya dan empat orang isterinya masing-masing menerima harta warisan sebanyak delapan puluh ribu dinar.

    Abu Amr berkata: beliau adalah seorang pedagang sukses dalam bidang bidang perniagaan, sehingga mendapatkan laba yang sangat banyak dan meninggalkan sebanyak seribu unta, tiga ratus kambing, seratus kuda perang yang digembalakan di daerah Naqi' dan mempunyai lahan pertanian sehingga kebutuhan keluarganya setahun dipasok dari hasil tanaman tersebut.
    ,
    Zaid bin ‘Amr bin Nufail (ayah Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu) membawakan bait-bait syair tersebut, lalu dia memandang ke arah Ka’bah seraya berucap, “Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu, wahai Tuhanku. Aku datang untuk memenuhi panggilan-Mu dengan sebenar-benarnya.”


    Zaib bin ‘Amr bin Nufail merupakan putra dari paman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Dia hidup sebelum Islam datang dan sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan fitrah atau tabiatnya yang lurus, dia pun mendapat petunjuk untuk menyembah Allah, sehingga dia tidak pernah menyembah berhala-berhala ataupun menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala itu seperti yang biasa dilakukan oleh kaum musyrikin di Makkah pada saat itu.


    Dia pernah berkata kepada penduduk Makkah, “Wahai kaum Quraisy, Allah telah menurunkan hujan untuk kalian, menumbuhkan tanaman untuk kalian, dan menciptakan kambing untuk kalian, tetapi mengapa kalian menyembelih binatang-binatang ini untuk selain Allah? Bagaimana hal ini bisa terjadi?”


    Mendengar ini, Khaththab bin ‘Amr bin Nufail pun berdiri dan memukul wajahnya, lalu dia berkata kepadanya: ”Celakalah kamu, sungguh kita sudah terlalu bersabar terhadapmu.”


    Selanjutnya, Khaththab menyiksanya dengan siksaan yang pedih, hingga akhirnya Zaid pun terpaksa keluar dari Makkah. Dia tidak pernah kembali ke Makkah, kecuali dengan sembunyi-sembunyi. Hal itu karena dia merasa takut kepada pamannya, Khaththab ayah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.


    Di Makkah Zaid bin ‘Amr mengadakan pertemuan dengan Waraqah bin Naufal, ‘Abdullah bin Jahsy, dan Umaimah binti Harits (bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Selain mereka, dalam pertemuan itu ada juga ‘Ustman bin Huwairits.


    Zaid berkata kepada mereka, “Demi Allah, kalian semua telah mengetahui bahwa kaum kalian telah menyimpang dari ajaran –ajaran agama Ibrahim. Mengapa kita berthawaf mengelilingi batu yang tidak bisa mendengar dan melihat serta tidak dapat memberikan mudharat dan juga manfaat ? Wahai kaum, carilah agama untuk kalian semua. Demi Tuhan, kita bukanlah apa-apa.”


    Mereka kemudian berpencar ke segala penjuru negeri untuk mencari agama yang benar. Adapun Waraqah bin Naufal telah memeluk agama Masehi, sementara ‘Abdullah bin Jahsy dan ‘Utsman bin Huwairits masih melanjutkan pencarian terhadap agama yang benar itu, hingga akhirnya datanglah Islam. ‘Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu pun beriman dan masuk Islam, hingga akhirnya dia terbunuh sebagai syahid dalam perang Uhud, lalu dia dijuluki dengan julukan Asy-Syahid Al-Mujadda’ (syahid yang tangannya terpotong).


    Tinggalah Zaid bin ‘Amr yang telah pergi ke negeri Syam untuk mencari agama Ibrahim ‘alaihissalam, hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pendeta di Syam. Dia menceritakan hal itu kepada pendeta tersebut. Sang pendeta pun berkata, “Sesungguhnya kamu sedang mencari agama yang sudah tidak ada. Oleh karena itu, pulanglah ke Makkah, karena sesungguhnya Allah akan mengutus kepada kalian orang yang memperbaharui agama Ibrahim itu. Pergilah, lalu berimanlah kepadanya dan ikutilah dia!”


    Ketika Zaid masih berada dalam perjalanan menuju Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus sebagai rasul. Saat itu Zaid belum mengetahui bahwa Rasulullah telah diutus. Sayangnya, kematian telah lebih dulu menjemputnya sebelum dia beriman. Dia telah dibunuh oleh sebagian orang Badui (Arab pedalaman).


    Ketika kisah ini diceritakan kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menceritakan tentang sosok Zaid, “ Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (nanti) seorang diri sebagai satu umat (yang terpisah).”


    Menjelang hembusan nafas terakhirnya, Zaid berkata, “Ya Allah, jika Engkau memang tidak menghendaki kebaikan ini (agama Islam) untukku, maka janganlah Engkau halangi anakku (Sa’id) darinya.”


    Doa Zaid ini masih menggantung di antara langit dan bumi, hingga pada suatu hari ketika Sa’id sedang berada di Makkah, dia mengetahui bahwa Rasulullah telah diutus. Karenanya, dia beserta istrinya, Fatimah binti Khaththab, yang merupakan saudara perempuan ‘Umar bin Khaththab, segera beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.


    Keislaman mereka berdua itu terjadi pada awal munculnya Islam, sebelum masuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam rumah Arqam bin Abi Arqam (Daarul Arqam).


    Said masih merahasiakan keimanannya dan dia sangat sabar menghadapi siksaan yang berasal dari kaumnya, sehingga dia pun tidak diusir dari Makkah, seperti yang dialami sebelumnya oleh orang tuanya. Akan tetapi kemudian, ‘Umar mengetahui keimanan Sa’id. ‘Umar pun bermaksud membunuhnya, lalu dia memukulnya hingga darah mengalir dari wajah Sa’id . Akan tetapi, kesabaran Sa’id dalam menghadapi sikap ‘Umar inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab masuknya ‘Umar radhiallahu ‘anhu ke dalam Islam.


    Sa’id pergi berhijrah ke Madinah bersama istrinya, Fathimah. Sebelum terjadinya perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memilihnya dan mengutusnya untuk pergi bersama Thalhah bin Ubaidillah dengan tujuan agar dia mengetahui jumlah pasukan kaum musyrikin dan mematai gerak-gerik mereka. Oleh karena itu, Sa’id pun tidak ikut serta dalam peperangan Badar. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberinya bagian ghanimah (harta rampasan) yang diperoleh dalam perang tersebut. Dia dianggap seperti orang yang ikut serta dalam perang itu.


    Setelah itu Sa’id ikut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bertempur dengan menggunakan pedangnya dan beriman dengan menggunakan hatinya. Bahkan pada suatu hari dia pernah berada bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira’ dengan para shahabat lainnya. Ketika itu tiba-tiba gunung Hira’ bergetar, maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Tenanglah, wahai Hira’, karena sungguhnya tidak ada yang berada di atasmu, kecuali seorang nabi, seorang yang sangat jujur (ash-shiddiq), dan seorang syahid.”


    Ketika orang-orang bertanya kepada Sa’id, “Siapa sajakah yang bersamamu pada saat itu ?”


    Sa’id pun menjawab, “Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair, Thalhah, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Malik.”


    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang Sa’id, “Sa’id bin Zaid di surga.”


    Sa’id merupakan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoinya.


    Dia memegang teguh janjinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memerangi kaum musyrikin di negeri Persia, sehingga melalui tangannya dan juga tangan shahabat-shahabatnya, Allah pun memadamkan api yang menjadi sesembahan kaum Majusi ; dan berkat perjuangannya pula para penduduk Persia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


    Setelah penaklukan terhadap negeri Persia selesai, Sa’id tidak tinggal diam. Dia mengangkat pedang dan barang-barangnya untuk pergi ke negeri-negeri lain yang sedang di perangi oleh kaum muslimin. Kali ini sasarannya adalah negeri Syam dimana pada saat itu sedang berlangsung pertempuran yang sangat menentukan antara kaum muslimin dengan bangsa Romawi, yaitu perang Yarmuk.


    Di atas kertas, nampaknya kemenangan lebih dekat kepada pasukan Romawi, karena jumlah mereka sangat banyak, sementara jumlah kaum muslimin sangat sedikit.


    Kekalahan bangsa Romawi berarti jatuhnya negeri Syam secara keseluruhan ke tangan kaum muslimin. Karenanya, kedua pasukan itu pun sama-sama mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi pertempuran ini. Pasukan Romawi datang dengan jumlah personel seratus dua puluh ribu pasukan, sedangan jumlah pasukan kaum muslimin hanya dua puluh empat ribu pasukan saja. Kedua pasukan ini saling berhadap-hadapan.


    Para pendeta dan uskup datang sambil membawa salib-salib mereka sambil mengeraskan suara mereka untuk membaca doa-doa. Ketakutan pun merasuk ke dalam hati kaum muslimin ketika pasukan Romawi mengulang-ulang doa-doa tersebut. Suara mereka laksana gunung-gunung yang bergeser dari tempatnya.


    Pemimpin kaum muslimin yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah berdiri untuk memberikan khutbah kepada kaum muslimin. Dia berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian. Bersabarlah, sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan akan menyebabkan kalian diridhai oleh Tuhan. Tetaplah kalian diam sampai aku memberikan perintah kepada kalian. Ingatlah selalu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”


    Diantara kaum muslimin, keluarlah seorang laki-laki. Dia berkata kepada Abu Ubaidah, “Wahai Abu Ubaidah, sekarang aku akan pergi dengan harapan aku dapat gugur sebagai syahid dan aku akan keluar untuk memerangi mereka. Apakah kamu mempunyai pesan yang akan kamu kirimkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”


    Abu Ubaidah menjawab, “Ya. Kirimkan salam dari kami untuk beliau, dan katakan kepada beliau bahwa kami telah mengetahui bahwa apa yang dijanjikan oleh Tuhan kami kepada kami adalah benar.”


    Melihat itu, Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu pun berkata, “Ketika aku melihat lelaki tersebut telah menaiki kudanya, menghunus pedangnya, dan melesat menuju musuh-musuh Allah guna memerangi mereka, aku pun meletakkan lututku ke tanah, lalu aku melemparkan anak panahku ke arah seorang anggota pasukan berkuda dari bangsa Romawi. Saat itu Allah menghilangkan rasa takut dari dalam hatiku. Maka, aku pun langsung masuk menembus barisan musuh. Aku memerangi mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada kami.”


    Abu Ubaidillah telah mengetahui dengan baik kesungguhan keimanan Sa’id. Karenanya Abu Ubaidillah pun menyerahkan misi penaklukan Damaskus kepada Sa’id, lalu dia menjadikan Sa’id sebagai wali (gubernur) disana. Ketika semua orang yang hidup pada masanya sudah berpulang keharibaan Allah, Sa’id bin Zaid masih tetap hidup sampai masa Dinasti Bani Umayyah.
    Masa-masa akhir hayat Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu


    Pada masa Dinasti Bani Umayyah, Sa’id bin Zaid menangisi shahabat-shahabat Islam yang telah meninggal sebelumnya. Tinggalah dia seorang diri menyaksikan terjadinya fitnah (kerusuhan) dan menyaksikan bagaimana kehidupan dunia dengan segala macam perhiasannya telah masuk ke dalam hati kaum muslimin, maka Sa’id pun lebih memilih untuk kembali ke Madinah dan tinggal disana. Pada waktu itu yang menjadi gubernur di Madinah adalah Marwan bin Hakam bin ‘Ash.


    Saat itu seorang wanita yang bernama Arwa binti Uwais keluar, lalu dia berkata, “Sesungguhnya Sa’id telah mencuri tanahku dan telah memasukkannya ke bagian tanahnya.” Sungguh perkataan itu sangat menyakitkan hati Sa’id bin Zaid, shahabat Rasulullah dan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira berupa surga. Karenanya, Sa’id pun berkata, “Ya Allah, jika dia berbohong, maka hilangkanlah penglihatannya dan bunuhlah ia di tanahnya sendiri.”


    Seketika itu pula hujan turun dari langit sampai diperbatasan tanah yang menurut wanita itu Sa’id telah melampaui batas tersebut. Seketika mata wanita itupun menjadi buta dan hanya selang beberapa hari, wanita itu terjatuh dalam sebuah lubang yang berada di tanah miliknya hingga dia meninggal dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan doa Sa’id bin Zaid yang terzhalimi dan telah dituduh sebagai seorang pembohong dan pendusta.


    Pada suatu pagi penduduk Madinah dikagetkan oleh suara seorang pelayat yang menangisi kepergian Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Peristiws itu terjadi pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, tepatnya pada tahun ke-50 Hijriyah. Dia di kuburkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Salam sejahtera baginya.


    Sumber:Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Anak, Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Irsyad Baitus Salam, 2006

Blog Archive